17-01-2007 SPK UJP
BERKAH BAGI KANTIN BU SURI DI BALIK RAIBNYA ADAM AIR
Oleh Rahma Saiyed
Tidak hanya Bakri (53), nelayan dari dusun Loji'E, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulsel yang ketiban 'durian runtuh' karena mengantongi Rp50 juta atas temuannya berupa serpihan sayap belakang kanan pesawat Adam Air KI-574 yang hilang sejak 1 Januari 2007.
Tetapi, keberkahan serupa juga dinikmati Bu Suri (35), pemilik kantin yang sehari-hari beroperasi di dalam kawasan Pangkalan TNI Angkatan Udara Lanud) Hasanuddin Makassar.
Sejak pesawat Adam Air Boeing 737-400 ini dinyatakan hilang di wilayah udara Sulawesi Selatan dan Barat, Lanud Hasanuddin Makassar yang biasanya hanya didatangi oleh personil berseragam biru tua dan muda ini, tiba-tiba menjadi ramai dikunjungi para pemburu berita, baik dari luar maupun dalam Kota Makassar.
Para wartawan menggunakan kantin Bu Suri ini untuk melepas lelah usai mengirim laporannya ke redaksi masing-masing, atau untuk mengaso guna menunggu keterangan pers dari pihak SAR yang dipimpin Dan Lanud, Marsma Eddy Suyanto.
Kantin Bu Suri yang sederhana namun bersih ini rasanya menjadi tempat yang paling enak untuk bercanda dan berdialog di kalangan wartawan sambil mengganjal perut dengan hidangan-hidangan sederhana dan murah. Spontan kantin yang biasanya menjadi tempat makan para anggota TNI-AU ini, tiba-tiba berubah menjadi 'sekretariat' para wartawan pada waktu-waktu makan pagi dan siang.
Tidak heran, penghasilan yang diperoleh Bu Suri yang akrab ini meningkat menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan biasanya.
Dia mengaku biasanya hanya memperoleh sekitar Rp100 ribu per hari, tetapi setelah pesawat Adam Air ini hilang dan Lanud Hasanuddin jadi Posko SAR, pendapatannya kini rata-rata mencapai Rp300 ribu per hari.
Di dalam kawasan Lanud Hasanuddin Makassar ini, terdapat beberapa kantin, tetapi para wartawan lebih senang mendatangi kantin Bu Sur karena harganya lebih murah.
Bila memesan 'intel' atau indomie telur misalnya, cukup mengeluarkan Rp3.000, sedangkan untuk jenis makanan tradisional lainnya seperti satu porsi nasi lengkap dengan ikan dan sayur mayurnya, hanya sekitar Rp5.000 - Rp6.000/porsi.
Karena itu, tidak heran bila daftar harga dan menu yang ditawarkan kantin Bu Sur sesuai dengan selera sebagian wartawan termasuk para anggota TNI AU dan karyawan yang bertugas di Lanud Hasanuddin ini.
Meski tiba-tiba omzet dagangannya ini meningkat drastis, namun Bu Suri tidak ingin memanfaatkan peluang tersebut untuk menaikkan harga, kendati beberapa orang telah menyarankan kepadanya untuk 'mempermainkan' harga dan memanfaatkan situasi seperti ini.
"Saya kasihan lihat mereka, tidak tega menaikkan harga. Biarlah harganya tetap seperti ini, yang penting lakunya banyak, sehingga pendapatan tetap naik," ujar Bu Suri dengan menambahkan, kalau ia menaikkan harga, bisa-bisa pengunjung beralih ke tempat lain sehingga omzetnya bisa jatuh kembali.
Salah satu kekurangan dari kantin yang dikelola isteri Sersan Suryanto ini adalah tidak selalu tersedia makanan ringan yang sering dicari-cari pelanggan yakni pisang goreng.
Ibu yang tinggal di asrama TNI AU ini mengaku tidak bisa menjual pisang goreng setiap hari, karena Pasar Maros tempatnya berbelanja hanya buka pada hari Selasa dan Kamis, sehingga hanya pada hari itulah ia bisa berbelanja pisang untuk digoreng.
"Pisang goreng tidak ada karena hari ini bukan hari pasar," kata Sur dengan senyum yang menghiasi wajahnya, ketika salah seorang pengunjung memesan pisang goreng.
Saking seringnya para pelanggan meminta berbagai macam makanan dan minuman ringan seperti sprite, coca cola, fanta, fresh tea dan makanan ringan lainnya, Bu Suri kadang memaksakan diri untuk berbelanja ke Kota Makassar dalam jumlah yang banyak.
Meski demikian, para wartawan dan sejumlah pelanggannya tetap setia mengunjungi kantin tersebut. Tidak ada memang yang spesial dengan kantin Bu Suri yang telah mendapat kepercayaan dari istri Danlanud ini untuk melayani para tamu kehormatan TNI AU di Lanud Hasanuddin Makassar.
Bahkan salah seorang wartawan mengaku telat menemukan kantin ini. "Seandainya saya mengetahuinya lebih dahulu, mungkin uang saya tidak cepat habis hanya untuk membeli makanan dan minuman dalam kawasan Pangkalan TNI AU Hasanuddin ini," katanya.
Pasalnya, sebelum perutnya "tertambat" di kantin, wartawan dari media nasional, Kasim (nama samaran) ia terpaksa merogoh kantongnya Rp12 ribu sekali makan.
Ia mengaku merasa tertolong dengan kehadiran kantin yang dikenal murah meriah ini.
Salah seorang wartawan yang sengaja dikirim dari Jakarta untuk peliputan musibah Adam Air di Kota Makassar juga menuturkan hal yang sama bahwa dirinya lebih senang makan di kantin ini dibanding harus memesan makanan di hotel mengingat tarifnya pun jauh lebih mahal dan kurang mengeyangkan. Sebelum dan setelah jumpa pers digelar di Posko Adam Air Lanud Hasanuddin, biasanya Bambang menyempatkan mengunjungi kantin untuk makan atau sekedar minum kopi hangat. "Bila pagi-pagi tidak sempat sarapan di penginapan, biasanya makan di kantin ini sambil menunggu jumpa pers," ujarnya dengan tertawa.
Hal senada diakui salah seorang anggota TNI-AU, Prada Agus yang menjadikan kantin ini sebagaia tempat sarapan. Maklum, lelaki berusia 24 tahun ini belum berkeluarga dan nyaris tidak memiliki waktu untuk menyiapkan/membuat sarapan.
(T.K-RS/B/K002/K002) 17-01-2007 01:01:13
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Wednesday, January 17, 2007
Saturday, January 13, 2007
BAKRI AKAN BELI PERAHU DENGAN UANG DARI WAPRES
2007 SPK UJP
BAKRI AKAN BELI PERAHU DENGAN UANG DARI WAPRES
Oleh Rahma Saiyed
Seusai menemukan serpihan badan pesawat Boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adam Air, yang sempat hilang selama beberapa hari, Bakri, nelayan asal dusun LojiE, Desa Bojo, Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, mendapat rejeki yang tak terduga.
Lelaki berusia 53 tahun itu merupakan penemu pertama serpihan badan pesawat Boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adam Air nomor penerbangan KI 574 yang hilang bersama 102 penumpang dan awaknya dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado, Senin 1 Januari 2007.
Mata Bakri berkaca-kaca saat menerima sebuah amplop berisi uang tunai Rp50 juta dari Komandan Pangkalan Udara Hasanuddin Marsma Eddy Suyanto di Posko SAR Gabungan, Hasanuddin, Makassar, Sabtu.
Uang itu merupakan hadiah Wakil Presiden atas jasanya melaporkan benda berupa ekor penyeimbang bagian belakang kanan (tail horizontal stabilizer) pesawat yang ditemukannya pada Rabu (10/1).
"Terima kasih Bapak Jusuf Kalla," ujarnya dengan mata berkaca-kaca dan memerah usai menerima amplop tersebut.
Bakri yang didampingi seorang tetangganya, Abdillah dan Marsma Eddy Suyanto di hadapan para wartawan usai menerima penghargaan tersebut, dengan polos mengatakan, ia akan menggunakan uang tersebut untuk membeli perahu yang dilengkapi dengan mesin agar ia tidak bersusah payah lagi mengayuh sampan untuk mencari ikan di laut.
"Saya mau beli perahu untuk dipakai cari ikan di laut," ujar ayah lima orang anak ini dan menambahkan bahwa ia tidak akan meninggalkan profesi sebagai nelayan yang telah digelutinya selama ini meski telah mendapatkan rezeki nomplok.
Perahu yang dilengkapi dengan mesin tersebut akan mampu meningkatkan pendapatannya yang selama ini sekitar Rp30.000/hari.
Mengenai sampan lama yang telah menghidupinya selama ini, Bakri mengaku belum tahu mau.
Suami Masulang (51) yang memiliki nama lengkap Bakri Bin Hafifah itu mengisahkan, sebelum dia menemukan sayap pesawat Adam Air, salah satu jaringnya raib terbawa arus laut saat menjala di sekitar Pantai Loji'E, Desa Bojo, tempat tinggalnya, Senin (1/1) sekitar pukul 14.00 Wita.
Hari itu bertepatan dengan ketika pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 574 rute Surabaya-Manado kehilangan kontak dengan menara kontrol (Air Traffic Control-ATC) Bandara Hasanuddin.
Ia pun segera pulang setelah mengetahui jaringnya terbawa arus gelombang pantai Loji'E apalagi cuaca pada saat itu memang sangat buruk. Beruntung Bakri masih memiliki jaring penangkap ikan (bubu) yang terbuat dari bambu.
