Friday, March 23, 2007

SITI SANG PENCARI PENDERITA TUBERCOLOSIS

2300101 3/23/2007 09:32:10
SOSOK


SITI SANG PENCARI PENDERITA TUBERCOLOSIS

Makassar, 23/3 (ANTARA) - Memberi penyuluhan, membujuk dan mendampingi para penderita Tuberclosis untuk berobat ke Puskemas adalah pekerjaan yang dilakoni Siti Manuaji (42) saban hari.
Meski menyadari bahwa pekerjaan itu penuh resiko ketularan penyakit berbahaya ini, ibu empat anak ini mengaku tidak mengeluh apalagi takut terinveksi mycobactirum tubeclosis, bakteri penyebab penyakit TBC itu.
Padahal, dari aktivitas yang dijalaninya itu, ia hanya mendapat Rp5.000 perbulan. Nilai yang amat sangat tidak sebanding dengan resiko yang dialaminya jika kelak tertular.
"Saya tidak takut tertular TBC. Semuanya saya serahkan sama Tuhan saja. Kasihan kalau ada orang yang batuk-batuk apalagi sampai mengeluarkan darah, masa kita tidak tolong," kata Siti dengan logat khas Makassar.
Ia mengaku sangat sedih bila melihat orang batuk-batuk hingga mengeluarkan darah, apalagi mereka yang berumur senja.
Itu sebabnya, ia menekuni tugas ini tahun 2002. Sejak itu, sebanyak lima orang penderita Tubercolosis yang ditemukannya, kini telah sembuh berkat ketekunan dan kesabarannya mengajak mereka berobat ke Puskemas.
Menurut dia, tidak semua penderita mau diajak berobat ke Puskesmas, bahkan tidak jarang ia mendapatkan caci-maki bahkan dianggap tukang gosip dan gila urusan.
"Saya cuek saja dikatakan seperti itu karena toh nanti mereka akan sadar sendiri dan merasakan manfaatnya," kata warga Rappocini Makassar ini dengan tersenyum.
Meski penghasilan yang diterimanya terbilang sangat kecil, bahkan hampir-hampir tidak mencukupi kebutuhan keluarganya tetapi Siti merasa cukup senang menggeluti pekerjaan ini.
Sebab dari beberapa penyuluhan yang dilakukannya, ia bisa bertemu dengan banyak orang hingga orang-orang penting di Puskesmas.
"Ya... saya bisa ketemu dengan orang-orang penting dan punya banyak kenalan. Tapi sedihnya itu kalau dicaci maki sama orang," kenang Siti seraya berharap agar pemerintah dapat memperhatikan masa depan anak-anaknya.
Tiga anaknya yang telah lulus SMU hingga saat ini belum mendapatkan pekerjaan, padahal Siti berharap ketiga anaknya itu menjadi tulang punggung untuk membiayai sekolah adiknya dan kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.
Sementara suami Siti, Udu' Daeng Lalang adalah buruh bangunan yang biasanya hanya mendapatkan upah Rp100 ribu hingga Rp250 ribu per bulan.
Siti yang jebolan SMP itu merupakan salah satu dari enam orang kader penyuluh Tb di kota Makassar.
"Saya dapat pengetahuan ini dari beberapa brosur soal Tb yang dibagikan Puskesmas-puskemas," katanya dan manambahkan bahwa pada akhirnya tidak sedikit orang datang kepadanya meminta bantuan sekedar diantar berobat ke Puskemas.
Siti mengakui, penyakit menular TBC ini sangat berbahaya. Setiap tahun, sebanyak dua juta penderita di Indonesia yang meninggal dunia akibat tertular kuman mycobacterium tuberclosis ini.
(T.K-RS/MKS1)
(T.R007/B/T010/T010) 23-03-2007 09:27:56
NNNN

Back


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Saturday, March 10, 2007

TUNANETRA ITU BERTEKAD ANGGOTA KOMNAS HAM

10-03-2007 SPK UJP
PROFIL - TUNANETRA ITU BERTEKAD ANGGOTA KOMNAS HAM


Oleh Rahma Saiyed

Cita-citanya untuk memperjuangkan hak azasi penyandang cacat, yang selama ini kurang mendapat perhatian pemerintah, membuat Saharuddin Daming bertekad menjadi anggota Komnas HAM.
Kebutaan sejak lahir yang dialami Daming tidak menyurutkan niatnya menggapai keinginan itu.
Demi mewujudkan keinginannya agar tetap eksis memperjuangkan HAM, kandidat doktor di Universitas Hasanuddin ini, lantas mengajukan diri menjadi anggota Komnas HAM periode 2007-2012 dan siap bersaing dengan ratusan pelamar lainnya.
Saharuddin adalah satu-satunya pelamar tuna netra, namun ia tidak risih dan tidak ciut nyali untuk bersaing dengan mereka yang normal.
Bahkan, ia berhasil melewati beberapa tahap penyeleksian anggota Komnas HAM seperti penyeleksian pada administratif, uji publik dan dialog publik.
Tinggal beberapa langkah lagi untuk masuk tahap "fit and proper test" yang merupakan tahap penentuan dari perjuangannya itu.
Bagi kalangan aktivis lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa dan advokat di Sulawesi Selatan, lelaki tuna netra kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 39 tahun lalu ini dikenal sebagai pejuang, dan pengacara tangguh.
Disamping itu, Saharuddin juga aktif memberikan konsultasi hukum serta menjadi penasehat ahli Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial dan Perlindungan Masyarakat Sulawesi Selatan.
Ketulusannhya mengabdian kepada masyarakat juga tak diragukan lagi. Saharuddin saat ini aktif mensupervisi beberapa lembaga antara lain, Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Sulsel, Forum Advokasi Penyadaran Hak Azasi Penyandang Cacat, Jaringan Kerja Advokasi Penyelenggaraan Pemilu Yang Adil dan Aksesibel bagi Penyandang Cacat (Jakapasca).
Baru-baru ini, ia juga suskes mengemban amanah dari pemerintah dan masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Ketua Umum Panitia Pekan Olahraga Penyandang Cacat Tingkat Daerah (Porcada) Sulsel.
Buah pikirannya juga banyak dituangkan dalam beberapa artikel yang sering dimuat media lokal maupun nasional.
Ia juga rajin memberikan komentar terhadap isu-isu politik, hukum dan sosial budaya di beberapa stasiun radio di Makassar.
Saharuddin yang kini dikaruniai dua anak ini mengaku optimis dapat lolos dan menjadi anggota Komnas HAM.
"Saya optimis bisa lolos karena tidak ada saingan yang seperti saya, tuna netra," ujarnya dengan nada bercanda sambil tertawa.
Ketua DPD Penyandang Tuna Netra (Pertuni) Sulsel ini berharap dirinya bisa menjadi representasi penyandang cacat tuna netra pada Komnas HAM.
Menurut Saharuddin, berdasarkan UU Nomor 39/1999 tentang HAM, penyandag cacat berhak memperoleh perlakukan khusus bukan kesamaan dan kesempatan.
Sebab itu, katanya, pemerintah wajib menyiapkan fasilitas khusus bagi penyandang cacat seperti kemudahan bagi penyandang cacat, khususnya mereka yang tidak dapat mendengar seperti melengkapi sound pada tangga lift, dengan demikian setiap warga negara Indonesia dapat terpenuhi hak-haknya.
"Itu semua yang akan saya perjuangkan demi tegak dan tercapainya kemudahan bagi penyandang cacat," ujarnya. (K-RS/MKS1/T010)
(T.K-RS/B/T010/T010) 10-03-2007 23:04:49

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Monday, March 5, 2007

ADA APA DIBALIK PENGHENTIAN KASUS KORUPSI DPRD SULSEL?

ADA APA DIBALIK PENGHENTIAN KASUS KORUPSI DPRD SULSEL?


Oleh Rahma Saiyed

Setelah berjalan hampir tiga tahun, penyidikan kasus korupsi dana
APBD 2003 di DPRD Sulawesi Selatan yang merugikan negara Rp18,2
miliar akhirnya dihentikan tim penyidik Polda Sulawesi Selatan.

Satuan Direktorat Reskrim Polda Sulsel beberapa hari lalu secara
resmi menyatakan penyidikan kasus dihentikan dan membebaskan enam
orang tersangka, termasuk Ketua DPRD Sulsel, Agus Arifin Nu'mang.

Bahkan Drs H Eddy Baramuli, mantan Ketua DPRD Sulsel periode
1999-2004 dilaporkan telah menggelar acara syukuran atas
penghentian penyidikan kasus itu dan menyatakan kembali siap
berdinas di DPRD setempat, setelah hampir tiga tahun ini
'menonaktifkan' diri.

Penghentian penyidikan kasus tersebut ditembuskan kepada Kejati
Sulsel, Mashyudi Ridwan melalui surat No.Pol. 12/98/II/2007
tertanggal 26 Februari 2007.

Polda dan Kejati Sulsel telah menjalin kerjasama untuk menuntaskan
kasus itu, namun akhirnya bersama-sama sepakat bahwa tidak cukup
bukti untuk melanjutkan kasus itu ke penuntutan.

Kabid Humas Polda, Kombes Pol. Djoko Subroto menjelaskan bahwa
penghentian pemeriksaan itu dilakukan karena tim penyidik tidak
menemukan bukti-bukti penyalahgunaan kasus dugaan korupsi DPRD
Sulsel 2003, setelah pemerintah mencabut PP 110/2000 tentang
Kedudukan Keuangan DPRD.

Padahal, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Aryanto Boedihardjo pernah
berjanji bahwa pihaknya akan tetap melanjutkan penyelidikan kasus
tersebut meski PP 110/2000 dihapus.