Pada tanggal 9 Januari sekitar pukul 15.00 Wita, Bakri kembali melaut karena kondisi cuaca cukup bersahabat. Seperti kebiasaannya, ketika Bakri hendak pulang ke rumahnya, ia terlebih dahulu memeriksa bubu tersebut, untuk mengetahui ada tidaknya ikan yang terjaring.
Namun tiba-tiba ia menemukan sebuah benda mirip papan tripleks tersangkut pada bubu tersebut. Ia pun megambilnya dan bergegas pulang ke rumahnya tanpa menghiraukan bubunya lagi.
Ia menyimpan benda itu di bawah kolong rumah panggung yang terbuat dari kayu, tempat tinggal mereka selama ini, tanpa menyangka sama sekali bahwa benda itu ternyata serpihan badan pesawat.
Bakri juga mengaku tidak tau bahwa dunia sedang digegerkan oleh hilangnya pesawat Adam Air di wilayah Sulawesi dan telah 10 hari dicari namun belum juga ada tanda-tanda akan ditemukan.
Untuk mengetahui benda apa gerangan yang ditemukannya itu, Bakri pun kemudian membangunkan istrinya untuk memberitahukan Abdillah, salah seorang tetangga mereka yang berprofesi sebagai guru SD di dusun tersebut.
Sang guru itu pun meneliti barang tersebut dan memberitahukan bahwa benda itu adalah bagian dari pesawat yang diyakini merupakan pesawat Adam Air yang hilang.
Pada 10 Januari, Bakri dan Abdillah kemudian memberitahukan penemuannya itu ke polisi.
Kepala Polisi Wilayah Sulsel Komber Genot Haryanto, setelah meyakini benda itu bagian dari pesawat, mengontak Komandan Lanud Hasanuddin Marsma Eddy Suyanto, untuk melaporkan ikhwal temuan Bakri tersebut.
Kombes Genot Haryanto mengaku langsung yakin bahwa barang ini sangat berharga karena akan menjadi petunjuk awal untuk membuka tabir hilangnya pesawat tersebut.
Sebuah tim dari Lanud Hasanuddin kemudian dikirim untuk menjemput benda itu guna diteliti, dan benda itu tiba di Lanud Kamis (11/1) sekitar pukul 03.00 Wita.
Setelah melalui penelitian dan konfirmasi dengan pihak Adam Air, Dan Lanud Marsma TNI Eddy Suyanto akhirnya mengumumkan kepada pers Kamis pagi bahwa benda itu adalah bagian dari pesawat Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan KI-574 yang dicari-cari selama 10 hari terakhir ini.
Serpihan itu kemudian terbukti menjadi awal dari menemuan bagian lain dari pesawat yang hilang tersebut. (T.K-RS/B/s018/s018)
13-01-2007 13:34:42
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
BAKRI AKAN BELI PERAHU DENGAN UANG DARI WAPRES
Oleh Rahma Saiyed
Seusai menemukan serpihan badan pesawat Boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adam Air, yang sempat hilang selama beberapa hari, Bakri, nelayan asal dusun LojiE, Desa Bojo, Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, mendapat rejeki yang tak terduga.
Lelaki berusia 53 tahun itu merupakan penemu pertama serpihan badan pesawat Boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adam Air nomor penerbangan KI 574 yang hilang bersama 102 penumpang dan awaknya dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado, Senin 1 Januari 2007.
Mata Bakri berkaca-kaca saat menerima sebuah amplop berisi uang tunai Rp50 juta dari Komandan Pangkalan Udara Hasanuddin Marsma Eddy Suyanto di Posko SAR Gabungan, Hasanuddin, Makassar, Sabtu.
Uang itu merupakan hadiah Wakil Presiden atas jasanya melaporkan benda berupa ekor penyeimbang bagian belakang kanan (tail horizontal stabilizer) pesawat yang ditemukannya pada Rabu (10/1).
"Terima kasih Bapak Jusuf Kalla," ujarnya dengan mata berkaca-kaca dan memerah usai menerima amplop tersebut.
Bakri yang didampingi seorang tetangganya, Abdillah dan Marsma Eddy Suyanto di hadapan para wartawan usai menerima penghargaan tersebut, dengan polos mengatakan, ia akan menggunakan uang tersebut untuk membeli perahu yang dilengkapi dengan mesin agar ia tidak bersusah payah lagi mengayuh sampan untuk mencari ikan di laut.
"Saya mau beli perahu untuk dipakai cari ikan di laut," ujar ayah lima orang anak ini dan menambahkan bahwa ia tidak akan meninggalkan profesi sebagai nelayan yang telah digelutinya selama ini meski telah mendapatkan rezeki nomplok.
Perahu yang dilengkapi dengan mesin tersebut akan mampu meningkatkan pendapatannya yang selama ini sekitar Rp30.000/hari.
Mengenai sampan lama yang telah menghidupinya selama ini, Bakri mengaku belum tahu mau.
Suami Masulang (51) yang memiliki nama lengkap Bakri Bin Hafifah itu mengisahkan, sebelum dia menemukan sayap pesawat Adam Air, salah satu jaringnya raib terbawa arus laut saat menjala di sekitar Pantai Loji'E, Desa Bojo, tempat tinggalnya, Senin (1/1) sekitar pukul 14.00 Wita.
Hari itu bertepatan dengan ketika pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 574 rute Surabaya-Manado kehilangan kontak dengan menara kontrol (Air Traffic Control-ATC) Bandara Hasanuddin.
Ia pun segera pulang setelah mengetahui jaringnya terbawa arus gelombang pantai Loji'E apalagi cuaca pada saat itu memang sangat buruk. Beruntung Bakri masih memiliki jaring penangkap ikan (bubu) yang terbuat dari bambu.
Pada tanggal 9 Januari sekitar pukul 15.00 Wita, Bakri kembali melaut karena kondisi cuaca cukup bersahabat. Seperti kebiasaannya, ketika Bakri hendak pulang ke rumahnya, ia terlebih dahulu memeriksa bubu tersebut, untuk mengetahui ada tidaknya ikan yang terjaring.
Namun tiba-tiba ia menemukan sebuah benda mirip papan tripleks tersangkut pada bubu tersebut. Ia pun megambilnya dan bergegas pulang ke rumahnya tanpa menghiraukan bubunya lagi.
Ia menyimpan benda itu di bawah kolong rumah panggung yang terbuat dari kayu, tempat tinggal mereka selama ini, tanpa menyangka sama sekali bahwa benda itu ternyata serpihan badan pesawat.
Bakri juga mengaku tidak tau bahwa dunia sedang digegerkan oleh hilangnya pesawat Adam Air di wilayah Sulawesi dan telah 10 hari dicari namun belum juga ada tanda-tanda akan ditemukan.
Untuk mengetahui benda apa gerangan yang ditemukannya itu, Bakri pun kemudian membangunkan istrinya untuk memberitahukan Abdillah, salah seorang tetangga mereka yang berprofesi sebagai guru SD di dusun tersebut.
Sang guru itu pun meneliti barang tersebut dan memberitahukan bahwa benda itu adalah bagian dari pesawat yang diyakini merupakan pesawat Adam Air yang hilang.
Pada 10 Januari, Bakri dan Abdillah kemudian memberitahukan penemuannya itu ke polisi.
Kepala Polisi Wilayah Sulsel Komber Genot Haryanto, setelah meyakini benda itu bagian dari pesawat, mengontak Komandan Lanud Hasanuddin Marsma Eddy Suyanto, untuk melaporkan ikhwal temuan Bakri tersebut.
Kombes Genot Haryanto mengaku langsung yakin bahwa barang ini sangat berharga karena akan menjadi petunjuk awal untuk membuka tabir hilangnya pesawat tersebut.
Sebuah tim dari Lanud Hasanuddin kemudian dikirim untuk menjemput benda itu guna diteliti, dan benda itu tiba di Lanud Kamis (11/1) sekitar pukul 03.00 Wita.
Setelah melalui penelitian dan konfirmasi dengan pihak Adam Air, Dan Lanud Marsma TNI Eddy Suyanto akhirnya mengumumkan kepada pers Kamis pagi bahwa benda itu adalah bagian dari pesawat Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan KI-574 yang dicari-cari selama 10 hari terakhir ini.
Serpihan itu kemudian terbukti menjadi awal dari menemuan bagian lain dari pesawat yang hilang tersebut. (T.K-RS/B/s018/s018)
13-01-2007 13:34:42
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Monday, January 8, 2007
ABU ALI BARU RAJIN SALAT DI ATAS SEKOCI PENYELAMAT
08-01-2007 PUM UJP
ABU ALI BARU RAJIN SALAT DI ATAS SEKOCI PENYELAMAT
Abu Ali (26) tak henti-hentinya mengucapkan kata 'Alhamdullillah' setelah berhasil diselamatkan KM Mandiri VI setelah terombang ambing di lautan selama 10 hari bersama 14 penumpang dan ABK KM Senopati yang tenggelam 30 Desember 2006 di perairan Mandalika, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengakui bahwa dirinya benar-benar takjub saat doa dan usaha mereka selama berada di lautan lepas untuk selalu melaksanakan salat berjamaah di atas perahu sekoci, akhirnya dikabulkan Sang Maha Kuasa.
"Padahal saya selama ini jarang sekali solat," kata Ali yang berjanji akan mencium kaki ibunya, Muntama (50), bila kembali ke daerah asalnya, Lamongan, Jawa Timur. Ia sungguh yakin bahwa doa ibunyalah yang membuat dirinya selamat dari bencana yang amat menakutkan itu.
Dalam perjalanan dari Pelabuhan Makassar menuju Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo menggunakan ambulans, Ali menuturkan bahwa saat KM Senopati oleng akibat diterjang badai angin dan ombak, beberapa penumpang menceburkan diri ke laut sebelum kapal itu tenggelam. Sebagai awak kapal, Ali langsung melepaskan perahu sekoci dan segera naik ke atasnya yang kemudian disusul sejumlah penumpang dan awak kapal lainnya.
Satu persatu, Ali bersama dengan mereka yang telah berada di atas perahu sekoci itu, menarik beberapa penumpang yang berada di sekitarnya hingga berjumlah 15 orang. Mereka pun tidak tahu harus berbuat apa lagi selain pasrah kepada Tuhan dan ikhlas mengikuti ke mana saja ombak dan angin membawa mereka. Selama 10 hari berada di lautan, Ali bersama dengan 14 teman seperjuangan hanya makan biskuit yang tersimpan dalam sekoci. "Kami makannya sedikit-sedikit, satu biskuit dibagi menjadi empat hingga enam potong," ujar ABK yang baru sembilan bulan hijrah ke PT Prima Vista, pemilik KM Senopati Nusantara yang tenggelam itu.
Untuk tetap menjaga kesehatan, korban selamat ini hanya mengandalkan air hujan. Pembagian air minumnya pun digilir satu per satu dengan menggunakan penutup senter atau dengan tutup botol aqua. Bila menjelang malam tiba, Ali mengaku sangat gembira melihat ada cahaya di tengah lautan dan berharap cahaya itu datang mendekat ke arah mereka dan segera memberi pertolongan.
Tetapi Ali bersama dengan rekan-rekannya yang lain tiba-tiba menjadi sedih saat cahaya itu hilang di kegelapan malam. Hingga suatu hari, tepat tanggal 7 Januari sekitar pukul 21.00 Wita, selepas mereka melaksanakan salat Isya secara berjamaah, tiba-tiba muncul sebuah cahaya lagi.
Cahaya itu semakin mendekat ke arah mereka hingga akhirnya tampak jelas terlihat sebuah kapal. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka segera meniupkan sempritan. Kapal itu kemudian semakin mendekat ke arah mereka hingga akhirnya datang memberikan pertolongan. Satu persatu, korban KM Senopati ini segera dievakuasi. "Perasaan lega dan rasa syukur yang tak terhingga sulit kami ungkapkan," ujar Ali seraya mengatakan bahwa perjuangan mereka mengarungi lautan dengan arah yang tidak jelas akhirnya membuahkan hasil.
Air mata Ali tiba-tiba menetes saat mengingat saudara seperjuangannya, Agus (18) asal Solo, meninggal dalam perjalanan setelah berhasil dievakuasi. "Dia memang punya penyakit asma," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Setidaknya, kata Ali, musibah ini memiliki hikmah tersendiri bagi dirinya. Selain mendapatkan hidayah, dia juga mendapat banyak saudara, saudara yang menemaninya dalam perjuangan mengarungi lautan yang luas ini.
Ali sempat berpikir mereka akan terdampar di Pulau Selayar dengan pertimbangan bahwa saat ini memasuki musim barat dengan arah angin ke timur. Dia mengakui, dua kali sekocil yang mereka tumpangi itu nyaris tiba di daratan, tetapi tiba-tiba datang angin dan ombak yang menghempaskan mereka hingga kemali ke lautan.
Yang jelas katanya, sebagai tanda syukurnya, Ali hanya akan bersimpuh di hadapan ibundanya tercinta yang kini telah menjanda. Berbeda halnya dengan Naslim (19) yang rencananya akan membuat syukuran bersama dengan seluruh anggota keluarga bila telah tiba di kampung halamannya.
Lelaki yang beralamat di Demak ini mengaku benar-benar tidak percaya bila dirinya bisa selamat bersama dengan ke-13 rekannya yang lain. Pasalnya, kata Naslim, saat KM Senopati itu tenggelam, dia tertidur lelap dan baru tersadar saat dirinya sudah berada di air. "Untung saya ditarik oleh seseorang yang telah berada di atas sekoci," ujarnya.
Tetapi yang jelas, katanya, keselamatan mereka itu tidak terlepas dari doa mereka dengan salat berjamaah. Hal ini diakui pula Abdul Wahid (24) asal Kudus. Dia mengakui bahwa keselamatan mereka itu tentunya tidak terlepas dari doa orang-orang yang mereka cintai. Wahid sendiri mengaku stres selama terombang-ambing di lautan 10 hari. Namun dia kembali bangkit dan terus berjuang, optimistis bisa selamat setelah mengingat istri dan anaknya yang baru berumur lima bulan. Seolah-olah jiwa-jiwa orang yang disayanginya itu datang memberikan spirit. Padahal, katanya, saat KM Senopati itu teggelam, ia terjebak di dalam kapal, tetapi beruntung dia berhasil menyelamtkan diri dengan cara berenang, mencari celah-celah jalan keluar dari kungkungan kapal nahas itu. Dijemput Gubernur Sulsel Abu Ali, Naslim dan Abdul Wahid adalah tiga dari 15 penumpang KM Senopati Nusantara yang diselamatkan KM Mandiri Enam pada Minggu malam pukul 21.05 Wita. Mereka dievakuasi ke Makassar, Sulawesi Selatan, dan tiba di Pelabuhan Soekarnno-Hatta Makassar, Senin petang, namun seorang di antaranya meninggal dunia di atas kapal tersebut sebelum merapat di pelabuhan. Gubernur Sulsel HM. Amin Syam, Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Boedihardjo dan Wakil Walikota Makassar Andi Hery Iskandar menjemput para korban di tangga kapal di dermaga Soekarno-Hatta pada pukul 17.30 Wita. Di dermaga, sebanyak 16 ambulans telah menanti. Para korban ditandu dari atas kapal oleh tim relawan dan langsung masuk ke dalam ambulans yang kemudian membawa mereka ke Rumah Sakit Wahidin Soedirohusodo untuk mendapat perawatan. Sementara itu, jenazah Agus DH (18) asal Solo dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk diotopsi. Nama-nama para korban tersebut seperti tercantum dalam daftar yang dibagikan Basarnas kepada wartawan masing-masing Sunaryo asal Semarang, Abu Ali (Lamongan), Adi Kurniawan (Brebes), Rachim (Kolaka, Sultra), keempatnya adalah ABK kapal nahas tersebut. Sementara ke-11 penumpangnya adalah M. Maslim (Demak), Fanik Gunawan (alamat tidak jelas), Baiman (Cilacap , Sigit Hariyanto (Pangkalan Bun/Kalteng), Abdul Wahid (Kudus), Roni (Demak), Sarito (Pekalongan), Sugiyono (Kudus), Suriani (Dinas Pertanian Kalteng), Agus DH (Solo-meninggal) dan Suryadi (Pekalongan). Mualim II KM. Mandiri Enam Eko Supriantono kepada wartawan menjelaskan, saat mereka melintas di sekitar pulau Talak dekat Selat Makassar pukul sekitar pukul 21.05 Wita, jurumudi jaga dan perwira jaga mendengar ada orang meniup pluit lalu berteriak-teriak minta tolong.
Kedua ABK itu kemudian melaporkan hal itu kepada nakhoda Amirullah Kamin yang kemudian memerintahkan jurumudi untuk melakukan manuver dan mencari sumber suara.
Para ABK kemudian menemukan sebuah sekoci penyelamat (life craft) terapung-apung berisi 15 orang yang terus berusaha mendayung untuk mendekati kapal. "Para korban itu kemudian kami angkat satu per satu termasuk 'life-craft' yang mereka tumpangi sejak musibah itu terjadi 29 Desember 2006," ujarnya dan menambahkan, upaya penyelamatan itu hanya berlangsung sekitar 30 menit, lalu mereka melanjutkan pelayanan ke Makassar. Kondisi para korban saat ditemukan, ujar Eko, semuanya dalam keadaan lemah karena kekurangan cairan dan kulit terkelupas akibat panas matahari, namun Agus (18) asal Solo memang dalam kondisi yang agak kritis.
"Sampai di atas kapal, mereka kami beri minum, makan dan mengganti pakaian-pakaian mereka, sehingga kondisi mereka berangsur pulih. Namun tiba-tiba, tadi pagi, Agus mengalami sesak napas dan akhirnya meninggal dunia," ujar Eko dan mengatakan, menurut korban ia memang menderita penyakit asma. Mengutip pengakuan para korban, Eko menyebutkan, beberapa hari setelah kapal yang memuat 600 penumpang lebih itu tenggelam di perairan Mandalika, Kabupaten Jepara hari Jumat (29/12), ada sebuah kapal asing melintas di dekat mereka, namun rupanya kapal itu tidak mendengarkan teriakan mereka sehingga kapal itu berlalu tanpa memberi pertologan. Sejak kapal itu tenggelam, ke-15 penumpang itu memang berada dalam satu life-craft itu, dan hingga KM Mandiri Enam milik PT. Gurita Lintas Samudera, mereka semua dalam keadaan selamat. KM. Mandiri VI bertonase 1.600 GRT dengan panjang 126 meter membawa 27 ABK itu berangkat dari Probolinggo, Jawa Timur hari Sabtu (6/1) dengan tujuan akhir Halmahera, Maluku, dan berniat singgah ke Makassar untuk mengisi air dan bahan bakar. (T.K-RS/B/K002/K002) 08-01-2007
23:49:43
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
ABU ALI BARU RAJIN SALAT DI ATAS SEKOCI PENYELAMAT
Abu Ali (26) tak henti-hentinya mengucapkan kata 'Alhamdullillah' setelah berhasil diselamatkan KM Mandiri VI setelah terombang ambing di lautan selama 10 hari bersama 14 penumpang dan ABK KM Senopati yang tenggelam 30 Desember 2006 di perairan Mandalika, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengakui bahwa dirinya benar-benar takjub saat doa dan usaha mereka selama berada di lautan lepas untuk selalu melaksanakan salat berjamaah di atas perahu sekoci, akhirnya dikabulkan Sang Maha Kuasa.