Tim penyidik Polda Sulsel akan menggunakan SK Gubernur Nomor 24
a/IV/2003 tentang pelaksanaan APBD yang didalamnya menjelaskan
tentang unsur peruntukan anggaran tersebut agar penyidikan kasus
tersebut tetap dilanjutkan.

"Salah satu upaya penyidikan yang dilakukan adalah dengan cara
mengambil unsur "peruntukan anggaran" dana APBD tersebut seperti
yang termaktub dalam SK 24 a itu." jelas Aryanto.

Mantan Kadiv Humas Mabes Polri ini lebih lanjut mengatakan,
kendati Mahkamah Agung menolak judicial review (uji materi) SK 24
a tersebut seperti yang diajukan LSM di Sulsel, pihaknya tetap
akan melanjutkan dan mendalami kasus ini untuk mencari tahu letak
penyimpangan dana APBD yang dilakukan sejumlah anggota DPRD Sulsel
periode 1999-2004.

Ia memang mengakui bahwa penanganan kasus ini terasa sulit setelah
PP 110/2000 dihapus karena harus menunggu ijin dari Mendagri untuk
memeriksa sejumlah anggota dewan yang menjadi tersangka.

Di samping itu, untuk meneruskan kasus itu harus menunggu
keputusan MA terkait judicial review SK-24-a yang diajukan LSM.

Pelimpahan berkas kasus tersebut telah lima kali bolak balik dari
Polda ke Kejati Sulsel karena dinyatakan belum lengkap (P19).

Terakhir, berkas kasus ini dikembalikan pihak Kejati Sulsel pada
tanggal 4 Desember 2006 sebelum kasus tersebut resmi dihentikan.
Reaksi masyarakat

Penghentian kasus ini kontan mendapat respon LSM yang sejak awal
memperkarakan kasus tersebut.

Koordinator Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KMAK), Djusman AR
mengatakan bahwa pihaknya akan memperkarakan Kapolda Sulsel
terkait dengan masalah tersebut.

"Seharusnya tim penyidik perlu melakukan eksaminasi kembali
sebelum menghentikan kasus tersebut," jelasnya dan menambahkan
bahwa penghentian kasus tersebut telah membuat masyarakat kecewa
dan bisa jadi kepercayaan terhadap aparat hukum dalam menangani
kasus korupsi luntur.

Djusman mengangap, sikap penyidik dalam penanganan kasus ini telah
mengebiri peran masyarakat dalam pemberantasan korupsi.

Sementara itu, pengamat hukum yang juga aktif di LSM tersebut,
Abraham Samad mengatakan, langkah itu bisa menjadi preseden buruk
bagi penegakan hukum, khususnya kasus korupsi di Sulsel.

"Polda harusnya mempertimbangkan matang-matang berdasarkan fakta
hukum yang ada," katanya Abrahan yang juga merupakan Koordinator
Anti Corruption Committee (ACC) ini.

Berbeda halnya dengan reaksi tersangka. Setelah mengetahui kasus
tersebut dihentikan, salah satu tersangka, Eddy Baramuli, yang
juga mantan ketua DPRD Sulsel, malah menggelar syukuran.

Syukuran dilakukan setelah mengetahui bahwa dirinya bebas dari
jeratan hukum itu.

Baramuli sempat tidak berkantor di gedung dewan setelah dinyatakan
sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Namun setelah bebas ia
berencana melanjutkan aktivitasnya sebagai angota dewan.

Lebih 100 persen

Kasus ini mencuat pada tahun 2004 saat auditor Badan Pemeriksa
Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sulsel Bastian Lubis membeberkan
kejanggalan dalam penyusunan anggaran DPRD Sulsel periode 2003.

Dalam anggaran iru tunjangan tambahan penghasilan untuk anggota
DPRD yang semula Rp 4,81 miliar dinaikkan menjadi Rp11,4 miliar
atau naik lebih dari 130 persen.

Padahal dalam PP 110/2000 tentang Kedudukan Keuangan DPRD, istilah
tunjangan tambahan penghasilan itu tidak ada.

Dalam PP tersebut hanya ada enam jenis penghasilan, yaitu uang
representasi, uang paket, tunjangan jabatan, komisi khusus, dan
tunjangan perbaikan penghasilan. Boleh jadi tunjangan tambahan
penghasilan itu lebih berdasar pada Surat Keputusan Gubernur Nomor
603/2003.

Meski perubahan ini didasarkan pada SK Gubernur Sulsel nomor
603/2003, Bastian menganggap, SK Gubernur tidak berhak untuk
menentukan penambahan anggaran.

Jumlah dana Rp11,4 miliar ini, kemudian ditambah dengan anggaran
biaya operasional komisi dan insentif kesejahteraan yang awalnya
ada pada Pos Sekretaris Dewan.

Pembengkakan anggaran berawal dari hasil pemeriksaan Itjen
Depdagri nomor 900/VIII/484/2003 tanggal 23 Juli 2003 yang
memerintahkan untuk menggeser anggaran tersebut ke anggaran dewan.

"Saat penggeseran itulah mungkin dimanfaatkan oleh DPRD untuk ikut
menambah nilai nominalnya. Bayangkan saja, biaya operasional
komisi yang seharusnya Rp150 juta membengkak menjadi Rp900 juta,"
tutur Bastian Lubis, seorang auditor senior dan tokoh LSM di
Makassar.

Ia menambahkan bahwa jumlah keseluruhan pembengkakan anggaran
tersebut mencapai Rp6,86 milyar. Jumlah pembangkakan anggaran ini
lalu ditambahkan dengan penyimpangan pos anggaran yang seharusnya
tidak ada yakni Rp11,4 miliar.

"Jadi keseluruhan penyimpangan dana sebesar Rp18,23 milyar,"
tambah Bastian.

Namun belakangan, selama proses penyidikan kasus tersebut
dilakukan Polda Sulsel mulai dari kepemimpinan Irjen Pol Saleh
Saaf sampai ke Irjen Pol Aryanto Boedihardjo, para tersangka yang
awalnya berjumlah 17 orang dengan jumlah kerugian Rp18,2 miliar
berubah menjadi enam orang dengan jumlah kerugian Rp5,1 miliar dan
keputusan paling akhirnya adalah menghentikan penyidikannya.

"Kalau nanti ditemukan bukti-bukti baru adanya unsur korupsi dalam
kasus ini, Polda siap untuk membuka kembali penyidikannya," kata
Direskrim Polda Sulsel baru-baru ini saat mengumumkan penghentian
penyidikan kasus itu. (T.K-RS/MKS1) (T.R007/B/T010/T010)
05-03-2007 15:08:15

Wednesday, January 31, 2007

PROFIL - MARSMA EDDY SUYANTO MASIH MENANTI MUJIZAT

D0310107001953 31-01-2007 SPK UJP
PROFIL - MARSMA EDDY SUYANTO MASIH MENANTI MUJIZAT


Oleh Rahma Saiyed

Amanah yang diembannya sebagai Koordinator Misi SAR (SAR Mission Coordinator) Pencarian Pesawat Adam Air bukanlah pekerjaan mudah bagi Eddy Suyanto.
Sehari setelah pesawat Boeing 737-400 milik maskapai Adam Air ini "loose contact" dengan menara kontrol (Air Traffic Control-ATC) Bandara Hasanuddin Senin petang, 1 Januari 2007, Eddy yang juga memangku jabatan Komandan Pangkalan TNI-AU Hasanuddin Makassar ini langsung menggelar rapat koordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk mencari pesawat nahas itu.
Petunjuk yang digunakan untuk memulai pencarian adalah sinyal Elba (Emergency Locator Beacon) yang dipancarkan pesawat itu dan ditangkap radar SAR Singapura dan Pangkalan Udara TNI AU Hasanudin Makasar.
Sinyal Elba pertama berada pada posisi 3.135.25,7 Lintang Selatan dan 0.119.917 Bujur Timur atau diperkirakan berada di atas Kota Rantepao, Kabupaten Tana Toraja, sekitar 350 kilometer Utara Makassar, ibukota Sulawesi Selatan. Elba kedua berada pada 100 nautical mile - radial 330 derajat di Majene, Sulawesi Barat.
Saat mendapat laporan sinyal Elba di Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Eddy pun tak tinggal diam.
Tim SAR Gabungan yang dimotori TNI AU mengirim pesawat pengintai jenis Boeing 737 AI-7303 yang dikemudikan Letkol Penerbang Pujianto dengan mengangkut 14 kru untuk mendeteksi signal itu.
Pesawat pengintai tersebut langsung melakukan pengintaian di beberapa titik dugaan jatuhnya pesawat Adam Air di wilayah itu tetapi hasilnya nihil.
Berbagai upaya untuk melacak bekeradaan pesawat dengan 102 penumpang dan awaknya itu terus dilakukan. Bantuan dari beberapa negara seperti Singapore Air Force, Amerika Serikat dan Kanada juga bergabung, bahkan termasuk melibatkan kekuatan supranatural.
Alumni Sekolah Penerbang TNI AU angkatan 25 ini pun mengajak beberapa paranormal untuk mendukung tim SAR, apalagi Wapres HM Jusuf Kalla saat berkunjung ke Posko Induk Pencarian Adam Air Lanud Hasanuddin tanggal 6 Januari 2007 juga meminta agar unsur supranatural tidak diabaikan.
Tim SAR pun mengajak empat anggota jamaah zikir naik pesawat Cassa 616 milik TNI-AL untuk mencari jejak Adam Air. Mereka berangkat dari Lanud Hasanuddin. Ikut dalam rombongan tersebut Marsma Eddy Suyanto, Dandim 1408 Letkol Inf Marga Taufik, dan Danyon Marinir, Mayor Jayus.
Keempat orang yang diikutkan itu berasal dari Lembaga Adat Sulsel sekaligus kelompok zikir Wannurtika Rahmatullah Al Basir An Nur Al Islam. Mereka adalah Andi Muis (ketua), Sulaiman Dg Tata (wakil ketua), Aswar, dan Rahman (anggota).
Dari Lanud Hasanuddin, rombongan itu menuju Uentira, Kecamatan Tavaili, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Wilayah itu dikunjungi berdasarkan keterangan Andi Muis yang mengaku mendapatkan bisikan saat berdoa bahwa pesawat tersebut jatuh di daerah Kebun Kopi, sekitar 50 km dari Palu, Sulawesi Tengah. Namun lagi-lagi, hasilnya nihil.
Eddy yang pernah menjadi instruktur penerbang di Lanud Adi Sucipto ini pun mengaku cemas karena pencarian pesawat Adam Air hingga beberapa hari belum juga membuahkan hasil.
Perwira Penerbang Wing Operasi 300 Kohanudnas tahun 1980 ini pun tiba-tiba mengambil kebijakan mendadak, menggelar zikir pada apel pagi hari.
Sekitar 200 warga Lanud Hasanuddin dan keluarga penumpang Adam Air dikumpulkan di hanggar Skuadron Teknik 044 selama 1,5 jam untuk menggelar zikir dan do'a bersama yang dipimpin Ustad Alimuddin.
Kegiatan ini turut dihadiri pula Ketua Basarnas Bambang Karnoyudho.
"Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya menemukan Adam Air. Kami sudah mengerahkan seluruh kekuatan dan teknologi, tapi hasilnya tetap nihil. Sembari berusaha, kami juga menyerahkan diri kepada Tuhan agar diberi kemudahan dalam tugas ini," jelas peraih Satya Lencana Dwidya Sistha ini.