"Padahal saya selama ini jarang sekali solat," kata Ali yang berjanji akan mencium kaki ibunya, Muntama (50), bila kembali ke daerah asalnya, Lamongan, Jawa Timur. Ia sungguh yakin bahwa doa ibunyalah yang membuat dirinya selamat dari bencana yang amat menakutkan itu.
Dalam perjalanan dari Pelabuhan Makassar menuju Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo menggunakan ambulans, Ali menuturkan bahwa saat KM Senopati oleng akibat diterjang badai angin dan ombak, beberapa penumpang menceburkan diri ke laut sebelum kapal itu tenggelam. Sebagai awak kapal, Ali langsung melepaskan perahu sekoci dan segera naik ke atasnya yang kemudian disusul sejumlah penumpang dan awak kapal lainnya.
Satu persatu, Ali bersama dengan mereka yang telah berada di atas perahu sekoci itu, menarik beberapa penumpang yang berada di sekitarnya hingga berjumlah 15 orang. Mereka pun tidak tahu harus berbuat apa lagi selain pasrah kepada Tuhan dan ikhlas mengikuti ke mana saja ombak dan angin membawa mereka. Selama 10 hari berada di lautan, Ali bersama dengan 14 teman seperjuangan hanya makan biskuit yang tersimpan dalam sekoci. "Kami makannya sedikit-sedikit, satu biskuit dibagi menjadi empat hingga enam potong," ujar ABK yang baru sembilan bulan hijrah ke PT Prima Vista, pemilik KM Senopati Nusantara yang tenggelam itu.
Untuk tetap menjaga kesehatan, korban selamat ini hanya mengandalkan air hujan. Pembagian air minumnya pun digilir satu per satu dengan menggunakan penutup senter atau dengan tutup botol aqua. Bila menjelang malam tiba, Ali mengaku sangat gembira melihat ada cahaya di tengah lautan dan berharap cahaya itu datang mendekat ke arah mereka dan segera memberi pertolongan.
Tetapi Ali bersama dengan rekan-rekannya yang lain tiba-tiba menjadi sedih saat cahaya itu hilang di kegelapan malam. Hingga suatu hari, tepat tanggal 7 Januari sekitar pukul 21.00 Wita, selepas mereka melaksanakan salat Isya secara berjamaah, tiba-tiba muncul sebuah cahaya lagi.
Cahaya itu semakin mendekat ke arah mereka hingga akhirnya tampak jelas terlihat sebuah kapal. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka segera meniupkan sempritan. Kapal itu kemudian semakin mendekat ke arah mereka hingga akhirnya datang memberikan pertolongan. Satu persatu, korban KM Senopati ini segera dievakuasi. "Perasaan lega dan rasa syukur yang tak terhingga sulit kami ungkapkan," ujar Ali seraya mengatakan bahwa perjuangan mereka mengarungi lautan dengan arah yang tidak jelas akhirnya membuahkan hasil.
Air mata Ali tiba-tiba menetes saat mengingat saudara seperjuangannya, Agus (18) asal Solo, meninggal dalam perjalanan setelah berhasil dievakuasi. "Dia memang punya penyakit asma," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Setidaknya, kata Ali, musibah ini memiliki hikmah tersendiri bagi dirinya. Selain mendapatkan hidayah, dia juga mendapat banyak saudara, saudara yang menemaninya dalam perjuangan mengarungi lautan yang luas ini.
Ali sempat berpikir mereka akan terdampar di Pulau Selayar dengan pertimbangan bahwa saat ini memasuki musim barat dengan arah angin ke timur. Dia mengakui, dua kali sekocil yang mereka tumpangi itu nyaris tiba di daratan, tetapi tiba-tiba datang angin dan ombak yang menghempaskan mereka hingga kemali ke lautan.
Yang jelas katanya, sebagai tanda syukurnya, Ali hanya akan bersimpuh di hadapan ibundanya tercinta yang kini telah menjanda. Berbeda halnya dengan Naslim (19) yang rencananya akan membuat syukuran bersama dengan seluruh anggota keluarga bila telah tiba di kampung halamannya.
Lelaki yang beralamat di Demak ini mengaku benar-benar tidak percaya bila dirinya bisa selamat bersama dengan ke-13 rekannya yang lain. Pasalnya, kata Naslim, saat KM Senopati itu tenggelam, dia tertidur lelap dan baru tersadar saat dirinya sudah berada di air. "Untung saya ditarik oleh seseorang yang telah berada di atas sekoci," ujarnya.
Tetapi yang jelas, katanya, keselamatan mereka itu tidak terlepas dari doa mereka dengan salat berjamaah. Hal ini diakui pula Abdul Wahid (24) asal Kudus. Dia mengakui bahwa keselamatan mereka itu tentunya tidak terlepas dari doa orang-orang yang mereka cintai. Wahid sendiri mengaku stres selama terombang-ambing di lautan 10 hari. Namun dia kembali bangkit dan terus berjuang, optimistis bisa selamat setelah mengingat istri dan anaknya yang baru berumur lima bulan. Seolah-olah jiwa-jiwa orang yang disayanginya itu datang memberikan spirit. Padahal, katanya, saat KM Senopati itu teggelam, ia terjebak di dalam kapal, tetapi beruntung dia berhasil menyelamtkan diri dengan cara berenang, mencari celah-celah jalan keluar dari kungkungan kapal nahas itu. Dijemput Gubernur Sulsel Abu Ali, Naslim dan Abdul Wahid adalah tiga dari 15 penumpang KM Senopati Nusantara yang diselamatkan KM Mandiri Enam pada Minggu malam pukul 21.05 Wita. Mereka dievakuasi ke Makassar, Sulawesi Selatan, dan tiba di Pelabuhan Soekarnno-Hatta Makassar, Senin petang, namun seorang di antaranya meninggal dunia di atas kapal tersebut sebelum merapat di pelabuhan. Gubernur Sulsel HM. Amin Syam, Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Boedihardjo dan Wakil Walikota Makassar Andi Hery Iskandar menjemput para korban di tangga kapal di dermaga Soekarno-Hatta pada pukul 17.30 Wita. Di dermaga, sebanyak 16 ambulans telah menanti. Para korban ditandu dari atas kapal oleh tim relawan dan langsung masuk ke dalam ambulans yang kemudian membawa mereka ke Rumah Sakit Wahidin Soedirohusodo untuk mendapat perawatan. Sementara itu, jenazah Agus DH (18) asal Solo dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk diotopsi. Nama-nama para korban tersebut seperti tercantum dalam daftar yang dibagikan Basarnas kepada wartawan masing-masing Sunaryo asal Semarang, Abu Ali (Lamongan), Adi Kurniawan (Brebes), Rachim (Kolaka, Sultra), keempatnya adalah ABK kapal nahas tersebut. Sementara ke-11 penumpangnya adalah M. Maslim (Demak), Fanik Gunawan (alamat tidak jelas), Baiman (Cilacap , Sigit Hariyanto (Pangkalan Bun/Kalteng), Abdul Wahid (Kudus), Roni (Demak), Sarito (Pekalongan), Sugiyono (Kudus), Suriani (Dinas Pertanian Kalteng), Agus DH (Solo-meninggal) dan Suryadi (Pekalongan). Mualim II KM. Mandiri Enam Eko Supriantono kepada wartawan menjelaskan, saat mereka melintas di sekitar pulau Talak dekat Selat Makassar pukul sekitar pukul 21.05 Wita, jurumudi jaga dan perwira jaga mendengar ada orang meniup pluit lalu berteriak-teriak minta tolong.
Kedua ABK itu kemudian melaporkan hal itu kepada nakhoda Amirullah Kamin yang kemudian memerintahkan jurumudi untuk melakukan manuver dan mencari sumber suara.
Para ABK kemudian menemukan sebuah sekoci penyelamat (life craft) terapung-apung berisi 15 orang yang terus berusaha mendayung untuk mendekati kapal. "Para korban itu kemudian kami angkat satu per satu termasuk 'life-craft' yang mereka tumpangi sejak musibah itu terjadi 29 Desember 2006," ujarnya dan menambahkan, upaya penyelamatan itu hanya berlangsung sekitar 30 menit, lalu mereka melanjutkan pelayanan ke Makassar. Kondisi para korban saat ditemukan, ujar Eko, semuanya dalam keadaan lemah karena kekurangan cairan dan kulit terkelupas akibat panas matahari, namun Agus (18) asal Solo memang dalam kondisi yang agak kritis.
"Sampai di atas kapal, mereka kami beri minum, makan dan mengganti pakaian-pakaian mereka, sehingga kondisi mereka berangsur pulih. Namun tiba-tiba, tadi pagi, Agus mengalami sesak napas dan akhirnya meninggal dunia," ujar Eko dan mengatakan, menurut korban ia memang menderita penyakit asma. Mengutip pengakuan para korban, Eko menyebutkan, beberapa hari setelah kapal yang memuat 600 penumpang lebih itu tenggelam di perairan Mandalika, Kabupaten Jepara hari Jumat (29/12), ada sebuah kapal asing melintas di dekat mereka, namun rupanya kapal itu tidak mendengarkan teriakan mereka sehingga kapal itu berlalu tanpa memberi pertologan. Sejak kapal itu tenggelam, ke-15 penumpang itu memang berada dalam satu life-craft itu, dan hingga KM Mandiri Enam milik PT. Gurita Lintas Samudera, mereka semua dalam keadaan selamat. KM. Mandiri VI bertonase 1.600 GRT dengan panjang 126 meter membawa 27 ABK itu berangkat dari Probolinggo, Jawa Timur hari Sabtu (6/1) dengan tujuan akhir Halmahera, Maluku, dan berniat singgah ke Makassar untuk mengisi air dan bahan bakar. (T.K-RS/B/K002/K002) 08-01-2007
23:49:43
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
YOSO PELUK ISTERI DI DALAM MIMPI
08-01-2007 SPK UJP
YOSO PELUK ISTERI DI DALAM MIMPI
Oleh Rahma Saiyed
"Mas, kalau mau ketemu saya, seperti ini saja ya," ujar Yoso
Siswowiyono (55) dengan mata berkaca-kaca mengenang isterinya yang hingga kini belum diketahui nasibnya.
Juminem, istrinya adalah salah satu penumpang pesawat Adam Air yang hilang sejak Senin, 1 Januari 2007.
Yoso yang kini menginap di hotel Transit Makassar menceritakan pertemuan dengan isterinya, Juminen, di dalam mimpi indahnya pada hari Jumat malam (5/1).
"Kemarin malam saya mimpi bertemu dengan istri. Dia sempat minta dipeluk dan mengatakan; mas kalau mau ketemu dengan saya, seperti ini saja," tuturnya sedih.
Dia memaknai mimpi itu bahwa dirinya tidak akan pernah lagi
bertemu dengan istrinya di alam nyata. Tapi di lain pihak, ia tetap optimis bahwa puteranya Faturrohman (16) yang berada dalam satu pesawat degan ibunya masih hidup.
Yoso yang tinggal di Manado itu juga bercerita mimpinya yang lain saat berada di pinggir pantai ada dua pohon kelapa.
Dalam mimpi itu, dia sedang memanjat salah satu pohon kelapa dan berhasil mengambil buah yang sudah tua. Kemudian Yoso berniat mengambil kelapa muda pada pohon berikutnya tetapi tiba-tiba ditegur seseorang untuk tidak mengambil buah tersebut.
Menurut kepercayaan orang Jawa, Yoso yang kelahiran Surabaya dan kini menjadi transmigran di Manado itu, mimpi itu bermakna bahwa bila buah kelapa tersebut berhasil diambil, itu berarti ada salah seorang anggota keluarga yang jatuh sakit atau meninggal.
Dia mengibaratkan buah kelapa tua yang berhasil diambilnya itu adalah sosok sang istri, sedangkan buah kelapa muda yang tidak jadi diambilnya adalah anaknya, Faturrohman.
Optimisme ini pun semakin kuat saat anaknya yang lain, Suyanto (24) berhasil mengontak Faturrohman melalui ponselnya beberapa jam setelah pesawat naas itu dinyatakan hilang kontak dengan menara kontrol (ATC) bandara Hasanuddin, Senin peang (1/1).
Keyakinan akan nasib anaknya ini membuat dia semakin bersemangat dan tabah menanti kabar atas nasib pesawat naas dan penumpangnya itu, terutama saat Wapres HM Jusuf Kalla menyatakan bahwa pencarian akan terus dilakukan sampai pesawat itu ditemukan.
Muslina Said (48), keluarga korban lain, juga tetap yakin bahwa suaminya, Bram Tangahu (50) masih hidup.
Ibu seorang puteri yang bekerja di Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini menuturkan bahwa pesawat
yang ditumpangi suaminya ini berada di dalam hutan tapi dia sendiri tidak mengetahui hutan tersebut ada di mana.
Bisikan batinnya mengenai nasib suaminya yang menjabat Kepala
Dinas Kehutanan ini semakin terasa saat ia makan. Dia mengenal kebiasaan suaminya yang selalu membawa bekal air minum bila bepergian jauh sehingga diyakini dengan perbekalan tersebut akan membuatnya bertahan hidup apalagi didukung dengan fisik atletis suaminya.
Keyakian akan nasib keluarganya yang selamat dalam insiden pesawat itu juga dirasakan Aris Sujitno (55). Ia mengaku berhasil menghubungi ponsel anaknya, Bobby (29).
"Saya melamun, membayangkan orang yang berjalan di depan hotel itu adalah Bobby dan tiba-tiba langsung mengubungi ponselnya pada hari Sabtu (6/1)," tutur Aris yang mengaku merinding saat berhasil menghubungi ponsel anaknya tersebut.
"Saya tidak tahu harus bilang apa kalau dia nanti menjawab panggilan itu," katanya dengan mata berkaca-kaca. Tetapi sayang, hubungan telepon itu tiba-tiba terputus. Saat berusaha dihubungi kembali, ponsel tersebut sudah tidak aktif, hanya terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut berada di luar jangkauan," ujarnya. Mulai tersenyum
Meksipun suasana duka masih terus melanda hotel Transit I dan II tempat para keluarga korban diinapkan pihak Adam Air selama enam
hari terakhir, namun sejumlah wajah sudah mulai mampu tersenyum dan bercanda satu dengan yang lain.
Wajah-wajah yang tadinya selalu dibasahi oleh air mata, kini mulai tampak senyum merekah, seolah-olah tidak sabar lagi menanti sang kekasih yang sebentar lagi akan bertemu.
Ucapan syukur "alhamdulillah" sempat terdengar dari mulut salah seorang keluarga korban Adam Air setelah Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa berdasarkan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, proses pencarian harus terus dilakukan tanpa dibatasi waktu dan biaya.
Pemerintah siap menanggung berapa pun dana yang dibutuhkan dalam proses pencarian sebanyak 102 penumpang bersama enam orang awak pesawat yang ikut dalam penerbangan tersebut.
"Perintah presiden, pencarian harus dilakukan terus tanpa ada
batas waktu. Soal dana, tidak usah dipikirkan," jelas Kalla dihadapan para keluarga korban dalam sebuah pertemuan di Pangkalan TNI AU Hasanuddin Makassar seraya memberikan rasa simpatinya dengan mengatakan bahwa duka yang dialami keluarga para korban juga duka bagi bangsa dan negara.
Beberapa diantara para keluarga para korban ini, ada yang terlihat mengelus dada dan mengusap wajahnya dengan kedua belah tangganya. Tidak ada memang yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan mereka saat mendengar pernyataan Kalla ini, yang terlihat di wajah mereka adalah sesungging senyuman yang sempat terlintas dari bibir para keluarga korban dengan mata berkaca-kaca.
Kegembiraan makin bertambah karena orang nomor dua di Indonesia asal Bone, Sulsel ini membolehkan para keluarga korban ikut dalam proses pencarian melalui pesawat udara.
Beberapa keluarga korban ada yang mengaku merasa terhibur dengan perhatian pemerintah ini. Hal ini membuat mereka semakin optimis bila dapat menemukan anggota keluarganya dalam keadaan selamat.
Perasaan lega ini juga dialami Presiden Direktur PT Adam Sky
Connection, Adam Suherman setelah mendengar pernyataan Jusuf Kalla.
Dia menganggap bahwa hal tersebut merupakan 'support' bagi dirinya, terutama bagi perusahaan untuk tetap mencari pesawat itu hingga ditemukan.
Ia mengaku tidak mau berpikiran macam-macam mengenai kondisi pesawat beserta penumpang dan awaknya.
"Saya kini hanya fokus dimana keberadaan pesawat itu sekarang," ujarnya dan mengaku tetap optimis dan yakin bila semuanya dalam kondisi baik-baik.
"Musibah ini sangat memukul saya," jelasnya dengan mata berkaca-kaca saat menuturkan bahwa ia merasa kehilangan sejumlah rekannya termasuk sang pilot, Revi dan copilot Yoga yang selama ini sangat dekat dengan dirinya.
Adam pun berjanji akan memberikan pelayanan terbaik dan menanggung semua biaya keluarga korban selama berada di Makassar namun pengusaha muda ini belum bisa memberikan kepastian apa-apa mengenai santunan untuk para keluarga korban.
"Saya belum bisa bilang soal santunan, yang jelas kita masih focus dulu pada upaya menemukan pesawat dan penumpang serta awaknya,"
tutur Adam dengan nada lemah. (T.K-RS/B/T010/T010) 08-01-2007 07:53:54
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
YOSO PELUK ISTERI DI DALAM MIMPI
Oleh Rahma Saiyed
"Mas, kalau mau ketemu saya, seperti ini saja ya," ujar Yoso
Siswowiyono (55) dengan mata berkaca-kaca mengenang isterinya yang hingga kini belum diketahui nasibnya.
Juminem, istrinya adalah salah satu penumpang pesawat Adam Air yang hilang sejak Senin, 1 Januari 2007.
Yoso yang kini menginap di hotel Transit Makassar menceritakan pertemuan dengan isterinya, Juminen, di dalam mimpi indahnya pada hari Jumat malam (5/1).
"Kemarin malam saya mimpi bertemu dengan istri. Dia sempat minta dipeluk dan mengatakan; mas kalau mau ketemu dengan saya, seperti ini saja," tuturnya sedih.
Dia memaknai mimpi itu bahwa dirinya tidak akan pernah lagi
bertemu dengan istrinya di alam nyata. Tapi di lain pihak, ia tetap optimis bahwa puteranya Faturrohman (16) yang berada dalam satu pesawat degan ibunya masih hidup.
Yoso yang tinggal di Manado itu juga bercerita mimpinya yang lain saat berada di pinggir pantai ada dua pohon kelapa.
Dalam mimpi itu, dia sedang memanjat salah satu pohon kelapa dan berhasil mengambil buah yang sudah tua. Kemudian Yoso berniat mengambil kelapa muda pada pohon berikutnya tetapi tiba-tiba ditegur seseorang untuk tidak mengambil buah tersebut.