Mulai lega

Perasaan yang senantiasa menghantui pun akhirnya bisa diatasi. Eddy cukup lega saat salah seorang nelayan, Bakrie menemukan serpihan pesawat berupa "elevator tail stabilizer" di Kabupaten Barru.
"Alhamdulillah saya merasa sedikit lega saat mengetahui bahwaelevator tersebut adalah milik maskapai Adam Air 737-400," jelas Komandan Wing Taruna AAU tahun 2000 seraya mengakui bahwa dirinya sempat tidak tidur semalaman saat mendapat kabar yang cukup menggembirakan itu.
Berawal dari temuan Bakrie inilah, penyisiran perairan selat Makassar antara Parepare sampai Majene dilakukan secara intensif. Sekitar 200 serpihan bagian-bagian pesawat itu yang dikemudikan Kapten Pilot Refri A Widodo itu ditemukan satu persatu.
"Sound navigation and ranging" (sonar) di atas KRI Fatahillah, KRI Nala dan KRI Pulo Rupat dan USNS Mary Sears dari Amerika Serikat juga berhasil mendeteksi adanya lempengan logam di dasar laut perairan Majene yang tersebar pada areal 8 x 14 mil dengan kedalaman antara 1.200 sampai 2000 meter.
Dengan dibantu peralatan "Towed Pinger Locator" (TPL) milik Amerika Serikat, ditemukanlah kotak hitam pesawat pada dua titik koordinat yang berbeda. "Cockpit Voice Recorder" (CVR) pada koordinat 03.40.22 LS - 118.09.16 BT dengan kedalaman 1900 meter, sedangkan "Flight Data Recorder" (FDR) pada koordinat 03.41.02 LS - 118.08.53 BT dengan kedalaman 2000 meter.
Dengan menggunakan peralatan side scan sonar, ditemukan pula banyak lempengan logam yang diduga serpihan badan pesawat Adam Air pada koordinat 03.40.12 LS - 118.04.12 BT, 03.40.30 LS dan 118.09.30 BT, 03.41.06 LS - 118.09.06 BT dan 03.40.42 LS - 118.08.42 BT.
Logam terbesar yang berhasil terdeteksi dengan ukuran 2,23 meter x 1,05 meter x 0,55 meter pada kedalaman 1.976 meter. Berdasarkan hasil temuan-temuan tersebut, Eddy pun menyatakan bahwa bahwa lokasi jatuhnya pesawat Adam Air ini telah ditemukan.
Seiring dengan hal tersebut, proses pencarian dihentikan untuk kemudian memasuki tahap atau fase kedua yang disebut fase "recovery", dimana tim SAR yang diwakili Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencari teknologi untuk mengangkat kotak hitam dan badan pesawat itu.
KNKT kini sedang melobi sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Prancis dan Jepang untuk mencari teknologi untuk mengangkat badan pesawat dari dasar laut dengan kedalaman 2000 meter.
"Alhamdulillah, saya sudah bisa tersenyum karena lokasi jatuhnya pesawat Adam Air telah ditemukan," jelas Eddy yang kini tengah menanti kelahiran cucu pertamanya.
Kendati demikian, tugas bos Lanud Hasanuddin yang dikenal "low-profile" ini belumlah berakhir, karena ia masih dibebani tugas dan tanggungjawab untuk mengangkat badan pesawat itu bila teknologinya sudah ditemukan.
Ia masih berharap adanya mujizat agar proses SAR ini bisa tuntas sampai evakuasi badan pesawat dan kotak hitam, seperti diharapkan semua pihak, utamanya para keluarga korban.
Evakuasi ini juga amat penting untuk mengungkap misteri dibalik jatuhnya pesawat tersebut, karena hanya FDR dan CVR itulah yang dapat menyingkap peristiwa yang terjadi di atas pesawat itu.
"Kita berharap semoga Tuhan bisa menunjukkan kekuasaan dan kekuatan-Nya sehingga tim SAR Gabungan bisa menemukan jasad manusia. Saya hanya menunggu mujizat saja," ujarnya dengan mengakui bahwa untuk mengangkat benda-benda penting itu dari dasar laut amatlah sulit, kalau tidak bisa dikatakan mustahil.
Meski kini Eddy sudah mulai bisa tidur lelap, namun ayah dua orang putera dan puteri ini mengaku belum bisa memastikan kapan misi kemanusiaan yang telah diembanya selama 30 hari pertama tahun 2007 ini akan berakhir. (T.K-RS/MKS1/b/T010) (T.K-RS/B/R007/B/T010)
31-01-2007 13:31:07

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Friday, January 19, 2007

MAMPUKAH TPL MENGUNGKAP MISTERI RAIBNYA PESAWAT ADAM AIR?

19-01-2007 PUM UJP
MAMPUKAH TPL MENGUNGKAP MISTERI RAIBNYA PESAWAT ADAM AIR?

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 12.08 Wita pada hari Rabu tanggal 17 Januari 2007, Murray Air, sebuah pesawat kargo carteran milik Perusahaan Mary Aviation mendarat di landasan pacu Bandara Hasanuddin Makassar, tidak jauh dari lokasi Pangkalan TNI AU (Lanud) Hasanuddin.
Tidak lama setelah itu, sejumlah orang berkulit putih dengan pakaian seragam baju kaos bertuliskan 'Phoenix International Worldwide' turun dari atas pesawat itu.
Mereka kemudian menurunkan satu per satu dari sembilan paket alat yang bernama Towed Pinker Locator (TPL) seberat 6,9 ton, lalu diangkut dengan sebuah mobil khusus menuju Lanud Hasanuddin Makassar.
Itulah alat yang dipesan secara khusus oleh pemimpin kapal peneliti oceanologi Amerika Serikat, US Naval Ship Mary Sears, untuk membantu pencarian bangkai pesawat Boeing 737-400 nomor penerbangan KI-574 milik Adam Air yang diperkirakan jatuh ke dasar laut di perairan Selat Makassar sekitar wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Kapal berteknologi canggih yang diawaki 33 orang personil Angkatan Laut negara adidaya tersebut bergabung dengan tim SAR Gabungan pada 9 Januari 2007 untuk mendeteksi temuan logam di daerah laut yang tertangkap sonar KRI Fatahillah di perairan Mamuju.
Saat baru tiba, USNS Mary Sears ini diperlengkapi dengan berbagai alat canggih yang mampu mendeteksi lempengan-lempengan logam yang tertangkap sonar KRI Fatahillah milik TNI AL di perairan Mamuju.
Alat tersebut berupa Control Integrated Survey System (CISS) dan Ocean Data Equipment Operation yang terdiri atas dua multibeam ecosound yang dapat mendeteksi lempengan logam di dasar laut berdasarkan pantulan suara serta Acquisted Dopper Current yang berfungsi mengukur arah dan kecepatan arah arus air di bawah laut dan Conduct Activity and Depth yang bertugas mengukur kecepatan suara, temperatur dan tekanan dalam laut.
Namun setelah bekerja selama satu pekan, berbagai peralatan di atas kapal warna putih dengan panjang 329 kaki (hampir 100 meter) dan berbobot 4.700 ton itu gagal mengenali lempengan-lempegan logam dimaksud.
Pasalnya, daya tangkap sinyal alat ini hanya mampu mendeteksi Underwater Locator Beacon (ULB) yang melengket pada black-box pesawat dengan freqwensi sekitar 33 kilohertz sementara ULB yang melekat pada pesawat Adam Air itu freqwensinya mencapai 37,5 kilohertz.
Selain itu, kekuatan alat ini hanya mampu mendeteksi lempengan logam yang berada pada kedalaman 800 meter dari permukaan laut (dpl), sementara letak lempengan logam yang direkam sonar KRI Fatahillah itu diperkirakan berada pada kedalaman 1.700 meter dari permukaan laut.
Itulah sebabnya, kapal yang disebut-sebut sebagai kapal yang memiliki teknologi pemetaan bawah laut tercanggih di dunia itu kemudian memesan sebuah alat baru yang disebut Towed Pinker Locator (TPL).
Setelah dinaikkan ke USNS Mary Sears yang sandar di dermaga Soekarno-Hatta Makassar dalam pengawasan ekstra ketat aparat keamanan Indonesia, TPL itu kemudian dirakit oleh para awak, dan pada Jumat sekitar pukul 10.00 Wita, kapal Mary Sears itu kemudian kembali berlayar menuju perairan Majene, Sulawesi Barat untuk melanjutkan pencarian.
TPL diyakini mampu menangkap sonar berdasarkan pantulan suara hingga mencapai 50 kilohertz dan merekam gambar yang terdapat di dasar laut hingga kedalaman 6.000 meter.
Alat ini khusus didatangkan langsung dari Amerika Serikat setelah perlengkapan yang dibawa USNS Mary Sears tidak mampu mengidentifikasi lempengan logam yang berhasil ditangkap sonar (sound, navigation and ranging) KRI Fatahillah dan KRI Nala pada titik koordinat 02.35.18 LS dan 118.48.36 BT, koordinat 02.36.12 LS dan 118.46.42 BT serta pada koordinat 02.31.30 LS dan 118.33.40 BT di wilayah Perairan Mamuju serta koordinat 03.40.24,5 LS dan 113.10.58,2 BT di Perairan Majene.
"Mudah-mudahan alat ini bisa menemukan segera bodi pesawat dan kotak hitam pesawat Adam Air yang hilang sejak 1 januari 2007," ujar Koordinator SAR Gabungan (SAR Mission Coordinator/SMC), Marsekal Pertama Eddy Suyanto.
Peralatan canggih dari Amerika Serikat ini memiliki kemampuanmenangkap sinyal Underwater Locator Beacon (ULB) yang melekat pada kotak hitam pesawat mulai dari 0-50 kilohertz dan diperlengkapi dengan alat perekam/kamera bawah laut yang mampu memberikan gambar serta melihat benda yang berada dalam dasar laut hingga kedalaman 6.000 meter.
Eddy yang juga Komandan Pangkalan TNI AU Hasanuddin menuturkan, alat deteksi AS yang berfungsi menangkap sinyal frekuensi ULB pesawat akan diturunkan ke dasar laut tempat di mana lempengan logam yang ditangkap sonar KRI itu dengan menggunakan kabel Towed Pinker Locator (TPL) dalam frekuensi aktif dan pasif.
Bila TPL berhasil menangkap sinyal yang dipancarkan UBL kotak hitam pesawat, maka satelit yang berada di atas kapal akan menunjukkan letak koordinat sinyal tersebut. TPL ini juga akan merekam gambar lempengan logam yang dapat dilihat langsung dari layar monitor yang berada di atas kapal.
Belum menjamin

Kendati demikian, Eddy maupun Kepala Basarnas, Bambang Karnoyudho, belum bisa memberikan jaminan apa-apa bahwa peralatan canggih milik AS ini akan mampu menguak misteri hilangnya pesawat Adam Air yang mengangkut sekitar 102 penumpang termasuk awaknya.
"Alat ini masih terkendala dalam menemukan bodi dan kotak hitam pesawat bila badan pesawat tersebut ternyata masuk ke dalam lumpur di bawah laut," kata Eddy, seraya meminta dukungan serta doa masyarakat agar pesawat jenis Boeing 737-400 ini bisa segera ditemukan bersama dengan seluruh penumpangnya.
Alat ini juga masih bisa mendeteksi benda yang terbenam hingga 30 meter di dalam lumpur karena peralatan tersebut dilengkapi dengan Sub Button Profilling untuk mendeteksi ketebalan lumpur serta Acquited Dopper Current yang berfungsi untuk mengukur kecepatan dan arah arus air.
"Saya tidak tahu apakah masih ada alat lain yang akan didatangkan bila kelak TPL dan komponennya ini masih belum juga mampu menguak keberadaan pesawat yang telah tiga pekan dicari itu," kata Eddy.
Sementara itu, sejumlah serpihan pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 574 dengan rute Surabaya-Menado ini juga belum mampu menjadi petunjuk dalam menjawab teka-teki raibnya salah satu aset PT Sky Connection Adam Air ini.
Bahkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pun belum bisa menganalisis penyebab insisden pesawat ini berdasarkan dari hasil investigas yang dilakukannya terhadap ratusan serpihan yang ditemukan tim SAR Gabungan di laut.
Salah seroang investigator senior dari KNKT, Joseph Tumenggung mengatakan bahwa hingga saat ini, pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan sementara mengenai insiden pesawat tersebut meski telah ditemukan ratusan serpihan.
Dari ratusan serpihan itu, KNKT hanya mengandalkan elevator bagian belakang dan spoiler sayap pesawat yang telah ditemukan untuk dianalisis secara cermat namun bukti-bukti itu belum juga menjawab teka-teki jatuhnya pesawat Adam Air.
Bahkan dalam kasus ini, KNKT telah meminta bantuan Singapura melalui Aircraft Accident Investigation Bureau of Singapore (AAIB) untuk bersama-sama menguak misteri pesawat Adam Air yang diperkirakan jatuh di sekitar perairan wilayah Sulawesi Selatan dan Barat.
"Kita bisa melakukan rekonstruksi bila dari serpihan-serpihan yang ditemukan itu mencapai sekitar 90 persen," katanya. (T.K-RS*MKS1)
(T.R007/B/K002/K002) 19-01-2007 20:12:52

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Wednesday, January 17, 2007

BERKAH BAGI KANTIN BU SURI DI BALIK RAIBNYA ADAM AIR

17-01-2007 SPK UJP
BERKAH BAGI KANTIN BU SURI DI BALIK RAIBNYA ADAM AIR


Oleh Rahma Saiyed

Tidak hanya Bakri (53), nelayan dari dusun Loji'E, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulsel yang ketiban 'durian runtuh' karena mengantongi Rp50 juta atas temuannya berupa serpihan sayap belakang kanan pesawat Adam Air KI-574 yang hilang sejak 1 Januari 2007.
Tetapi, keberkahan serupa juga dinikmati Bu Suri (35), pemilik kantin yang sehari-hari beroperasi di dalam kawasan Pangkalan TNI Angkatan Udara Lanud) Hasanuddin Makassar.
Sejak pesawat Adam Air Boeing 737-400 ini dinyatakan hilang di wilayah udara Sulawesi Selatan dan Barat, Lanud Hasanuddin Makassar yang biasanya hanya didatangi oleh personil berseragam biru tua dan muda ini, tiba-tiba menjadi ramai dikunjungi para pemburu berita, baik dari luar maupun dalam Kota Makassar.
Para wartawan menggunakan kantin Bu Suri ini untuk melepas lelah usai mengirim laporannya ke redaksi masing-masing, atau untuk mengaso guna menunggu keterangan pers dari pihak SAR yang dipimpin Dan Lanud, Marsma Eddy Suyanto.
Kantin Bu Suri yang sederhana namun bersih ini rasanya menjadi tempat yang paling enak untuk bercanda dan berdialog di kalangan wartawan sambil mengganjal perut dengan hidangan-hidangan sederhana dan murah. Spontan kantin yang biasanya menjadi tempat makan para anggota TNI-AU ini, tiba-tiba berubah menjadi 'sekretariat' para wartawan pada waktu-waktu makan pagi dan siang.
Tidak heran, penghasilan yang diperoleh Bu Suri yang akrab ini meningkat menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan biasanya.
Dia mengaku biasanya hanya memperoleh sekitar Rp100 ribu per hari, tetapi setelah pesawat Adam Air ini hilang dan Lanud Hasanuddin jadi Posko SAR, pendapatannya kini rata-rata mencapai Rp300 ribu per hari.
Di dalam kawasan Lanud Hasanuddin Makassar ini, terdapat beberapa kantin, tetapi para wartawan lebih senang mendatangi kantin Bu Sur karena harganya lebih murah.
Bila memesan 'intel' atau indomie telur misalnya, cukup mengeluarkan Rp3.000, sedangkan untuk jenis makanan tradisional lainnya seperti satu porsi nasi lengkap dengan ikan dan sayur mayurnya, hanya sekitar Rp5.000 - Rp6.000/porsi.
Karena itu, tidak heran bila daftar harga dan menu yang ditawarkan kantin Bu Sur sesuai dengan selera sebagian wartawan termasuk para anggota TNI AU dan karyawan yang bertugas di Lanud Hasanuddin ini.
Meski tiba-tiba omzet dagangannya ini meningkat drastis, namun Bu Suri tidak ingin memanfaatkan peluang tersebut untuk menaikkan harga, kendati beberapa orang telah menyarankan kepadanya untuk 'mempermainkan' harga dan memanfaatkan situasi seperti ini.
"Saya kasihan lihat mereka, tidak tega menaikkan harga. Biarlah harganya tetap seperti ini, yang penting lakunya banyak, sehingga pendapatan tetap naik," ujar Bu Suri dengan menambahkan, kalau ia menaikkan harga, bisa-bisa pengunjung beralih ke tempat lain sehingga omzetnya bisa jatuh kembali.
Salah satu kekurangan dari kantin yang dikelola isteri Sersan Suryanto ini adalah tidak selalu tersedia makanan ringan yang sering dicari-cari pelanggan yakni pisang goreng.
Ibu yang tinggal di asrama TNI AU ini mengaku tidak bisa menjual pisang goreng setiap hari, karena Pasar Maros tempatnya berbelanja hanya buka pada hari Selasa dan Kamis, sehingga hanya pada hari itulah ia bisa berbelanja pisang untuk digoreng.
"Pisang goreng tidak ada karena hari ini bukan hari pasar," kata Sur dengan senyum yang menghiasi wajahnya, ketika salah seorang pengunjung memesan pisang goreng.
Saking seringnya para pelanggan meminta berbagai macam makanan dan minuman ringan seperti sprite, coca cola, fanta, fresh tea dan makanan ringan lainnya, Bu Suri kadang memaksakan diri untuk berbelanja ke Kota Makassar dalam jumlah yang banyak.
Meski demikian, para wartawan dan sejumlah pelanggannya tetap setia mengunjungi kantin tersebut. Tidak ada memang yang spesial dengan kantin Bu Suri yang telah mendapat kepercayaan dari istri Danlanud ini untuk melayani para tamu kehormatan TNI AU di Lanud Hasanuddin Makassar.
Bahkan salah seorang wartawan mengaku telat menemukan kantin ini. "Seandainya saya mengetahuinya lebih dahulu, mungkin uang saya tidak cepat habis hanya untuk membeli makanan dan minuman dalam kawasan Pangkalan TNI AU Hasanuddin ini," katanya.
Pasalnya, sebelum perutnya "tertambat" di kantin, wartawan dari media nasional, Kasim (nama samaran) ia terpaksa merogoh kantongnya Rp12 ribu sekali makan.
Ia mengaku merasa tertolong dengan kehadiran kantin yang dikenal murah meriah ini.
Salah seorang wartawan yang sengaja dikirim dari Jakarta untuk peliputan musibah Adam Air di Kota Makassar juga menuturkan hal yang sama bahwa dirinya lebih senang makan di kantin ini dibanding harus memesan makanan di hotel mengingat tarifnya pun jauh lebih mahal dan kurang mengeyangkan. Sebelum dan setelah jumpa pers digelar di Posko Adam Air Lanud Hasanuddin, biasanya Bambang menyempatkan mengunjungi kantin untuk makan atau sekedar minum kopi hangat. "Bila pagi-pagi tidak sempat sarapan di penginapan, biasanya makan di kantin ini sambil menunggu jumpa pers," ujarnya dengan tertawa.
Hal senada diakui salah seorang anggota TNI-AU, Prada Agus yang menjadikan kantin ini sebagaia tempat sarapan. Maklum, lelaki berusia 24 tahun ini belum berkeluarga dan nyaris tidak memiliki waktu untuk menyiapkan/membuat sarapan.
(T.K-RS/B/K002/K002) 17-01-2007 01:01:13