Menurut kepercayaan orang Jawa, Yoso yang kelahiran Surabaya dan kini menjadi transmigran di Manado itu, mimpi itu bermakna bahwa bila buah kelapa tersebut berhasil diambil, itu berarti ada salah seorang anggota keluarga yang jatuh sakit atau meninggal.
Dia mengibaratkan buah kelapa tua yang berhasil diambilnya itu adalah sosok sang istri, sedangkan buah kelapa muda yang tidak jadi diambilnya adalah anaknya, Faturrohman.
Optimisme ini pun semakin kuat saat anaknya yang lain, Suyanto (24) berhasil mengontak Faturrohman melalui ponselnya beberapa jam setelah pesawat naas itu dinyatakan hilang kontak dengan menara kontrol (ATC) bandara Hasanuddin, Senin peang (1/1).
Keyakinan akan nasib anaknya ini membuat dia semakin bersemangat dan tabah menanti kabar atas nasib pesawat naas dan penumpangnya itu, terutama saat Wapres HM Jusuf Kalla menyatakan bahwa pencarian akan terus dilakukan sampai pesawat itu ditemukan.
Muslina Said (48), keluarga korban lain, juga tetap yakin bahwa suaminya, Bram Tangahu (50) masih hidup.
Ibu seorang puteri yang bekerja di Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini menuturkan bahwa pesawat
yang ditumpangi suaminya ini berada di dalam hutan tapi dia sendiri tidak mengetahui hutan tersebut ada di mana.
Bisikan batinnya mengenai nasib suaminya yang menjabat Kepala
Dinas Kehutanan ini semakin terasa saat ia makan. Dia mengenal kebiasaan suaminya yang selalu membawa bekal air minum bila bepergian jauh sehingga diyakini dengan perbekalan tersebut akan membuatnya bertahan hidup apalagi didukung dengan fisik atletis suaminya.
Keyakian akan nasib keluarganya yang selamat dalam insiden pesawat itu juga dirasakan Aris Sujitno (55). Ia mengaku berhasil menghubungi ponsel anaknya, Bobby (29).
"Saya melamun, membayangkan orang yang berjalan di depan hotel itu adalah Bobby dan tiba-tiba langsung mengubungi ponselnya pada hari Sabtu (6/1)," tutur Aris yang mengaku merinding saat berhasil menghubungi ponsel anaknya tersebut.
"Saya tidak tahu harus bilang apa kalau dia nanti menjawab panggilan itu," katanya dengan mata berkaca-kaca. Tetapi sayang, hubungan telepon itu tiba-tiba terputus. Saat berusaha dihubungi kembali, ponsel tersebut sudah tidak aktif, hanya terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut berada di luar jangkauan," ujarnya. Mulai tersenyum
Meksipun suasana duka masih terus melanda hotel Transit I dan II tempat para keluarga korban diinapkan pihak Adam Air selama enam
hari terakhir, namun sejumlah wajah sudah mulai mampu tersenyum dan bercanda satu dengan yang lain.
Wajah-wajah yang tadinya selalu dibasahi oleh air mata, kini mulai tampak senyum merekah, seolah-olah tidak sabar lagi menanti sang kekasih yang sebentar lagi akan bertemu.
Ucapan syukur "alhamdulillah" sempat terdengar dari mulut salah seorang keluarga korban Adam Air setelah Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa berdasarkan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, proses pencarian harus terus dilakukan tanpa dibatasi waktu dan biaya.
Pemerintah siap menanggung berapa pun dana yang dibutuhkan dalam proses pencarian sebanyak 102 penumpang bersama enam orang awak pesawat yang ikut dalam penerbangan tersebut.
"Perintah presiden, pencarian harus dilakukan terus tanpa ada
batas waktu. Soal dana, tidak usah dipikirkan," jelas Kalla dihadapan para keluarga korban dalam sebuah pertemuan di Pangkalan TNI AU Hasanuddin Makassar seraya memberikan rasa simpatinya dengan mengatakan bahwa duka yang dialami keluarga para korban juga duka bagi bangsa dan negara.
Beberapa diantara para keluarga para korban ini, ada yang terlihat mengelus dada dan mengusap wajahnya dengan kedua belah tangganya. Tidak ada memang yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan mereka saat mendengar pernyataan Kalla ini, yang terlihat di wajah mereka adalah sesungging senyuman yang sempat terlintas dari bibir para keluarga korban dengan mata berkaca-kaca.
Kegembiraan makin bertambah karena orang nomor dua di Indonesia asal Bone, Sulsel ini membolehkan para keluarga korban ikut dalam proses pencarian melalui pesawat udara.
Beberapa keluarga korban ada yang mengaku merasa terhibur dengan perhatian pemerintah ini. Hal ini membuat mereka semakin optimis bila dapat menemukan anggota keluarganya dalam keadaan selamat.
Perasaan lega ini juga dialami Presiden Direktur PT Adam Sky
Connection, Adam Suherman setelah mendengar pernyataan Jusuf Kalla.
Dia menganggap bahwa hal tersebut merupakan 'support' bagi dirinya, terutama bagi perusahaan untuk tetap mencari pesawat itu hingga ditemukan.
Ia mengaku tidak mau berpikiran macam-macam mengenai kondisi pesawat beserta penumpang dan awaknya.
"Saya kini hanya fokus dimana keberadaan pesawat itu sekarang," ujarnya dan mengaku tetap optimis dan yakin bila semuanya dalam kondisi baik-baik.
"Musibah ini sangat memukul saya," jelasnya dengan mata berkaca-kaca saat menuturkan bahwa ia merasa kehilangan sejumlah rekannya termasuk sang pilot, Revi dan copilot Yoga yang selama ini sangat dekat dengan dirinya.
Adam pun berjanji akan memberikan pelayanan terbaik dan menanggung semua biaya keluarga korban selama berada di Makassar namun pengusaha muda ini belum bisa memberikan kepastian apa-apa mengenai santunan untuk para keluarga korban.
"Saya belum bisa bilang soal santunan, yang jelas kita masih focus dulu pada upaya menemukan pesawat dan penumpang serta awaknya,"
tutur Adam dengan nada lemah. (T.K-RS/B/T010/T010) 08-01-2007 07:53:54
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Saturday, January 6, 2007
PRAMUGARI ITU JANJI BELI RUMAH BAGI ORTUNYA
06-01-2007 SPK UJP
PRAMUGARI ITU JANJI BELI RUMAH BAGI ORTUNYA
Oleh Rahma Saiyed
Janji Dina Oktarina (19), seorang pramugari pesawat Adam Air yang hingga kini belum diketahui nasibnya bersama 102 penumpang dan awaknya, membeli rumah menjadi kenangan yang sangat kuat bagi keluarganya.
Dina, anak sulung dari tiga bersaudara, pernah berjanji akan membelikan orang tuanya sebuah rumah agar anggota keluarga mereka tidak lagi menghuni rumah kontrakan.
Bagi Dina, hidup dengan mengontrak rumah yang dijalani keluarganya saat ini sangat merepotkan, karena sering memaksa mereka berpindah-pindah bila sang pemilik rumah tak lagi mengijinkan mereka mengontrak.
Dina terbilang masih baru bekerja di perusahaan penerbangan bertarif murah itu, yakni baru sekitar sembilan bulan. Tapi dia telah berencana membelikan orang tuanya sebuah rumah dari pendapatan yang disisihkannya selama ini.
Anak pertama dari pasangan Rusmala Dewi (44) dan Sidik (46) itu menjadi tulang punggung bagi kedua orang tuanya. Sidik, ayah Diana, tidak memiliki pekerjaan lagi setelah usaha yang dirintisnya selama beberapa tahun mandek.
Tapi setelah hilangnya pesawat Adam Air Senin, 1 Januari 2007, yang hingga saat ini belum jelas keberadaanya, janji itu tinggal menjadikenangan. Janji tersebut seolah telah terbang bersama Diana tanpa arah dan tujuan yang jelas sampai saat ini.
Namun, kedua orang tuanya mengaku telah ikhlas menerima apapun hasil pencarian tim SAR, mengenai nasib anaknya yang tercinta itu.
Rusmala menuturkan, Dina sempat mengutarakan keengganannya untuk terbang bersama Adam Air pada rute Surabaya - Manado, tetapi anak sulung mereka itu terpaksa melaksanakannya karena takut dipecat.
"Sehari sebelum terbang, yakni Minggu, 31 Desember 2007, dia bilang perasaanya tidak enak dan beberapa bagian anggota tubuhnya terasa pegal mengingat dia baru saja melakukan penerbangan seminggu sebelumnya," tutur Rosmala.
Rosmala pun merasakan kegundahan hatinya yang sulit terkatakan saat melihat miniatur pesawat Adam Air milik Diana yang terletak di atas televisi tiba-tiba terjatuh.
"Saya tidak menyangka bila jatuhnya benda itu merupakan pertanda buruk bagi nasib anak saya," ujar Rosmala dengan nada sedih.
Kini, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah nasib anaknya belum jelas sampai saat ini. Dia juga belum mengetahui soal kesejahteraan anak-anaknya yang lain yakni Indri Rukmana (12) serta Weni Sidik (17) yang menjadi tanggungan Diana selama ini.
Sementara itu, Sidik, ayah Diana, terlihat duduk terdiam di atas tempat tidurnya pada sebuah hotel tempat mereka diinapkan oleh manejemen Adam Air di Makassar. Tatapan matanya tidak pernah lepas ke arah lantai, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Dia sekarang bingung, tidak tahu harus berbuat apa," ujar Rosmala yang mengaku menyimpan firasat yang tidak enak mengenai nasib anaknya. Firasat itu menyebutkan bahwa anaknya kini telah tiada.