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Saturday, January 13, 2007

BAKRI AKAN BELI PERAHU DENGAN UANG DARI WAPRES

2007 SPK UJP
BAKRI AKAN BELI PERAHU DENGAN UANG DARI WAPRES


Oleh Rahma Saiyed

Seusai menemukan serpihan badan pesawat Boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adam Air, yang sempat hilang selama beberapa hari, Bakri, nelayan asal dusun LojiE, Desa Bojo, Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, mendapat rejeki yang tak terduga.
Lelaki berusia 53 tahun itu merupakan penemu pertama serpihan badan pesawat Boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adam Air nomor penerbangan KI 574 yang hilang bersama 102 penumpang dan awaknya dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado, Senin 1 Januari 2007.
Mata Bakri berkaca-kaca saat menerima sebuah amplop berisi uang tunai Rp50 juta dari Komandan Pangkalan Udara Hasanuddin Marsma Eddy Suyanto di Posko SAR Gabungan, Hasanuddin, Makassar, Sabtu.
Uang itu merupakan hadiah Wakil Presiden atas jasanya melaporkan benda berupa ekor penyeimbang bagian belakang kanan (tail horizontal stabilizer) pesawat yang ditemukannya pada Rabu (10/1).
"Terima kasih Bapak Jusuf Kalla," ujarnya dengan mata berkaca-kaca dan memerah usai menerima amplop tersebut.
Bakri yang didampingi seorang tetangganya, Abdillah dan Marsma Eddy Suyanto di hadapan para wartawan usai menerima penghargaan tersebut, dengan polos mengatakan, ia akan menggunakan uang tersebut untuk membeli perahu yang dilengkapi dengan mesin agar ia tidak bersusah payah lagi mengayuh sampan untuk mencari ikan di laut.
"Saya mau beli perahu untuk dipakai cari ikan di laut," ujar ayah lima orang anak ini dan menambahkan bahwa ia tidak akan meninggalkan profesi sebagai nelayan yang telah digelutinya selama ini meski telah mendapatkan rezeki nomplok.
Perahu yang dilengkapi dengan mesin tersebut akan mampu meningkatkan pendapatannya yang selama ini sekitar Rp30.000/hari.
Mengenai sampan lama yang telah menghidupinya selama ini, Bakri mengaku belum tahu mau.
Suami Masulang (51) yang memiliki nama lengkap Bakri Bin Hafifah itu mengisahkan, sebelum dia menemukan sayap pesawat Adam Air, salah satu jaringnya raib terbawa arus laut saat menjala di sekitar Pantai Loji'E, Desa Bojo, tempat tinggalnya, Senin (1/1) sekitar pukul 14.00 Wita.
Hari itu bertepatan dengan ketika pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 574 rute Surabaya-Manado kehilangan kontak dengan menara kontrol (Air Traffic Control-ATC) Bandara Hasanuddin.
Ia pun segera pulang setelah mengetahui jaringnya terbawa arus gelombang pantai Loji'E apalagi cuaca pada saat itu memang sangat buruk. Beruntung Bakri masih memiliki jaring penangkap ikan (bubu) yang terbuat dari bambu.
Pada tanggal 9 Januari sekitar pukul 15.00 Wita, Bakri kembali melaut karena kondisi cuaca cukup bersahabat. Seperti kebiasaannya, ketika Bakri hendak pulang ke rumahnya, ia terlebih dahulu memeriksa bubu tersebut, untuk mengetahui ada tidaknya ikan yang terjaring.
Namun tiba-tiba ia menemukan sebuah benda mirip papan tripleks tersangkut pada bubu tersebut. Ia pun megambilnya dan bergegas pulang ke rumahnya tanpa menghiraukan bubunya lagi.
Ia menyimpan benda itu di bawah kolong rumah panggung yang terbuat dari kayu, tempat tinggal mereka selama ini, tanpa menyangka sama sekali bahwa benda itu ternyata serpihan badan pesawat.
Bakri juga mengaku tidak tau bahwa dunia sedang digegerkan oleh hilangnya pesawat Adam Air di wilayah Sulawesi dan telah 10 hari dicari namun belum juga ada tanda-tanda akan ditemukan.
Untuk mengetahui benda apa gerangan yang ditemukannya itu, Bakri pun kemudian membangunkan istrinya untuk memberitahukan Abdillah, salah seorang tetangga mereka yang berprofesi sebagai guru SD di dusun tersebut.
Sang guru itu pun meneliti barang tersebut dan memberitahukan bahwa benda itu adalah bagian dari pesawat yang diyakini merupakan pesawat Adam Air yang hilang.
Pada 10 Januari, Bakri dan Abdillah kemudian memberitahukan penemuannya itu ke polisi.
Kepala Polisi Wilayah Sulsel Komber Genot Haryanto, setelah meyakini benda itu bagian dari pesawat, mengontak Komandan Lanud Hasanuddin Marsma Eddy Suyanto, untuk melaporkan ikhwal temuan Bakri tersebut.
Kombes Genot Haryanto mengaku langsung yakin bahwa barang ini sangat berharga karena akan menjadi petunjuk awal untuk membuka tabir hilangnya pesawat tersebut.
Sebuah tim dari Lanud Hasanuddin kemudian dikirim untuk menjemput benda itu guna diteliti, dan benda itu tiba di Lanud Kamis (11/1) sekitar pukul 03.00 Wita.
Setelah melalui penelitian dan konfirmasi dengan pihak Adam Air, Dan Lanud Marsma TNI Eddy Suyanto akhirnya mengumumkan kepada pers Kamis pagi bahwa benda itu adalah bagian dari pesawat Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan KI-574 yang dicari-cari selama 10 hari terakhir ini.
Serpihan itu kemudian terbukti menjadi awal dari menemuan bagian lain dari pesawat yang hilang tersebut. (T.K-RS/B/s018/s018)
13-01-2007 13:34:42

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Monday, January 8, 2007

ABU ALI BARU RAJIN SALAT DI ATAS SEKOCI PENYELAMAT

08-01-2007 PUM UJP
ABU ALI BARU RAJIN SALAT DI ATAS SEKOCI PENYELAMAT

Abu Ali (26) tak henti-hentinya mengucapkan kata 'Alhamdullillah' setelah berhasil diselamatkan KM Mandiri VI setelah terombang ambing di lautan selama 10 hari bersama 14 penumpang dan ABK KM Senopati yang tenggelam 30 Desember 2006 di perairan Mandalika, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengakui bahwa dirinya benar-benar takjub saat doa dan usaha mereka selama berada di lautan lepas untuk selalu melaksanakan salat berjamaah di atas perahu sekoci, akhirnya dikabulkan Sang Maha Kuasa.
"Padahal saya selama ini jarang sekali solat," kata Ali yang berjanji akan mencium kaki ibunya, Muntama (50), bila kembali ke daerah asalnya, Lamongan, Jawa Timur. Ia sungguh yakin bahwa doa ibunyalah yang membuat dirinya selamat dari bencana yang amat menakutkan itu.
Dalam perjalanan dari Pelabuhan Makassar menuju Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo menggunakan ambulans, Ali menuturkan bahwa saat KM Senopati oleng akibat diterjang badai angin dan ombak, beberapa penumpang menceburkan diri ke laut sebelum kapal itu tenggelam. Sebagai awak kapal, Ali langsung melepaskan perahu sekoci dan segera naik ke atasnya yang kemudian disusul sejumlah penumpang dan awak kapal lainnya.
Satu persatu, Ali bersama dengan mereka yang telah berada di atas perahu sekoci itu, menarik beberapa penumpang yang berada di sekitarnya hingga berjumlah 15 orang. Mereka pun tidak tahu harus berbuat apa lagi selain pasrah kepada Tuhan dan ikhlas mengikuti ke mana saja ombak dan angin membawa mereka. Selama 10 hari berada di lautan, Ali bersama dengan 14 teman seperjuangan hanya makan biskuit yang tersimpan dalam sekoci. "Kami makannya sedikit-sedikit, satu biskuit dibagi menjadi empat hingga enam potong," ujar ABK yang baru sembilan bulan hijrah ke PT Prima Vista, pemilik KM Senopati Nusantara yang tenggelam itu.
Untuk tetap menjaga kesehatan, korban selamat ini hanya mengandalkan air hujan. Pembagian air minumnya pun digilir satu per satu dengan menggunakan penutup senter atau dengan tutup botol aqua. Bila menjelang malam tiba, Ali mengaku sangat gembira melihat ada cahaya di tengah lautan dan berharap cahaya itu datang mendekat ke arah mereka dan segera memberi pertolongan.
Tetapi Ali bersama dengan rekan-rekannya yang lain tiba-tiba menjadi sedih saat cahaya itu hilang di kegelapan malam. Hingga suatu hari, tepat tanggal 7 Januari sekitar pukul 21.00 Wita, selepas mereka melaksanakan salat Isya secara berjamaah, tiba-tiba muncul sebuah cahaya lagi.
Cahaya itu semakin mendekat ke arah mereka hingga akhirnya tampak jelas terlihat sebuah kapal. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka segera meniupkan sempritan. Kapal itu kemudian semakin mendekat ke arah mereka hingga akhirnya datang memberikan pertolongan. Satu persatu, korban KM Senopati ini segera dievakuasi. "Perasaan lega dan rasa syukur yang tak terhingga sulit kami ungkapkan," ujar Ali seraya mengatakan bahwa perjuangan mereka mengarungi lautan dengan arah yang tidak jelas akhirnya membuahkan hasil.
Air mata Ali tiba-tiba menetes saat mengingat saudara seperjuangannya, Agus (18) asal Solo, meninggal dalam perjalanan setelah berhasil dievakuasi. "Dia memang punya penyakit asma," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Setidaknya, kata Ali, musibah ini memiliki hikmah tersendiri bagi dirinya. Selain mendapatkan hidayah, dia juga mendapat banyak saudara, saudara yang menemaninya dalam perjuangan mengarungi lautan yang luas ini.
Ali sempat berpikir mereka akan terdampar di Pulau Selayar dengan pertimbangan bahwa saat ini memasuki musim barat dengan arah angin ke timur. Dia mengakui, dua kali sekocil yang mereka tumpangi itu nyaris tiba di daratan, tetapi tiba-tiba datang angin dan ombak yang menghempaskan mereka hingga kemali ke lautan.
Yang jelas katanya, sebagai tanda syukurnya, Ali hanya akan bersimpuh di hadapan ibundanya tercinta yang kini telah menjanda. Berbeda halnya dengan Naslim (19) yang rencananya akan membuat syukuran bersama dengan seluruh anggota keluarga bila telah tiba di kampung halamannya.
Lelaki yang beralamat di Demak ini mengaku benar-benar tidak percaya bila dirinya bisa selamat bersama dengan ke-13 rekannya yang lain. Pasalnya, kata Naslim, saat KM Senopati itu tenggelam, dia tertidur lelap dan baru tersadar saat dirinya sudah berada di air. "Untung saya ditarik oleh seseorang yang telah berada di atas sekoci," ujarnya.
Tetapi yang jelas, katanya, keselamatan mereka itu tidak terlepas dari doa mereka dengan salat berjamaah. Hal ini diakui pula Abdul Wahid (24) asal Kudus. Dia mengakui bahwa keselamatan mereka itu tentunya tidak terlepas dari doa orang-orang yang mereka cintai. Wahid sendiri mengaku stres selama terombang-ambing di lautan 10 hari. Namun dia kembali bangkit dan terus berjuang, optimistis bisa selamat setelah mengingat istri dan anaknya yang baru berumur lima bulan. Seolah-olah jiwa-jiwa orang yang disayanginya itu datang memberikan spirit. Padahal, katanya, saat KM Senopati itu teggelam, ia terjebak di dalam kapal, tetapi beruntung dia berhasil menyelamtkan diri dengan cara berenang, mencari celah-celah jalan keluar dari kungkungan kapal nahas itu. Dijemput Gubernur Sulsel Abu Ali, Naslim dan Abdul Wahid adalah tiga dari 15 penumpang KM Senopati Nusantara yang diselamatkan KM Mandiri Enam pada Minggu malam pukul 21.05 Wita. Mereka dievakuasi ke Makassar, Sulawesi Selatan, dan tiba di Pelabuhan Soekarnno-Hatta Makassar, Senin petang, namun seorang di antaranya meninggal dunia di atas kapal tersebut sebelum merapat di pelabuhan. Gubernur Sulsel HM. Amin Syam, Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Boedihardjo dan Wakil Walikota Makassar Andi Hery Iskandar menjemput para korban di tangga kapal di dermaga Soekarno-Hatta pada pukul 17.30 Wita. Di dermaga, sebanyak 16 ambulans telah menanti. Para korban ditandu dari atas kapal oleh tim relawan dan langsung masuk ke dalam ambulans yang kemudian membawa mereka ke Rumah Sakit Wahidin Soedirohusodo untuk mendapat perawatan. Sementara itu, jenazah Agus DH (18) asal Solo dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk diotopsi. Nama-nama para korban tersebut seperti tercantum dalam daftar yang dibagikan Basarnas kepada wartawan masing-masing Sunaryo asal Semarang, Abu Ali (Lamongan), Adi Kurniawan (Brebes), Rachim (Kolaka, Sultra), keempatnya adalah ABK kapal nahas tersebut. Sementara ke-11 penumpangnya adalah M. Maslim (Demak), Fanik Gunawan (alamat tidak jelas), Baiman (Cilacap , Sigit Hariyanto (Pangkalan Bun/Kalteng), Abdul Wahid (Kudus), Roni (Demak), Sarito (Pekalongan), Sugiyono (Kudus), Suriani (Dinas Pertanian Kalteng), Agus DH (Solo-meninggal) dan Suryadi (Pekalongan). Mualim II KM. Mandiri Enam Eko Supriantono kepada wartawan menjelaskan, saat mereka melintas di sekitar pulau Talak dekat Selat Makassar pukul sekitar pukul 21.05 Wita, jurumudi jaga dan perwira jaga mendengar ada orang meniup pluit lalu berteriak-teriak minta tolong.
Kedua ABK itu kemudian melaporkan hal itu kepada nakhoda Amirullah Kamin yang kemudian memerintahkan jurumudi untuk melakukan manuver dan mencari sumber suara.
Para ABK kemudian menemukan sebuah sekoci penyelamat (life craft) terapung-apung berisi 15 orang yang terus berusaha mendayung untuk mendekati kapal. "Para korban itu kemudian kami angkat satu per satu termasuk 'life-craft' yang mereka tumpangi sejak musibah itu terjadi 29 Desember 2006," ujarnya dan menambahkan, upaya penyelamatan itu hanya berlangsung sekitar 30 menit, lalu mereka melanjutkan pelayanan ke Makassar. Kondisi para korban saat ditemukan, ujar Eko, semuanya dalam keadaan lemah karena kekurangan cairan dan kulit terkelupas akibat panas matahari, namun Agus (18) asal Solo memang dalam kondisi yang agak kritis.
"Sampai di atas kapal, mereka kami beri minum, makan dan mengganti pakaian-pakaian mereka, sehingga kondisi mereka berangsur pulih. Namun tiba-tiba, tadi pagi, Agus mengalami sesak napas dan akhirnya meninggal dunia," ujar Eko dan mengatakan, menurut korban ia memang menderita penyakit asma. Mengutip pengakuan para korban, Eko menyebutkan, beberapa hari setelah kapal yang memuat 600 penumpang lebih itu tenggelam di perairan Mandalika, Kabupaten Jepara hari Jumat (29/12), ada sebuah kapal asing melintas di dekat mereka, namun rupanya kapal itu tidak mendengarkan teriakan mereka sehingga kapal itu berlalu tanpa memberi pertologan. Sejak kapal itu tenggelam, ke-15 penumpang itu memang berada dalam satu life-craft itu, dan hingga KM Mandiri Enam milik PT. Gurita Lintas Samudera, mereka semua dalam keadaan selamat. KM. Mandiri VI bertonase 1.600 GRT dengan panjang 126 meter membawa 27 ABK itu berangkat dari Probolinggo, Jawa Timur hari Sabtu (6/1) dengan tujuan akhir Halmahera, Maluku, dan berniat singgah ke Makassar untuk mengisi air dan bahan bakar. (T.K-RS/B/K002/K002) 08-01-2007
23:49:43