"Waktu selesai salat subuh, saya duduk-duduk di depan lobby hotel. Entah sadar atau tidak, saya melihat Diana datang mendekat dengan pakaian putih," tuturnya dengan isak tangis sedih dan mengaku pasrah kepada Allah SWT tentang apapun nasib anaknya.
Do'a bersama
Puluhan keluarga korban pesawat Adam Air berasal dari berbagai daerah seperti Manado, Surabaya, dan Jakarta, hingga kini masih tetap bertahan di Makassar dengan perasaan gundah karena mereka tak kunjung mendapat kepastian mengenai nasib orang-orang yang mereka cintai.
Namun dalam suasana bathin yang sedih dan ketidakpastian itu, mereka mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha kuasa dengan melakukan do'a bersama.
Sudah tiga hari ini, puluhan keluarga korban pesawat Adam Air yang hilang di wilayah Sulawesi, dari kalangan Kristiani, menggelar kebaktian bersama untuk berdo'a dan memuji Tuhan sembari memohon agar pesawat nahas yang hingga kini belum diketahui keberadaannya itu segera ditemukan oleh tim SAR.
Pesawat Boeing 737-400 Adam Air yang ditumpangi 102 penumpang beserta awaknya itu dinyatakan hilang sejak Senin (1/1) dan proses pencarian telah berlangsung selama empat hari.
Para keluarga korban berdoa agar Tuhan menolong tim SAR yang sedang giat melakukan pencarian sehingga para korban segera ditemukan dalam keadaan selamat.
"Setiap manusia menginginkan keselamatan dan kita berharap agar pesawat dan seluruh penumpangnya bisa ditemukan segera," kata Yulius yang mengaku saudaranya bernama Hari Sudaryono (41) termasuk salah satu penumpang pesawat nahas itu.
Kebaktian bersama yang diselingi dengan nyanyian lagu-lagu rohani ini akan terus dilakukan hingga pesawat Adam Air beserta seluruh penumpangnya ditemukan baik dalam keadaan selamat maupun sudah tidak bernyawa lagi.
Hingga saat ini, ujar Yulius yang memimpin ibadah itu, seluruh keluarga para korban masih diliputi ketidakpastian mengenai kabar para kerabat mereka yang berada dalam pesawat tersebut.
Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mengaku kesal dan kecewa terhadap info-info yang berkembang saat ini mengenai kondisi pesawat dan nasib para penumpangnya seperti yang diberitakan sejumlah media massa.
Saat pesawat tersebut dilaporkan telah ditemukan di Desa Rangoan, Kecamatan Matangnga, Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada Selasa (2/1), dirinya bersama anggota keluarga lainnya seolah ?kesetanan? dan bergegas menuju bandara terdekat untuk mendapat tiket pesawat agar bisa segera terbang ke Makassar.
"Kami tidak membawa persiapan apa-apa, cuma baju yang melekat di badan," katanya seraya menyesalkan saat tiba-tiba diumumkan kembali bahwa berita penemuan itu tidak benar.
(T.K-RS/B/s018/s018) 06-01-2007 18:47:46
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
PRAMUGARI ITU JANJI BELI RUMAH BAGI ORTUNYA
Oleh Rahma Saiyed
Janji Dina Oktarina (19), seorang pramugari pesawat Adam Air yang hingga kini belum diketahui nasibnya bersama 102 penumpang dan awaknya, membeli rumah menjadi kenangan yang sangat kuat bagi keluarganya.
Dina, anak sulung dari tiga bersaudara, pernah berjanji akan membelikan orang tuanya sebuah rumah agar anggota keluarga mereka tidak lagi menghuni rumah kontrakan.
Bagi Dina, hidup dengan mengontrak rumah yang dijalani keluarganya saat ini sangat merepotkan, karena sering memaksa mereka berpindah-pindah bila sang pemilik rumah tak lagi mengijinkan mereka mengontrak.
Dina terbilang masih baru bekerja di perusahaan penerbangan bertarif murah itu, yakni baru sekitar sembilan bulan. Tapi dia telah berencana membelikan orang tuanya sebuah rumah dari pendapatan yang disisihkannya selama ini.
Anak pertama dari pasangan Rusmala Dewi (44) dan Sidik (46) itu menjadi tulang punggung bagi kedua orang tuanya. Sidik, ayah Diana, tidak memiliki pekerjaan lagi setelah usaha yang dirintisnya selama beberapa tahun mandek.
Tapi setelah hilangnya pesawat Adam Air Senin, 1 Januari 2007, yang hingga saat ini belum jelas keberadaanya, janji itu tinggal menjadikenangan. Janji tersebut seolah telah terbang bersama Diana tanpa arah dan tujuan yang jelas sampai saat ini.
Namun, kedua orang tuanya mengaku telah ikhlas menerima apapun hasil pencarian tim SAR, mengenai nasib anaknya yang tercinta itu.
Rusmala menuturkan, Dina sempat mengutarakan keengganannya untuk terbang bersama Adam Air pada rute Surabaya - Manado, tetapi anak sulung mereka itu terpaksa melaksanakannya karena takut dipecat.
"Sehari sebelum terbang, yakni Minggu, 31 Desember 2007, dia bilang perasaanya tidak enak dan beberapa bagian anggota tubuhnya terasa pegal mengingat dia baru saja melakukan penerbangan seminggu sebelumnya," tutur Rosmala.
Rosmala pun merasakan kegundahan hatinya yang sulit terkatakan saat melihat miniatur pesawat Adam Air milik Diana yang terletak di atas televisi tiba-tiba terjatuh.
"Saya tidak menyangka bila jatuhnya benda itu merupakan pertanda buruk bagi nasib anak saya," ujar Rosmala dengan nada sedih.
Kini, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah nasib anaknya belum jelas sampai saat ini. Dia juga belum mengetahui soal kesejahteraan anak-anaknya yang lain yakni Indri Rukmana (12) serta Weni Sidik (17) yang menjadi tanggungan Diana selama ini.
Sementara itu, Sidik, ayah Diana, terlihat duduk terdiam di atas tempat tidurnya pada sebuah hotel tempat mereka diinapkan oleh manejemen Adam Air di Makassar. Tatapan matanya tidak pernah lepas ke arah lantai, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Dia sekarang bingung, tidak tahu harus berbuat apa," ujar Rosmala yang mengaku menyimpan firasat yang tidak enak mengenai nasib anaknya. Firasat itu menyebutkan bahwa anaknya kini telah tiada.
"Waktu selesai salat subuh, saya duduk-duduk di depan lobby hotel. Entah sadar atau tidak, saya melihat Diana datang mendekat dengan pakaian putih," tuturnya dengan isak tangis sedih dan mengaku pasrah kepada Allah SWT tentang apapun nasib anaknya.
Do'a bersama
Puluhan keluarga korban pesawat Adam Air berasal dari berbagai daerah seperti Manado, Surabaya, dan Jakarta, hingga kini masih tetap bertahan di Makassar dengan perasaan gundah karena mereka tak kunjung mendapat kepastian mengenai nasib orang-orang yang mereka cintai.
Namun dalam suasana bathin yang sedih dan ketidakpastian itu, mereka mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha kuasa dengan melakukan do'a bersama.
Sudah tiga hari ini, puluhan keluarga korban pesawat Adam Air yang hilang di wilayah Sulawesi, dari kalangan Kristiani, menggelar kebaktian bersama untuk berdo'a dan memuji Tuhan sembari memohon agar pesawat nahas yang hingga kini belum diketahui keberadaannya itu segera ditemukan oleh tim SAR.
Pesawat Boeing 737-400 Adam Air yang ditumpangi 102 penumpang beserta awaknya itu dinyatakan hilang sejak Senin (1/1) dan proses pencarian telah berlangsung selama empat hari.
Para keluarga korban berdoa agar Tuhan menolong tim SAR yang sedang giat melakukan pencarian sehingga para korban segera ditemukan dalam keadaan selamat.
"Setiap manusia menginginkan keselamatan dan kita berharap agar pesawat dan seluruh penumpangnya bisa ditemukan segera," kata Yulius yang mengaku saudaranya bernama Hari Sudaryono (41) termasuk salah satu penumpang pesawat nahas itu.
Kebaktian bersama yang diselingi dengan nyanyian lagu-lagu rohani ini akan terus dilakukan hingga pesawat Adam Air beserta seluruh penumpangnya ditemukan baik dalam keadaan selamat maupun sudah tidak bernyawa lagi.
Hingga saat ini, ujar Yulius yang memimpin ibadah itu, seluruh keluarga para korban masih diliputi ketidakpastian mengenai kabar para kerabat mereka yang berada dalam pesawat tersebut.
Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mengaku kesal dan kecewa terhadap info-info yang berkembang saat ini mengenai kondisi pesawat dan nasib para penumpangnya seperti yang diberitakan sejumlah media massa.
Saat pesawat tersebut dilaporkan telah ditemukan di Desa Rangoan, Kecamatan Matangnga, Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada Selasa (2/1), dirinya bersama anggota keluarga lainnya seolah ?kesetanan? dan bergegas menuju bandara terdekat untuk mendapat tiket pesawat agar bisa segera terbang ke Makassar.
"Kami tidak membawa persiapan apa-apa, cuma baju yang melekat di badan," katanya seraya menyesalkan saat tiba-tiba diumumkan kembali bahwa berita penemuan itu tidak benar.
(T.K-RS/B/s018/s018) 06-01-2007 18:47:46
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Wednesday, January 3, 2007
CUCUKU KINI JADI YATIM PIATU
03-01-2007 SPK UJP
CUCUKU KINI JADI YATIM PIATU
Oleh Rahma Saiyed
Hajjah Mariam (50) tak kuasa menahan luapan emosinya. Mata wanita paruh baya itu sembab dan merah karena tak kuasa menahan air mata, setelah mendengar kabar keberadaan Pesawat Adam Air dengan tujuan Surabaya-Menado yang dinyatakan hilang pada Senin (1/1) belum juga ditemukan.
Warga Gorontalo itu mendatangi Posko Adam Air di Bandara Hasanuddin Makassar bersama degan rombongan Menteri Perhubungan, Hatta Radjasa yang menggunakan pesawat carteran Transwisata jenis Foker 28 pada Selasa (2/1).
Ia ingin memastikan keberadaan anak dan menantunya, Ririn (18)dan Robby (28) yang turut dalam penerbangan naas itu.
Ketika didekati ANTARA, matanya kembali memerah, tapi ia mencoba menahan tangis. Dia mengatakan, perasaannya sangat sedih setelah mengetahui anak dan menantunya itu belum juga tiba dan tidak ada sama sekali kabarnya.
Kesedihannya semakin bertambah setelah ia menyadari bahwa cucunya Alexa (10 bulan) mungkin akan menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya menjadi korban dalam penerbangan pesawat Adam Air itu.
Dia mengaku tidak tahu harus berbuat apa menghadap peristiwa ini. Mariam menuturkan, Ririn sempat melakukan kontak komunikasi dengannya sebelum tinggal landas di Bandara Juanda Surabaya dan memberitahukan bahwa mereka akan tiba di Menado sekitar pukul 16.30 Wita.
Hal ini menjadi kebiasaan Ririn sebelum pasawat yang ditumpanginya itu tinggal landas dan mendarat dengan selamat di daerah tujuan.
Setelah menunggu beberapa jam, info dari Ririn tak kunjung tiba. Mariam pun mengaku mulai was-was dan mendapat firasat buruk.
"Saya jadi gelisah, tidak tenang karena belum ada info apa-apa dari Ririn, apakah ia sudah tiba sudah tiba di Menado atau belum," katanya.
Karena penasaran, Mariam pun menghubungi salah seorang keluarganya untuk mencari tahu informasi dan memastikan apakah pesawat Adam Air yang ditumpangi anaknya itu sudah tiba di Menado.
Tapi upaya yang dilakukannya malah membuat dirinya semakin khawatir akan nasib anaknya. Tidak terpikir olehnya menghubungi pihak Adam Air saat itu karena diakui, Mariam menjadi panik karena anak dan menantunya tak kunjung jua mengabarinya.
Ia pun lantas kaget setelah melihat berita televisi sekitar pukul 20.00 Wita bahwa pesawat Adam Air dengan penerbangan 574 rute Surabaya-Menado dinyatakan hilang di sekitar perairan udara di Makassar.
Petir bagaikan menyambar dadanya, ia tak kuasa menahan tangis setelah mengetahui nasib yang menimpa anak dan menantunya itu.
Rencananya anak dan menantunya akan melanjutkan ke Gorontalo dengan perjalanan darat sesampainya di Bandara Menado.
Ia hanya bisa mengucapkan "Astagfirullah" sambil mengurut dadanya. "Saya tidak tahu harus berbuat apa saat dengar pesawat Adam Air itu hilang, Ririn dan Bobby ada di dalam pesawat itu," ujarnya.
Mariam pun langsung memutuskan berangkat ke Makassar untuk mendapatkan informasi jelas mengenai peristiwa itu dan berharap agar anak dan menantunya itu dapat menemukan pesawat yang naas tersebut dan mengevakuasi para korban.
Setelah kesana-kemari mencari tiket gratis dari Adam Air, akhirnya niat Mariam pun terkabul, meski tidak berhasil mendapatkan tiket penerbangan "free of charge".
Mariam bersama dengan adiknya, Hendra, salah seorang pegawai di Dinas Kesehatan Gorontalo terbang ke Makassar dengan menumpang pesawat carteran yang digunakan Menhub Hatta Radjasa saat pejabat negara itu berkunjung ke Gorontalo.
Hendra menuturkan, saat mengetahui Menhub melakukan kunjungan kerja ke Gorontalo, hal ini tidak disia-siakannya. Hendra pun langsung menghubungi pihak bandara untuk menyatakan niatnya menumpang di pesawat yang digunakan Menteri Perhubungan.
Setelah melakukan proses negosiasi yang cukup lama, akhirnya Hendra dan Mariam tiba juga di Makassar dan langsung mendatangi posko Adam Air.
Di Posko Adam Air Bandara Hasanuddin Makassar, mereka sempat memperlihatkan foto anaknya dan berharap agar segera ditemukan. Mereka mengaku pasrah bila toh akhirnya nanti orang-orang yang dicintainya itu lebih dahulu menghadap Sang Khalik, "Itu berarti cucuku jadi yatim piatu," urainya. (T.K-RS/B/T010/T010) 03-01-2007
08:59:04
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
CUCUKU KINI JADI YATIM PIATU
Oleh Rahma Saiyed
Hajjah Mariam (50) tak kuasa menahan luapan emosinya. Mata wanita paruh baya itu sembab dan merah karena tak kuasa menahan air mata, setelah mendengar kabar keberadaan Pesawat Adam Air dengan tujuan Surabaya-Menado yang dinyatakan hilang pada Senin (1/1) belum juga ditemukan.
Warga Gorontalo itu mendatangi Posko Adam Air di Bandara Hasanuddin Makassar bersama degan rombongan Menteri Perhubungan, Hatta Radjasa yang menggunakan pesawat carteran Transwisata jenis Foker 28 pada Selasa (2/1).
Ia ingin memastikan keberadaan anak dan menantunya, Ririn (18)dan Robby (28) yang turut dalam penerbangan naas itu.
Ketika didekati ANTARA, matanya kembali memerah, tapi ia mencoba menahan tangis. Dia mengatakan, perasaannya sangat sedih setelah mengetahui anak dan menantunya itu belum juga tiba dan tidak ada sama sekali kabarnya.
Kesedihannya semakin bertambah setelah ia menyadari bahwa cucunya Alexa (10 bulan) mungkin akan menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya menjadi korban dalam penerbangan pesawat Adam Air itu.
Dia mengaku tidak tahu harus berbuat apa menghadap peristiwa ini. Mariam menuturkan, Ririn sempat melakukan kontak komunikasi dengannya sebelum tinggal landas di Bandara Juanda Surabaya dan memberitahukan bahwa mereka akan tiba di Menado sekitar pukul 16.30 Wita.
Hal ini menjadi kebiasaan Ririn sebelum pasawat yang ditumpanginya itu tinggal landas dan mendarat dengan selamat di daerah tujuan.
Setelah menunggu beberapa jam, info dari Ririn tak kunjung tiba. Mariam pun mengaku mulai was-was dan mendapat firasat buruk.
"Saya jadi gelisah, tidak tenang karena belum ada info apa-apa dari Ririn, apakah ia sudah tiba sudah tiba di Menado atau belum," katanya.
Karena penasaran, Mariam pun menghubungi salah seorang keluarganya untuk mencari tahu informasi dan memastikan apakah pesawat Adam Air yang ditumpangi anaknya itu sudah tiba di Menado.
Tapi upaya yang dilakukannya malah membuat dirinya semakin khawatir akan nasib anaknya. Tidak terpikir olehnya menghubungi pihak Adam Air saat itu karena diakui, Mariam menjadi panik karena anak dan menantunya tak kunjung jua mengabarinya.
Ia pun lantas kaget setelah melihat berita televisi sekitar pukul 20.00 Wita bahwa pesawat Adam Air dengan penerbangan 574 rute Surabaya-Menado dinyatakan hilang di sekitar perairan udara di Makassar.
Petir bagaikan menyambar dadanya, ia tak kuasa menahan tangis setelah mengetahui nasib yang menimpa anak dan menantunya itu.
Rencananya anak dan menantunya akan melanjutkan ke Gorontalo dengan perjalanan darat sesampainya di Bandara Menado.
Ia hanya bisa mengucapkan "Astagfirullah" sambil mengurut dadanya. "Saya tidak tahu harus berbuat apa saat dengar pesawat Adam Air itu hilang, Ririn dan Bobby ada di dalam pesawat itu," ujarnya.
Mariam pun langsung memutuskan berangkat ke Makassar untuk mendapatkan informasi jelas mengenai peristiwa itu dan berharap agar anak dan menantunya itu dapat menemukan pesawat yang naas tersebut dan mengevakuasi para korban.
Setelah kesana-kemari mencari tiket gratis dari Adam Air, akhirnya niat Mariam pun terkabul, meski tidak berhasil mendapatkan tiket penerbangan "free of charge".
Mariam bersama dengan adiknya, Hendra, salah seorang pegawai di Dinas Kesehatan Gorontalo terbang ke Makassar dengan menumpang pesawat carteran yang digunakan Menhub Hatta Radjasa saat pejabat negara itu berkunjung ke Gorontalo.
Hendra menuturkan, saat mengetahui Menhub melakukan kunjungan kerja ke Gorontalo, hal ini tidak disia-siakannya. Hendra pun langsung menghubungi pihak bandara untuk menyatakan niatnya menumpang di pesawat yang digunakan Menteri Perhubungan.
Setelah melakukan proses negosiasi yang cukup lama, akhirnya Hendra dan Mariam tiba juga di Makassar dan langsung mendatangi posko Adam Air.
Di Posko Adam Air Bandara Hasanuddin Makassar, mereka sempat memperlihatkan foto anaknya dan berharap agar segera ditemukan. Mereka mengaku pasrah bila toh akhirnya nanti orang-orang yang dicintainya itu lebih dahulu menghadap Sang Khalik, "Itu berarti cucuku jadi yatim piatu," urainya. (T.K-RS/B/T010/T010) 03-01-2007
08:59:04
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
Subscribe to:
Posts (Atom)