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

YOSO PELUK ISTERI DI DALAM MIMPI

08-01-2007 SPK UJP
YOSO PELUK ISTERI DI DALAM MIMPI


Oleh Rahma Saiyed

"Mas, kalau mau ketemu saya, seperti ini saja ya," ujar Yoso
Siswowiyono (55) dengan mata berkaca-kaca mengenang isterinya yang hingga kini belum diketahui nasibnya.
Juminem, istrinya adalah salah satu penumpang pesawat Adam Air yang hilang sejak Senin, 1 Januari 2007.
Yoso yang kini menginap di hotel Transit Makassar menceritakan pertemuan dengan isterinya, Juminen, di dalam mimpi indahnya pada hari Jumat malam (5/1).
"Kemarin malam saya mimpi bertemu dengan istri. Dia sempat minta dipeluk dan mengatakan; mas kalau mau ketemu dengan saya, seperti ini saja," tuturnya sedih.
Dia memaknai mimpi itu bahwa dirinya tidak akan pernah lagi
bertemu dengan istrinya di alam nyata. Tapi di lain pihak, ia tetap optimis bahwa puteranya Faturrohman (16) yang berada dalam satu pesawat degan ibunya masih hidup.
Yoso yang tinggal di Manado itu juga bercerita mimpinya yang lain saat berada di pinggir pantai ada dua pohon kelapa.
Dalam mimpi itu, dia sedang memanjat salah satu pohon kelapa dan berhasil mengambil buah yang sudah tua. Kemudian Yoso berniat mengambil kelapa muda pada pohon berikutnya tetapi tiba-tiba ditegur seseorang untuk tidak mengambil buah tersebut.
Menurut kepercayaan orang Jawa, Yoso yang kelahiran Surabaya dan kini menjadi transmigran di Manado itu, mimpi itu bermakna bahwa bila buah kelapa tersebut berhasil diambil, itu berarti ada salah seorang anggota keluarga yang jatuh sakit atau meninggal.
Dia mengibaratkan buah kelapa tua yang berhasil diambilnya itu adalah sosok sang istri, sedangkan buah kelapa muda yang tidak jadi diambilnya adalah anaknya, Faturrohman.
Optimisme ini pun semakin kuat saat anaknya yang lain, Suyanto (24) berhasil mengontak Faturrohman melalui ponselnya beberapa jam setelah pesawat naas itu dinyatakan hilang kontak dengan menara kontrol (ATC) bandara Hasanuddin, Senin peang (1/1).
Keyakinan akan nasib anaknya ini membuat dia semakin bersemangat dan tabah menanti kabar atas nasib pesawat naas dan penumpangnya itu, terutama saat Wapres HM Jusuf Kalla menyatakan bahwa pencarian akan terus dilakukan sampai pesawat itu ditemukan.
Muslina Said (48), keluarga korban lain, juga tetap yakin bahwa suaminya, Bram Tangahu (50) masih hidup.
Ibu seorang puteri yang bekerja di Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo ini menuturkan bahwa pesawat
yang ditumpangi suaminya ini berada di dalam hutan tapi dia sendiri tidak mengetahui hutan tersebut ada di mana.
Bisikan batinnya mengenai nasib suaminya yang menjabat Kepala
Dinas Kehutanan ini semakin terasa saat ia makan. Dia mengenal kebiasaan suaminya yang selalu membawa bekal air minum bila bepergian jauh sehingga diyakini dengan perbekalan tersebut akan membuatnya bertahan hidup apalagi didukung dengan fisik atletis suaminya.
Keyakian akan nasib keluarganya yang selamat dalam insiden pesawat itu juga dirasakan Aris Sujitno (55). Ia mengaku berhasil menghubungi ponsel anaknya, Bobby (29).
"Saya melamun, membayangkan orang yang berjalan di depan hotel itu adalah Bobby dan tiba-tiba langsung mengubungi ponselnya pada hari Sabtu (6/1)," tutur Aris yang mengaku merinding saat berhasil menghubungi ponsel anaknya tersebut.
"Saya tidak tahu harus bilang apa kalau dia nanti menjawab panggilan itu," katanya dengan mata berkaca-kaca. Tetapi sayang, hubungan telepon itu tiba-tiba terputus. Saat berusaha dihubungi kembali, ponsel tersebut sudah tidak aktif, hanya terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut berada di luar jangkauan," ujarnya. Mulai tersenyum
Meksipun suasana duka masih terus melanda hotel Transit I dan II tempat para keluarga korban diinapkan pihak Adam Air selama enam
hari terakhir, namun sejumlah wajah sudah mulai mampu tersenyum dan bercanda satu dengan yang lain.
Wajah-wajah yang tadinya selalu dibasahi oleh air mata, kini mulai tampak senyum merekah, seolah-olah tidak sabar lagi menanti sang kekasih yang sebentar lagi akan bertemu.
Ucapan syukur "alhamdulillah" sempat terdengar dari mulut salah seorang keluarga korban Adam Air setelah Wapres Jusuf Kalla mengatakan bahwa berdasarkan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, proses pencarian harus terus dilakukan tanpa dibatasi waktu dan biaya.
Pemerintah siap menanggung berapa pun dana yang dibutuhkan dalam proses pencarian sebanyak 102 penumpang bersama enam orang awak pesawat yang ikut dalam penerbangan tersebut.
"Perintah presiden, pencarian harus dilakukan terus tanpa ada
batas waktu. Soal dana, tidak usah dipikirkan," jelas Kalla dihadapan para keluarga korban dalam sebuah pertemuan di Pangkalan TNI AU Hasanuddin Makassar seraya memberikan rasa simpatinya dengan mengatakan bahwa duka yang dialami keluarga para korban juga duka bagi bangsa dan negara.
Beberapa diantara para keluarga para korban ini, ada yang terlihat mengelus dada dan mengusap wajahnya dengan kedua belah tangganya. Tidak ada memang yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan mereka saat mendengar pernyataan Kalla ini, yang terlihat di wajah mereka adalah sesungging senyuman yang sempat terlintas dari bibir para keluarga korban dengan mata berkaca-kaca.
Kegembiraan makin bertambah karena orang nomor dua di Indonesia asal Bone, Sulsel ini membolehkan para keluarga korban ikut dalam proses pencarian melalui pesawat udara.
Beberapa keluarga korban ada yang mengaku merasa terhibur dengan perhatian pemerintah ini. Hal ini membuat mereka semakin optimis bila dapat menemukan anggota keluarganya dalam keadaan selamat.
Perasaan lega ini juga dialami Presiden Direktur PT Adam Sky
Connection, Adam Suherman setelah mendengar pernyataan Jusuf Kalla.
Dia menganggap bahwa hal tersebut merupakan 'support' bagi dirinya, terutama bagi perusahaan untuk tetap mencari pesawat itu hingga ditemukan.
Ia mengaku tidak mau berpikiran macam-macam mengenai kondisi pesawat beserta penumpang dan awaknya.
"Saya kini hanya fokus dimana keberadaan pesawat itu sekarang," ujarnya dan mengaku tetap optimis dan yakin bila semuanya dalam kondisi baik-baik.
"Musibah ini sangat memukul saya," jelasnya dengan mata berkaca-kaca saat menuturkan bahwa ia merasa kehilangan sejumlah rekannya termasuk sang pilot, Revi dan copilot Yoga yang selama ini sangat dekat dengan dirinya.
Adam pun berjanji akan memberikan pelayanan terbaik dan menanggung semua biaya keluarga korban selama berada di Makassar namun pengusaha muda ini belum bisa memberikan kepastian apa-apa mengenai santunan untuk para keluarga korban.
"Saya belum bisa bilang soal santunan, yang jelas kita masih focus dulu pada upaya menemukan pesawat dan penumpang serta awaknya,"
tutur Adam dengan nada lemah. (T.K-RS/B/T010/T010) 08-01-2007 07:53:54


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Saturday, January 6, 2007

PRAMUGARI ITU JANJI BELI RUMAH BAGI ORTUNYA

06-01-2007 SPK UJP
PRAMUGARI ITU JANJI BELI RUMAH BAGI ORTUNYA


Oleh Rahma Saiyed

Janji Dina Oktarina (19), seorang pramugari pesawat Adam Air yang hingga kini belum diketahui nasibnya bersama 102 penumpang dan awaknya, membeli rumah menjadi kenangan yang sangat kuat bagi keluarganya.
Dina, anak sulung dari tiga bersaudara, pernah berjanji akan membelikan orang tuanya sebuah rumah agar anggota keluarga mereka tidak lagi menghuni rumah kontrakan.
Bagi Dina, hidup dengan mengontrak rumah yang dijalani keluarganya saat ini sangat merepotkan, karena sering memaksa mereka berpindah-pindah bila sang pemilik rumah tak lagi mengijinkan mereka mengontrak.
Dina terbilang masih baru bekerja di perusahaan penerbangan bertarif murah itu, yakni baru sekitar sembilan bulan. Tapi dia telah berencana membelikan orang tuanya sebuah rumah dari pendapatan yang disisihkannya selama ini.
Anak pertama dari pasangan Rusmala Dewi (44) dan Sidik (46) itu menjadi tulang punggung bagi kedua orang tuanya. Sidik, ayah Diana, tidak memiliki pekerjaan lagi setelah usaha yang dirintisnya selama beberapa tahun mandek.
Tapi setelah hilangnya pesawat Adam Air Senin, 1 Januari 2007, yang hingga saat ini belum jelas keberadaanya, janji itu tinggal menjadikenangan. Janji tersebut seolah telah terbang bersama Diana tanpa arah dan tujuan yang jelas sampai saat ini.
Namun, kedua orang tuanya mengaku telah ikhlas menerima apapun hasil pencarian tim SAR, mengenai nasib anaknya yang tercinta itu.
Rusmala menuturkan, Dina sempat mengutarakan keengganannya untuk terbang bersama Adam Air pada rute Surabaya - Manado, tetapi anak sulung mereka itu terpaksa melaksanakannya karena takut dipecat.
"Sehari sebelum terbang, yakni Minggu, 31 Desember 2007, dia bilang perasaanya tidak enak dan beberapa bagian anggota tubuhnya terasa pegal mengingat dia baru saja melakukan penerbangan seminggu sebelumnya," tutur Rosmala.
Rosmala pun merasakan kegundahan hatinya yang sulit terkatakan saat melihat miniatur pesawat Adam Air milik Diana yang terletak di atas televisi tiba-tiba terjatuh.
"Saya tidak menyangka bila jatuhnya benda itu merupakan pertanda buruk bagi nasib anak saya," ujar Rosmala dengan nada sedih.
Kini, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah nasib anaknya belum jelas sampai saat ini. Dia juga belum mengetahui soal kesejahteraan anak-anaknya yang lain yakni Indri Rukmana (12) serta Weni Sidik (17) yang menjadi tanggungan Diana selama ini.
Sementara itu, Sidik, ayah Diana, terlihat duduk terdiam di atas tempat tidurnya pada sebuah hotel tempat mereka diinapkan oleh manejemen Adam Air di Makassar. Tatapan matanya tidak pernah lepas ke arah lantai, seolah-olah dia sedang memikirkan sesuatu.
"Dia sekarang bingung, tidak tahu harus berbuat apa," ujar Rosmala yang mengaku menyimpan firasat yang tidak enak mengenai nasib anaknya. Firasat itu menyebutkan bahwa anaknya kini telah tiada.
"Waktu selesai salat subuh, saya duduk-duduk di depan lobby hotel. Entah sadar atau tidak, saya melihat Diana datang mendekat dengan pakaian putih," tuturnya dengan isak tangis sedih dan mengaku pasrah kepada Allah SWT tentang apapun nasib anaknya.

Do'a bersama

Puluhan keluarga korban pesawat Adam Air berasal dari berbagai daerah seperti Manado, Surabaya, dan Jakarta, hingga kini masih tetap bertahan di Makassar dengan perasaan gundah karena mereka tak kunjung mendapat kepastian mengenai nasib orang-orang yang mereka cintai.
Namun dalam suasana bathin yang sedih dan ketidakpastian itu, mereka mencoba mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha kuasa dengan melakukan do'a bersama.
Sudah tiga hari ini, puluhan keluarga korban pesawat Adam Air yang hilang di wilayah Sulawesi, dari kalangan Kristiani, menggelar kebaktian bersama untuk berdo'a dan memuji Tuhan sembari memohon agar pesawat nahas yang hingga kini belum diketahui keberadaannya itu segera ditemukan oleh tim SAR.
Pesawat Boeing 737-400 Adam Air yang ditumpangi 102 penumpang beserta awaknya itu dinyatakan hilang sejak Senin (1/1) dan proses pencarian telah berlangsung selama empat hari.
Para keluarga korban berdoa agar Tuhan menolong tim SAR yang sedang giat melakukan pencarian sehingga para korban segera ditemukan dalam keadaan selamat.
"Setiap manusia menginginkan keselamatan dan kita berharap agar pesawat dan seluruh penumpangnya bisa ditemukan segera," kata Yulius yang mengaku saudaranya bernama Hari Sudaryono (41) termasuk salah satu penumpang pesawat nahas itu.
Kebaktian bersama yang diselingi dengan nyanyian lagu-lagu rohani ini akan terus dilakukan hingga pesawat Adam Air beserta seluruh penumpangnya ditemukan baik dalam keadaan selamat maupun sudah tidak bernyawa lagi.
Hingga saat ini, ujar Yulius yang memimpin ibadah itu, seluruh keluarga para korban masih diliputi ketidakpastian mengenai kabar para kerabat mereka yang berada dalam pesawat tersebut.
Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mengaku kesal dan kecewa terhadap info-info yang berkembang saat ini mengenai kondisi pesawat dan nasib para penumpangnya seperti yang diberitakan sejumlah media massa.
Saat pesawat tersebut dilaporkan telah ditemukan di Desa Rangoan, Kecamatan Matangnga, Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada Selasa (2/1), dirinya bersama anggota keluarga lainnya seolah ?kesetanan? dan bergegas menuju bandara terdekat untuk mendapat tiket pesawat agar bisa segera terbang ke Makassar.
"Kami tidak membawa persiapan apa-apa, cuma baju yang melekat di badan," katanya seraya menyesalkan saat tiba-tiba diumumkan kembali bahwa berita penemuan itu tidak benar.
(T.K-RS/B/s018/s018) 06-01-2007 18:47:46


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Wednesday, January 3, 2007

CUCUKU KINI JADI YATIM PIATU

03-01-2007 SPK UJP
CUCUKU KINI JADI YATIM PIATU


Oleh Rahma Saiyed

Hajjah Mariam (50) tak kuasa menahan luapan emosinya. Mata wanita paruh baya itu sembab dan merah karena tak kuasa menahan air mata, setelah mendengar kabar keberadaan Pesawat Adam Air dengan tujuan Surabaya-Menado yang dinyatakan hilang pada Senin (1/1) belum juga ditemukan.
Warga Gorontalo itu mendatangi Posko Adam Air di Bandara Hasanuddin Makassar bersama degan rombongan Menteri Perhubungan, Hatta Radjasa yang menggunakan pesawat carteran Transwisata jenis Foker 28 pada Selasa (2/1).
Ia ingin memastikan keberadaan anak dan menantunya, Ririn (18)dan Robby (28) yang turut dalam penerbangan naas itu.
Ketika didekati ANTARA, matanya kembali memerah, tapi ia mencoba menahan tangis. Dia mengatakan, perasaannya sangat sedih setelah mengetahui anak dan menantunya itu belum juga tiba dan tidak ada sama sekali kabarnya.
Kesedihannya semakin bertambah setelah ia menyadari bahwa cucunya Alexa (10 bulan) mungkin akan menjadi yatim piatu karena kedua orang tuanya menjadi korban dalam penerbangan pesawat Adam Air itu.
Dia mengaku tidak tahu harus berbuat apa menghadap peristiwa ini. Mariam menuturkan, Ririn sempat melakukan kontak komunikasi dengannya sebelum tinggal landas di Bandara Juanda Surabaya dan memberitahukan bahwa mereka akan tiba di Menado sekitar pukul 16.30 Wita.
Hal ini menjadi kebiasaan Ririn sebelum pasawat yang ditumpanginya itu tinggal landas dan mendarat dengan selamat di daerah tujuan.
Setelah menunggu beberapa jam, info dari Ririn tak kunjung tiba. Mariam pun mengaku mulai was-was dan mendapat firasat buruk.
"Saya jadi gelisah, tidak tenang karena belum ada info apa-apa dari Ririn, apakah ia sudah tiba sudah tiba di Menado atau belum," katanya.
Karena penasaran, Mariam pun menghubungi salah seorang keluarganya untuk mencari tahu informasi dan memastikan apakah pesawat Adam Air yang ditumpangi anaknya itu sudah tiba di Menado.
Tapi upaya yang dilakukannya malah membuat dirinya semakin khawatir akan nasib anaknya. Tidak terpikir olehnya menghubungi pihak Adam Air saat itu karena diakui, Mariam menjadi panik karena anak dan menantunya tak kunjung jua mengabarinya.
Ia pun lantas kaget setelah melihat berita televisi sekitar pukul 20.00 Wita bahwa pesawat Adam Air dengan penerbangan 574 rute Surabaya-Menado dinyatakan hilang di sekitar perairan udara di Makassar.
Petir bagaikan menyambar dadanya, ia tak kuasa menahan tangis setelah mengetahui nasib yang menimpa anak dan menantunya itu.
Rencananya anak dan menantunya akan melanjutkan ke Gorontalo dengan perjalanan darat sesampainya di Bandara Menado.
Ia hanya bisa mengucapkan "Astagfirullah" sambil mengurut dadanya. "Saya tidak tahu harus berbuat apa saat dengar pesawat Adam Air itu hilang, Ririn dan Bobby ada di dalam pesawat itu," ujarnya.
Mariam pun langsung memutuskan berangkat ke Makassar untuk mendapatkan informasi jelas mengenai peristiwa itu dan berharap agar anak dan menantunya itu dapat menemukan pesawat yang naas tersebut dan mengevakuasi para korban.
Setelah kesana-kemari mencari tiket gratis dari Adam Air, akhirnya niat Mariam pun terkabul, meski tidak berhasil mendapatkan tiket penerbangan "free of charge".
Mariam bersama dengan adiknya, Hendra, salah seorang pegawai di Dinas Kesehatan Gorontalo terbang ke Makassar dengan menumpang pesawat carteran yang digunakan Menhub Hatta Radjasa saat pejabat negara itu berkunjung ke Gorontalo.
Hendra menuturkan, saat mengetahui Menhub melakukan kunjungan kerja ke Gorontalo, hal ini tidak disia-siakannya. Hendra pun langsung menghubungi pihak bandara untuk menyatakan niatnya menumpang di pesawat yang digunakan Menteri Perhubungan.
Setelah melakukan proses negosiasi yang cukup lama, akhirnya Hendra dan Mariam tiba juga di Makassar dan langsung mendatangi posko Adam Air.
Di Posko Adam Air Bandara Hasanuddin Makassar, mereka sempat memperlihatkan foto anaknya dan berharap agar segera ditemukan. Mereka mengaku pasrah bila toh akhirnya nanti orang-orang yang dicintainya itu lebih dahulu menghadap Sang Khalik, "Itu berarti cucuku jadi yatim piatu," urainya. (T.K-RS/B/T010/T010) 03-01-2007
08:59:04


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA