Friday, May 11, 2007

PROFIL - PROF ACHMAD ALI, RUTAN DAN SIMPATI KOLEGA

1100270 5/11/2007 14:16:49
SPEKTRUM


PROFIL - PROF ACHMAD ALI, RUTAN DAN SIMPATI KOLEGA

Oleh Rahma Saiyed

"Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan pertolongan Allah, pasti ditolong-Nya."
Itulah keyakinan Profesor Achmad Ali, tersangka kasus dugaan korupsi dana Program Pasca Sarjana Universitas Hasanudin yang baru saja keluar dari Rutan Makassar, setelah empat hari mendekam di terali besi.
"Alhamdulillah saya bisa keluar dari Rutan. Itu adalah janji Allah bahwa doa orang-orang yang terzalimi pasti dikabulkan," kata Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanudin itu.
Achmad Ali merasa dizalimi karena ia ditahan dengan surat perintah penahanan yang tidak sah.
Namun, menurut anggota Komnas HAM ini, Rutan telah mengajarkan banyak hal berharga, yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
Di Rutan begitu banyak simpati masyarakat yang ia dapatkan, mulai dari para kolega, mahasiswa sampai pada para pejabat.
Sehari setelah dimasukkan Rutan pada 7 Mei 2007, terlihat sejumlah pejabat menjenguknya, seperti Wagub Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Rektor Unhas Prof Dr dr Idrus Paturusi, bahkan mahasiswa dan akademisi.
Mantan Dekan Fakultas Hukum Unhas ini mengaku tidak risih dan gengsi berada dalam rutan, sebab menginap "hotel prodeo" seperti itu sudah pernah dialaminya saat menjadi mahasiswa.
Bedanya jika saat mahasisiwa ia ditahan karena melawan kebijakan pemerintah, penahanan saat ini karena ia terjerat kasus korupsi.
Tidur beralaskan tikar pun bukanlah penghalang untuk terlelap dan menikmati istirahat malam.
"Haqqul yaqin saja bahwa semuanya akan berjalan dengan baik," ujar suami Wiwie Heriania Achmad ini.
Sejak keluar dari rutan, calon hakim agung ini mengaku kebanjiran tamu. "Saya kecapaian menerima tamu," ungkap komisoner pada Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) RI-Timor Leste ini.Namun ia bahagia menerima mereka, karena semuanya memberikan perhatian dan dorongan moril.

Ditahan
Prof Achmad Ali mengaku sempat kaget ketika tiba-tiba disodori surat penahanan yang ditandatangani Kajari Makassar, Nashroeddin SH, hanya beberapa saat setelah BAP dilimpahkan penyidik untuk di proses di Pengadilan Negeri, Senin (7/5).
Meski menolak menandatanganinya surat penahanan itu, namun guru besar hukum pidana itu tetap menjalani masa tahanannya. Dengan naik ke mobil pribadi, ia pergi ke Rutan Kelas I Makassar untuk "bermalam" di sel itu.
Namun, setelah empat hari, suhu kempo ini akhirnya dikeluarkan pada Kamis petang sekitar pukul 15.35 Wita. Penangguhannya tersebut disambut gembira para mahasiswa yang selama tiga hari sebelumnya terus berdemo di Kejati untuk memprotes tindakan jaksa menahan Achmad Ali yang dinilai tidak punya dasar hukum yang kuat dan tidak adil.
Tidak ada kesan tegang dan letih di wajah lelaki bertubuh agak kurus, yang menggunakan baju koko putih dan kopiah hitam saat keluar rutan. Ia terus menebar senyum kepada semua orang, termasuk Wagub Sulsel, Syahrul Yasin Limpo yang ikut menyambut Achmad Ali di depan gerbang Rutan.
Setibanya di kediamannya, bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur dan sesekali menghela nafas panjang karena merasa plong.
Penangguhan penahanan ini, kata Achmad Ali yang akrab disapa Prof AA ini, membuat ia bisa menjalankan aktivitasnya sebagai anggota Komnas HAM dan KKP RI -Timor Leste.
"Saya akan tetap mengikuti persidangan tetapi tentunya, saya juga akan memohon ijin kepada majelis hakim bila berhalangan hadir karena tugas-tugas kenegaraan dan 'fit and proper test' calon hakim agung yang akan dijalaninya," jelasnya.
Sidang perdana kasus dugaan korupsi senilai Rp250 juta ini dijadwalkan dimulai hari Rabu (16/5) di PN Makassar.

Jaminan
Ketua PN Makassar Sudirman Hadi, SH mengabulkan permohonan penangguhan penahanan tersangka dan memerintahkan kepada Jaksa Penuntut Umum untuk segera mengeluarkan Achmad Ali dari tahanan.
Beberapa nama pejabat penting yang ikut memberikan jaminan terhadap penangguhan penahanan calon hakim agung ini antara lain Ketua KKP RI-Timor Leste, Benjamin Mangkoedilaga, Rektor Unhas Idrus Paturusi dan Dekan Fakultas Hukum Unhas Syamsul Bahri serta tim kuasa hukum Achmad Ali yang diketuai Nico Simen, SH.
Kendati demikian, pokok perkaranya tetap akan dilanjutkan dan mengharuskan Prof AA untuk mengikuti sidang perdananya yang direncanakan akan digelar pada Rabu (16/5) di PN Makassar dengan agenda pembacaan dakwaan yang akan dipimpin langsung Ketua PN Makassar Sudirman Hadi dengan hakim anggota masing-masing Soeroso Ono, Sarifuddin Umar, Agus Iskandar, dan Nawawi Komolango.
Tim kuasa hukum Prof AA ini akan meminta waktu untuk menyusun materi eksepsi sepekan setelah pembacaan dakwaan, karena mereka melihat ada kejanggalan dalam kasus dugaan korupsi dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Program Pascasarjana nonreguler Fakultas Hukum Unhas periode 1999 sampai 2001 serta penyalahgunaan dana penerimaan UMK (Uang Muka Kerja) yang bersumber dari Program S1 Reguler, S1 Ekstensi dan S2 Non Reguler yang digunakan untuk biaya perjalanan dinas (SPPD) sebesar Rp250 juta.
Sebelumnya, Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Sulsel, Abdul Taufieq mengatakan bahwa pihaknya akan meminta bantuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menghitung ulang jumlah kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi dana PPS Unhas ini karena mengalami perubahan dari Rp250 juta menjadi Rp336 juta.
Taufieq membeberkan modus operandi kasus ini dimana pada bulan Januari hingga 16 Agustus 1999, tersangka mengeluarkan UMK dengan cara membuat Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) fiktif, membuat SPPD untuk pembiayaan rangkap di luar peruntukannya dan SPPD yang telah dibiayai tapi tidak dipertanggungjawabkan senilai Rp39.395.600.
Modus operandi yang sama masih terjadi pada anggaran perjalanan dinas tahun 1999 - 2002 dari UMK S1 reguler dan program ekstensi FH Unhas (tanggal 17 Agustus 1999 hingga 31 Januari 2002) dengan nilai kerugian negara mencapai Rp224.329.160.
Dugaan korupsi juga terjadi pada anggaran perjalanan dinas, belanja barang, belanja inventaris dan belanja lain-lain dari UMK pada S2 Hukum Kepolisian Tahun Ajaran 2001, dimana tersangka diduga menyalahgunakan UMK tersebut yang dinilai bukan merupakan kewenangannya dan membuat pertangungjawaban UMK fikif sebesar Rp72.064.600.
Dengan temuan-temuan ini, total kerugian negara diduga mencapai sekitar Rp336.395.600, ujar Taufieq.
Namun penasehat hukum Achmad Ali membantah nilai kerugian tersebut dan mengatakan bahwa dugaan korupsi dalam kasus ini hanya sekitar Rp39 juta.
(T.K-RS/B/T010/T010) 11-05-2007 14:15:40
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA
1100270 5/11/2007 14:16:49
SPEKTRUM


PROFIL - PROF ACHMAD ALI, RUTAN DAN SIMPATI KOLEGA

Oleh Rahma Saiyed

"Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Seorang hamba yang yakin akan pertolongan Allah, pasti ditolong-Nya."
Itulah keyakinan Profesor Achmad Ali, tersangka kasus dugaan korupsi dana Program Pasca Sarjana Universitas Hasanudin yang baru saja keluar dari Rutan Makassar, setelah empat hari mendekam di terali besi.
"Alhamdulillah saya bisa keluar dari Rutan. Itu adalah janji Allah bahwa doa orang-orang yang terzalimi pasti dikabulkan," kata Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanudin itu.
Achmad Ali merasa dizalimi karena ia ditahan dengan surat perintah penahanan yang tidak sah.
Namun, menurut anggota Komnas HAM ini, Rutan telah mengajarkan banyak hal berharga, yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya.
Di Rutan begitu banyak simpati masyarakat yang ia dapatkan, mulai dari para kolega, mahasiswa sampai pada para pejabat.
Sehari setelah dimasukkan Rutan pada 7 Mei 2007, terlihat sejumlah pejabat menjenguknya, seperti Wagub Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Rektor Unhas Prof Dr dr Idrus Paturusi, bahkan mahasiswa dan akademisi.
Mantan Dekan Fakultas Hukum Unhas ini mengaku tidak risih dan gengsi berada dalam rutan, sebab menginap "hotel prodeo" seperti itu sudah pernah dialaminya saat menjadi mahasiswa.
Bedanya jika saat mahasisiwa ia ditahan karena melawan kebijakan pemerintah, penahanan saat ini karena ia terjerat kasus korupsi.
Tidur beralaskan tikar pun bukanlah penghalang untuk terlelap dan menikmati istirahat malam.
"Haqqul yaqin saja bahwa semuanya akan berjalan dengan baik," ujar suami Wiwie Heriania Achmad ini.
Sejak keluar dari rutan, calon hakim agung ini mengaku kebanjiran tamu. "Saya kecapaian menerima tamu," ungkap komisoner pada Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) RI-Timor Leste ini.Namun ia bahagia menerima mereka, karena semuanya memberikan perhatian dan dorongan moril.

Ditahan
Prof Achmad Ali mengaku sempat kaget ketika tiba-tiba disodori surat penahanan yang ditandatangani Kajari Makassar, Nashroeddin SH, hanya beberapa saat setelah BAP dilimpahkan penyidik untuk di proses di Pengadilan Negeri, Senin (7/5).
Meski menolak menandatanganinya surat penahanan itu, namun guru besar hukum pidana itu tetap menjalani masa tahanannya. Dengan naik ke mobil pribadi, ia pergi ke Rutan Kelas I Makassar untuk "bermalam" di sel itu.
Namun, setelah empat hari, suhu kempo ini akhirnya dikeluarkan pada Kamis petang sekitar pukul 15.35 Wita. Penangguhannya tersebut disambut gembira para mahasiswa yang selama tiga hari sebelumnya terus berdemo di Kejati untuk memprotes tindakan jaksa menahan Achmad Ali yang dinilai tidak punya dasar hukum yang kuat dan tidak adil.
Tidak ada kesan tegang dan letih di wajah lelaki bertubuh agak kurus, yang menggunakan baju koko putih dan kopiah hitam saat keluar rutan. Ia terus menebar senyum kepada semua orang, termasuk Wagub Sulsel, Syahrul Yasin Limpo yang ikut menyambut Achmad Ali di depan gerbang Rutan.
Setibanya di kediamannya, bibirnya tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur dan sesekali menghela nafas panjang karena merasa plong.
Penangguhan penahanan ini, kata Achmad Ali yang akrab disapa Prof AA ini, membuat ia bisa menjalankan aktivitasnya sebagai anggota Komnas HAM dan KKP RI -Timor Leste.
"Saya akan tetap mengikuti persidangan tetapi tentunya, saya juga akan memohon ijin kepada majelis hakim bila berhalangan hadir karena tugas-tugas kenegaraan dan 'fit and proper test' calon hakim agung yang akan dijalaninya," jelasnya.
Sidang perdana kasus dugaan korupsi senilai Rp250 juta ini dijadwalkan dimulai hari Rabu (16/5) di PN Makassar.

Jaminan
Ketua PN Makassar Sudirman Hadi, SH mengabulkan permohonan penangguhan penahanan tersangka dan memerintahkan kepada Jaksa Penuntut Umum untuk segera mengeluarkan Achmad Ali dari tahanan.
Beberapa nama pejabat penting yang ikut memberikan jaminan terhadap penangguhan penahanan calon hakim agung ini antara lain Ketua KKP RI-Timor Leste, Benjamin Mangkoedilaga, Rektor Unhas Idrus Paturusi dan Dekan Fakultas Hukum Unhas Syamsul Bahri serta tim kuasa hukum Achmad Ali yang diketuai Nico Simen, SH.
Kendati demikian, pokok perkaranya tetap akan dilanjutkan dan mengharuskan Prof AA untuk mengikuti sidang perdananya yang direncanakan akan digelar pada Rabu (16/5) di PN Makassar dengan agenda pembacaan dakwaan yang akan dipimpin langsung Ketua PN Makassar Sudirman Hadi dengan hakim anggota masing-masing Soeroso Ono, Sarifuddin Umar, Agus Iskandar, dan Nawawi Komolango.
Tim kuasa hukum Prof AA ini akan meminta waktu untuk menyusun materi eksepsi sepekan setelah pembacaan dakwaan, karena mereka melihat ada kejanggalan dalam kasus dugaan korupsi dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Program Pascasarjana nonreguler Fakultas Hukum Unhas periode 1999 sampai 2001 serta penyalahgunaan dana penerimaan UMK (Uang Muka Kerja) yang bersumber dari Program S1 Reguler, S1 Ekstensi dan S2 Non Reguler yang digunakan untuk biaya perjalanan dinas (SPPD) sebesar Rp250 juta.
Sebelumnya, Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Sulsel, Abdul Taufieq mengatakan bahwa pihaknya akan meminta bantuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk menghitung ulang jumlah kerugian negara dalam kasus dugaan korupsi dana PPS Unhas ini karena mengalami perubahan dari Rp250 juta menjadi Rp336 juta.
Taufieq membeberkan modus operandi kasus ini dimana pada bulan Januari hingga 16 Agustus 1999, tersangka mengeluarkan UMK dengan cara membuat Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD) fiktif, membuat SPPD untuk pembiayaan rangkap di luar peruntukannya dan SPPD yang telah dibiayai tapi tidak dipertanggungjawabkan senilai Rp39.395.600.
Modus operandi yang sama masih terjadi pada anggaran perjalanan dinas tahun 1999 - 2002 dari UMK S1 reguler dan program ekstensi FH Unhas (tanggal 17 Agustus 1999 hingga 31 Januari 2002) dengan nilai kerugian negara mencapai Rp224.329.160.
Dugaan korupsi juga terjadi pada anggaran perjalanan dinas, belanja barang, belanja inventaris dan belanja lain-lain dari UMK pada S2 Hukum Kepolisian Tahun Ajaran 2001, dimana tersangka diduga menyalahgunakan UMK tersebut yang dinilai bukan merupakan kewenangannya dan membuat pertangungjawaban UMK fikif sebesar Rp72.064.600.
Dengan temuan-temuan ini, total kerugian negara diduga mencapai sekitar Rp336.395.600, ujar Taufieq.
Namun penasehat hukum Achmad Ali membantah nilai kerugian tersebut dan mengatakan bahwa dugaan korupsi dalam kasus ini hanya sekitar Rp39 juta.
(T.K-RS/B/T010/T010) 11-05-2007 14:15:40
Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Friday, April 27, 2007

KOALISI KEUMMATAN SEPAKAT UNTUK BUBAR

1900748 4/19/2007 18:38:23
PUMPUNAN


KOALISI KEUMMATAN SEPAKAT UNTUK BUBAR

Oleh Rahma Saiyed
Makassar, 19/4 (ANTARA) - Pada 10 Februari 2007, di depan Monumen Mandala, Jl Jenderal Sudirman, Makassar, tiga partai politik berbasis Islam, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Bulan Bintang (PBB) sepakat mendeklarasikan berdirinya Koalisi Keummatan.
Ribuan ummat menghadiri acara politik yang diwarnai orasi para tokoh politik Islam tersebut, seperti Abdul Azis Qahar Muzakkar dan Tamzil Linrung.
Komitmen yang dibangun dan misi yang akan diemban adalah maju bersama memenangkan Pilkada Sulsel yang akan digelar pada 5 November 2007.
Namun, 67 hari kemudian, ketiga Parpol itu kembali bersepakat; kali ini untuk membubarkan diri.
Mereka tidak sepaham dengan calon gubernur yang diusung koalisi keummatan ini yakni Drs H Abdul Aziz Qahar Muzakkar, anggota DPD asal Sulawesi Selatan.
Adalah PKS yang menyatakan tidak setuju terhadap pencalonan putera Kahar Muzakkar, tokoh DI/TII tersebut. Alasannya, potensi Azis Kahar untuk menang diragukan.
PKS menyatakan lebih cenderung memilih paket HM Amin Syam yang cialonkan partai Golkar, terutama setelah partai pimpinan Wapres HM Jusuf Kalla itu memilih Prof DR Mansyur Ramli sebagai calon wakil gubernur untuk Amin Syam.
Pasangan itu kemudian tersohor dengan akronim Asmara (Amin Syam/Mansyur Ramli).
Meski belum ada sikap politik yang tegas mendukung Asmara, tetapi DPP PKS telah meminta DPW PKS Sulsel untuk mensosialisasikan paket "Asmara" ini kepada seluruh jajarannya termasuk mendiskusikannya di koalisi keummatan.
Hal itu diakui anggota Fraksi PKS di DPR-RI asal Sulsel, Tamzil Linrung bahwa pihaknya secara lisan memilih paket Asmara dengan alasan bahwa Mansyur Ramly memiliki kedekatan historis dengan PKS sementara Amin Syam diyakini masih memiliki peluang besar untuk memenangkan Pilkada.
Selain itu, hasil survei PKS menunjukan bahwa pasangan Asmara menjadi pilihan favorit masyarakat dewasa ini.
"Kita akan memilih pasangan yang diyakini akan menang dalam Pilkada," katanya.
Kendati demikian, PKS belum pernah mengeluarkan pernyataan resmi dan tertulis kepada Koalisi Keummatan secara tertulis sehingga Aziz Qahar mengaku seperti "terombang-ambing" karena berada di dalam sebuah perahu yang tidak jelas arahnya.
Ketua DPW PPP Prof Jalaluddin Rahmat mengaku kecewa berat atas sikap politik PKS tersebut dan menganggap bahwa PKS telah mengkhianati koalisi itu.
Padahal, sejak awal pendeklarasian koalisi keummatan ini, PKS yang mendesak agar koalisi bergerak cepat dalam menghadapi Pilkada bahkan PKS juga yang paling antusias untuk membentuk koalisi ini.
Ibarat syair sebuah lagu dangdut, "kau yang mulai kau yang mengakhiri, kau yang berjanji kau yang mengingkari..." demikianlah sindiran terhadap PKS.
"Mereka sudah tidak lagi memiliki komitmen untuk bersama-sama berjuang memenangkan Pilkada Sulsel bersama koalisi ini," kata Jalaluddin.
Juru bicara Koalisi Keummatan dari PPP, Mariattang menuturkan bahwa meski PKS sudah tidak berada lagi di Koalisi Keummatan, tetapi pihaknya tetap berkomitmen mendukung Aziz Qahar sebagai calon Gubernur Sulsel.
"Aziz Qahar sudah harga mati sebagai calon 01 Sulsel di Koalisi Keummatan. Ini sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi," katanya.
Mariattang mengakui bahwa pengusungan Aziz sebagai cagub tidak lain hanya memegang amanah rakyat yang menginginkan Aziz memimpin daerah ini.
Mantan wartawan pada salah satu media lokal di Makassar itu mengakui bahwa Aziz mendapat dukungan dari beberapa daerah, khususnya masyarakat Kabupaten Bulukumba dan Sinjai yang sangat menginginkan Aziz untuk menakhodai Sulsel termasuk dukungan dari Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI).
Sebab itu, tidak mengherankan bila sosok Aziz menjadi ikon Koalisi Keummatan.
Hal ini diakui juru bicara Koalisi Keummatan dari PBB, Zulkifli bahwa pihaknya tetap mendukung Aziz Qahar sebagai Cagub Sulsel.
"Kemanapun Aziz melangkah, PBB akan selalu ikut bersamanya," ujarnya.

Koalisi Kebangsaan
Sementara itu, PBB dan PPP yang telah memprediksi sebelumnya sikap politik PKS yang lebih cenderung mendukung paket "Asmara", mulai "dilirik dan melirik" beberapa Parpol non parlemen yang rencananya akan mendeklarasikan Koalisi Kebangsaan.
PPP dan PBB dikabarkan telah melakukan pertemuan dengan beberapa partai Islam di antaranya Partai Syarikat Islam (PSI).
Koalisi Kebangsaan yang dipelopori PSI ini memberikan isyarat bakal medukung Aziz Qahar bila dipaketkan dengan Mubyl Handaling, mantan Ketua DPW Partai Serikat Indonesia (PSI) Sulsel yang kini tercatat sebagai Wakil Ketua Majelis Pakar DPW-PPP Sulsel.
Posisi Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulsel sebagai calon wakil gubernur untuk mendampingi Azis ini, merupakan kesepakatan tujuh partai nonparlemen untuk bergabung ke Koalisi Keummatan.
Ketua DPW PPP Sulsel Jalaluddin Rahman menyambut baik rencana tujuh partai non-parlemen bergabung ke Koalisi Keummatan.
"Dalam dunia politik, peluang sekecil apapun akan kita manfaatkan," katanya.
Peluang yang ditawarkan tujuh partai itu akan dimanfaatkan dengan baik karena suara PPP dan PBB yang hanya mencapai 350.652, tidak cukup memenuhi syarat untuk mengajukan calonnya pada Pilkada mendatang yakni minimal 15 persen (562.545) suara.
Koalisi Keummatan minus PKS masih memerlukan tambahan jumlah suara untuk mencapai target tersebut sehingga diharapkan dengan bergabungnya Koalisi Kebangsaan bersama Koalisi Keummatan, mereka dapat mengusung calonnya.
Pengamat politik Dr Mansyur Semma mengatakan, sikap politik yang ditunjukkan PKS bisa berdampak buruk terhadap perolehan hasil suaranya pada Pemilu 2009.
"Bisa jadi PKS akan ditinggalkan pemilihnya pada Pemilu 2009 karena imej yang dinilai buruk akibat mengingkari koalisi keummatan yang dibangunnya sendiri," ujarnya.
Melalui pendekatan ideal, lanjut dosen komunikasi Unhas itu, PKS bisa saja menang dalam Pilkada 2007 tetapi Parpol ini akan kalah secara moral.
Sebaliknya, PBB dan PPP bisa jadi kalah dalam Pilkada tetapi dia menang pada aspek moralitas.
(T.K-RS/B/s018/s018) 19-04-2007 18:37:29
NNNN

Back


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Monday, April 23, 2007

MAUDU LOMPOA AJANG PERTEMUAN JODOH

2300047 4/23/2007 06:40:37
SPEKTRUM


MAUDU LOMPOA AJANG PERTEMUAN JODOH

Oleh Rahma Saiyed
Siang itu, cahaya mentari di sungai Cikoang, Desa Cikoang Laikang, Kabupaten Takalar, menyengat kulit.
Namun ribuan anak-anak, muda-mudi, dan orang dewasa, terus menyusuri muara yang letaknya sekira 75 menit perjalanan darat ke selatan Kota Makassar.
Mereka memasuki desa Cikoang untuk memeriahkan maulid Nabi Muhammad SAW yang secara rutin diperingati warga setempat dengan acara tradisi Maudu Lompoa sejak 396 tahun lalu.
Di sepanjang muara sungai itu sejumlah perahu baik yang berukuran besar maupun kecil tertambat rapi di pinggiran sungai.
Perahu-perahu tersebut dihiasi dengan kain sarung berwarna-warni didukung dengan hiasan berbagai bentuk kertas minyak aneka warna dilengkapi berbagai sesajian.
Tidak ketinggalan beberapa telur yang dicat berbagai macam menghiasi sesajian itu. Telur-telur itu ditusuk dengan bambu dan ditancapkan pada sebuah bakul berukuran sangat besar yang terbuat dari daun lontar.
Isi bakul itu antara lain songkolo, makanan tradisional masyarakat Sulsel yang terbuat dari beras ketan.
Di dalam bakul itu pula, terdapat ratusan potong ayam goreng, kue tradisional serta buah kelapa muda. Di sana-sini terlihat pemandangan sejumlah masyarakat yang masih sibuk menghiasi perahunya, termasuk menyiapkan segala kebutuhan Maudu Lompoa.
Menurut Ridwan, Kepala Dinas Pariwisata Takalar, masyarakat Cikoang meyakini bahwa perahu yang paling meriah hiasan dan paling banyak sesajiannya menunjukkan bahwa pemiliknya berasal dari keluarga berada.
"Gengsi orang terletak pada seberapa banyak kain sarung sutra warna-warni yang ditautkan pada tiang layar perahunya," ujarnya.
Setiap sesajian itu memiliki makna masing-masing.
Tokoh adat Karaeng Bella mengatakan bahwa bakul anyaman dari daun lontar ini menunjukkan bahwa tubuh manusia dililit (dianyam) dengan ribuan saraf, telur berarti keyakinan (makrifat).
Persembahan berupa daging ayam bermakna tarekat akan suatu masa termasuk pembelajaran terhadap makna kehidupan manusia sedangkan songkolo disimbolkan sebagai tanah, air, api dan angin yang melambangkan hakikat manusia yang terdiri dari empat unsur itu.
Kain sarung dianggap sebagai tempat bernaung saat manusia berada di padang mahsyar dan perahunya ibarat bahtera menuju berkah.
Sementara itu, sesekali terdengar suara gendang, kaum tua-muda silih berganti menabuh gongnya dan ada pula yang memainkan peralatan musik kpi (gitar kecil yang terbuat dari kayu). Itu, umumnya dilakukan orang tua.
Sedangkan kaum perempuan tampil bersolek cantik mengenakan sarung-sarung tradisional terbuat dari sutra.
Sejumlah anak laki-laki dan perempuan, menceburkan diri ke sungai, diikuti sejumlah orang tua yang terpaksa diceburkan ke sungai.
Tradisi menceburkan diri ke sungai Cikoang dan ritual siram-menyiram ini merupakan simbol untuk menghilangkan sial dan membersihkan diri dari dosa.
Ketika matahari tepat berada di atas kepala, masyarakat Cikoang mulai memadati panggung, tempat pertemuan masyarakat adat.
Mereka membawa bakul yang berisi songkolo dan daging ayam, ada pula yang mengarak rangka perahu hias berkaki (julung-julung) dan tempat sesaji yang terbuat dari kayu berbentuk segi empat (kandawari) untuk diletakkan di depan pendopo dengan diiringi tabuhan bedug, shalawat dan doa-doa yang diucapkan tokoh masyarakat dan pemangku adat.
Ketika matahari memancarkan sinarnya di ufuk barat, sejumlah perahu itu kemudian di larung ke laut dan masyarakat pun mulai menyerbu julung-julung dan kadawari yang berisi berbagai makanan dan kain itu. Masyarakat pun saling berebutan, berusaha mendapatkan isi julung-julung dan kandawuri.
Mereka meyakini bahwa orang yang memakan sesaji itu akan mendapat berkah. Sementara pembuat sesaji, harus bertukaran sesaji agar mereka dapat memperoleh berkah.
Menurut aturan masyarakat setempat, kata Ridwan, mereka tidak boleh memakan sesaji yang dibuatnya sendiri.

Temu jodoh
"Maudu Lompoa" (maulid besar-besaran) Cikoang yang merupakan tradisi masyarakat Desa Cikoang Laikang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, cukup terkenal sebagai ajang pertemuan jodoh di kalangan masyarakat keturunan Sayyid (Syekh) Djalaluddin.
Tradisi Maudu Lompoa yang digelar sejak tahun 1621 ini dihadiri puluhan ribu orang keturunan Sayyid baik yang berasal dari dalam maupun dari luar Cikoang.
Bahkan ada pula keturunan Sayyid yang berada di luar negeri, sengaja datang hanya untuk menghadiri peringatan Maudu Lompoa ini.
Upacara ini semakin menarik karena sering dijadikan kaum mudi-mudi untuk mencari pasangan.
Menurut warga Cikoang, Ratnawati, perempuan yang berasal dari keturunan Sayyid tidak diperbolehkan menikah dengan lelaki yang bukan berasal dari kaummnya.
Bila hal ini dilanggar, maka si gadis tersebut akan dikeluarkan dari silsilah keluarga bahkan tidak dianggap lagi sebagai anggota keluarga.
Itu sebabnya, tidak sedikit keturunan Sayyid, terutama perempuan yang sengaja datang ke perayaan Maudu Lompoa Cikoang ini untuk mencari jodoh. Banyak pula pula orang tua yang terlibat di dalamnya, berupaya untuk mencarikan jodoh bagi anak gadisnya.
Berbeda halnya dengan kaum adam, aturan ini tidak berlaku pada mereka.
Menurut Ratnawati, laki-laki diberikan kebebasan untuk menentukan sendiri calonnya dan tidak diwajibkan untuk menikahi perempuan dari kalangan Sayyid.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Takalar, Ridwan menyebutkan bahwa hingga saat ini, aturan tersebut masih tetap berlaku dan sang gadis akan dianggap telah mati oleh keluarganya bila menikah dengan lelaki yang bukan berasal dari gologannya sendiri.

40 hari
Dalam menggelar perayaan Maudu Lompoa yang pertama kali dipelopori Sayyid Djalaluddin, penyebar agama Islam di Muara Sungai Cikoang ini, dibutuhkan waktu selama 40 hari untuk mempersiapkan segala-segalanya termasuk prosesi ritual sebagai syarat pelaksanaan Maudu Lompoa.
Pertama-tama, masyarakat perlu melakukan prosesi upacara mandi (a'je'ne-je'ne sappara/mandi pada bulan Syafar) yang dilakukan pemangku adat.
Setelah itu, masyarakat menangkap ayam dan mengurungnya selama empat puluh hari dan memberinya makanan (beras) yang kualitasnya sangat bagus.
Ayamnya haruslah ayam kampung terpilih.
Masyarakat lainnya melakukan prosesi membuat baku sesaji dari daun lontar (angnganang baku).
Dilanjutnya dengan acara menjemur padi dalam lingkaran pagar yang telah ditentukan ukurannya lalu menumbuk padi dengan lesung serta mengupas kelapa utuh yang ditanam sendiri (ammisa' kaluku).
Dua hari sebelum pelaksanaan Maudu Lompoa, masyarakat setempat menggelar upacara potong ayam dan menghias telur. Kaum perempuan/ibu-ibu bersama dengan anak-anak kemudian mulai membuat songkolo, ayam goreng dan kue menggunakan kayu bakar.
Prosesi memasak ini pun memiliki aturan khusus.
Mereka harus memasak di dalam "rabbang" (di bawah kolong rumah panggung) dan tidak boleh keluar dari pagar.
Bahkan untuk mencuci beras pun, harus dilakukan selama tujuh kali dan air cucian beras itu dibuang pada tempat yang telah disiapkan dan ditampung dalam lubang rabbang.
Sebelumnya, kaum perempuan yang memasak itu diwajibkan berwudhu dan harus menggunakan sarung.
Setelah itu, beras yang sudah masak setengah matang ditaruh dalam bakul, dilengkapi dengan telur dan ayam goreng.
Bakul yang dipersiapkan sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Setelah prosesi itu selesai, barulah masyarakat berkumpul untuk memulai Maudu Lompoa.
Gubernur Sulsel HM Amin Syam yang hadir pada acara tersebut menyatakan amat terkesan dengan kebersamaan dan eratnya tali silaturahmi warga setempat yang terlihat dalam Maudu Lompoa.
(T.K-RS/A/s018/s018) 23-04-2007 06:39:45
NNNN

Back


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Monday, April 16, 2007

KEMATIAN AKIBAT HIV/AIDS DI SULSEL TINGGI

1600521 4/16/2007 15:39:03
PUMPUNAN


KEMATIAN AKIBAT HIV/AIDS DI SULSEL TINGGI

Oleh Rahma Saiyed

Makassar, 16/4 (ANTARA) - Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo Makassar mencatat, selama 2007 ini, mereka telah merawat sebanyak 325 orang penderita HIV/AIDS.
16 orang di antaranya meninggal dunia dan saat masih terdapat 13 penderita yang menjalani perawatan intensif sedang lainnya perawatan jalan, namun kondisinya cukup memprihatinkan.
Koordinator Volunteer Counseling Testing (VCT) RS Wahidin Makassar, Mahmud mengungkapkan, pada 2006 dari 169 penderita HIV/AIDS yang dirawat di rumah sakit rujukan regional itu, 83 diantaranya meninggal dunia.
Dari data KPA Sulawesi Selatan 1994-2006, menyebutkan, penderita HIV/AIDS secara keseluruhan di provinsi berpenduduk sekitar 7,5 juta jiwa ini mencapai sekitar 1.232 orang yang terdiri atas penderita HIV sebanyak 919 orang dan AIDS 313 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.109 penderita HIV/AIDS ditemukan di Kota Makassar, Wajo (15), Maros (14), Takalar (13), Tator (11), Pangkep (6), Barru (5), Selayar (4), Bone (4) dan di Parepare terdeteksi tiga penderita HIV/AIDS.
Sedangkan jumlah penderita di Soppeng, Bantaeng, Pinrang dan Gowa sebanyak 15 orang serta 20 penderita lainnya terdeteksi di Palopo, Lutra, Lutim, Luwu, Enrekang, Sinjai, Bulukumba dan Jeneponto.
Dari jumlah tersebut, ditaksir sudah ratusan penderita yang meninggal dunia namun tidak terdata.
Tingginya kematian akibat penyakit yang menular akibat hubungan seksual dan jarum suntik para konsumen narkoba ini, disebabkan tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS masih sangat rendah.
Hal ini, kata Mahmud, dapat dilihat dari tingkat kesadaran masyarakat memeriksakan kesehatannya, khususnya mereka yang potensial terinfeksi virus HIV, sehingga tidak ada upaya pencegahan yang efektif dan intensif untuk mengatasi masalah ini.
"Masyarakat seyogianya memeriksakan secara rutin kondisi kesehatannya untuk mendeteksi lebih awal kemungkinan terjadinya penularan HIV ke diri mereka," ujarnya dan menambahkan RS Wahidin menyediakan layanan pemeriksaan itu dengan biaya yang sangat murah.
Kasubdin Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Sulsel, dr Muchlis Mangunluang mengakui, peningkatan angka penderita HIV/AIDS dalam kurun waktu 10 tahun ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, jumlah penderita dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.
Dia memberi contoh, pada 1996 jumlah penderita HIV/AIDS hanya sekitar empat orang, namun kemudian bertambah menjadi sekitar 1000 orang pada tahun 2006.
"Bila tidak segera dicegah, jumlah penderita HIV/AIDS diprediksi akan mencapai satu juta orang pada 10 tahun ke depan," ujarnya.
Jumlah penderita HIV/AIDS yang cenderung mengalami peningkatan itu kebanyakan melanda kelompok usia produktif yakni antara 15 hingga 25 tahun. Mereka umumnya adalah pekerja seks komersial, pengguna narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba) dan tenaga kerja Indonesia yang pernah bekerja di luar negeri.
Ada pula ibu-ibu rumah tangga yang ditulari oleh suaminya yang suka "jajan seks" di luar, bahkan beberapa orang bayi yang terinfeksi penyakit ini dari ibunya.
Muchlis mengatakan, pada 2005 pihaknya menemukan tiga kasus HIV dan satu kasus AIDS yang positif diderita oleh bayi, sedangkan tahun 2006, ditemukan lagi dua orang bayi yang positif HIV.
Penularan HIV/AIDS ini bervariasi, ada yang melalui jarum suntik, hubungan kelamin dan lain-lain. Pada 2006 ini, penyebab terbesar penularan penyakit mematikan ini menimpa para pengonsumsi narkoba (penderita IDU's atau pengguna jarum suntik).
Data Dinas Kesehatan Sulsel pada tahun 2006 menyebutkan, penularan HIV AIDS lewat jarum suntik mencapai 521 kasus sementara penularan melalui hubungan heteroseksual 190 kasus, homoseksual 65 kasus, donor darah 210 kasus, transmisi pranatal tujuh kasus dan empat kasus yang tidak jelas.

Penanggulan HIV/AIDS
Sementara itu, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo mengakui, tingginya penderita HIV/AIDS ini menjadi peringatan untuk senantiasa menghindari kedua penyebab utama penyebaran penyakit tersebut.
Syahrul yang juga Wakil Gubernur Sulsel ini, lebih lanjut mengatakan, bila seseorang telah terjangkit penyakit ini, peluang untuk sembuh sangat kecil.
Sebab itu, dia meminta kepada masyarakat untuk tetap menjalani hidup dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
"Karena hanya dengan banyak mengingat Allah, kita tentu akan selalu dimampukan untuk menjauhkan diri dari hal-hal negatif, khususnya mengonsumsi narkoba dan berhubungan seks secara bebas," ujarnya.
Menurut Syahrul, pihaknya telah membuat tujuh program penanggulangan masalah HIV/AIDS ini seperti upaya pencegahan melalui penyuluhan, sosialisasi dan pelatihan dengan bekerjasama pihak rumah sakit dan LSM.
Selain itu, KPA Sulsel juga melakukan perawatan dan pengobatan dimana ODHA (orang dengan HIV/AIDS) bisa mendapatkan antiretro virus (ARV) secara gratis serta melakukan surveilans HIV/AIDS, koordinasi multipihak dan berusaha menciptakan lingkungan kondusif serta menjaga kesinambungan penanggulangan penyakit HIV/AIDS.
Di sisi lain, KPA juga membentuk lima kelompok kerja agar kinerjanya lebih maksimal.
Pokja CST (care support treatment) mendukung pengobatan secara gratis. Pokja informasi HIV/AIDS di masing-masing tempat kerja. Pokja media KPA, setiap bulannya menginformasikan bagaimana kondisi penyebaran kasus HIV/AIDS dan kegiatan-kegiatan KPA.
Selanjutnya, pokja "harm reduction" yang tugasnya mengupayakan dampak buruk pengguna narkotika dan zat adiktif suntik. Ini juga ada di rumah tahanan dan lembaga pemasyarakatan. Pokja edukasi yang saat ini lagi di gagas di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi.
"Jika penularan HIV/AIDS tidak dapat ditekan, diperkirakan jumlah angkatan kerja akan berkurang dan pada akhirnya berimplikasi pada angka produktivitas manusia juga berkurang yang akan mempengaruhi indeks kualitas manusia Indonesia serta berpengaruh secara langsung dengan kondisi sosial ekonomi," ujarnya.
(K.RS/MKS1/B/T010)
(T.R007/B/T010/T010) 16-04-2007 15:38:11
NNNN

Back


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Tuesday, April 10, 2007

KETIKA TUNJANGAN INSENTIF GURU HONORER TK DIHAPUS

1000871 4/10/2007 20:27:01
SPEKTRUM


KETIKA TUNJANGAN INSENTIF GURU HONORER TK DIHAPUS

Oleh Rahma Saiyed

"Kuberi waktuku, kucurahkan kemampuanku untuk mendidik anak bangsa demi tercapainya UUD 45." "Mendiknas, Menag, lebih baik mundur kalau tidak memperhatikan guru honor" "Bukannya menyejahterakan guru honor malah menyengsarakan," begitulah isi beberapa pamflet yang dibawa ratusan guru honorer se-Sulawesi Selatan saat melakukan aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Sulsel, Senin (9/4), menolak penghapusan tunjangan insentif bagi guru-guru honorer TK.
Dalam aksi unjuk rasa itu, mereka juga mengungkapkan isi hatinya sebagai guru honorer yang merasa diperlakukan kurang bijaksana oleh pemerintah, padahal mereka cukup banyak memberikan andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Sungguh malang nasibnya guru-guru honorer, baik yang mengajar di negeri maupun swasta, khususnya terhadap guru honorer TK dan yang kurang jam mengajarnya," itulah ungkapan perasaan yang dilontarkan salah seorang guru honorer, Rusmala yang mengaku telah mengajar selama 20 tahun di salah satu TK di Makassar.
Betapa tidak, tunjangan insentif yang pernah diterimanya sejak 2000 sebesar Rp115.000 per bulan dirasakan sangat membantu kehidupan ekonomi keluarganya, meski insentif tersebut hanya diterimanya per enam bulan sekali.
Apalagi setelah mendengar kabar bahwa insentif guru-guru honorer akan naik menjadi Rp200.000 per bulan, ibu beranak lima ini mengaku semakin bersemangat mengajar.
Namun, semangat itu tiba-tiba kendur bahkan nyaris tidak ada setelah mengetahui bahwa tunjangan isnentif yang dikhususkan bagi guru-guru honorer TK akan dihapus, sebagaimana tertuang dalam surat Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar tertanggal 27 Maret 2007 yang mengacu pada surat Kepala Dinas Pendidikan Sulsel tertanggal 11 Maret 2007 tentang data guru calon penerima tunjangan fungsional.
Berdasarkan surat Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar ini, tunjangan fungsional tersebut diperuntukkan bagi guru-guru honorer SD, SMP, SMA, SMK ,namun nominalnya belum dipastikan.
"Namun sangat disayangkan, ternyata pengabdian kami selama ini dipandang sebelah mata oleh pembuat dan pengambil kebijakan. Mereka ibarat Fir'aun gaya baru yang tidak memiliki hati nurani," katanya.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengundang bapak-bapak yang terhormat yang duduk di lembaga eksekutif maupun legislatif untuk mencoba mengajar selama sebulan saja di TK. Bapak-bapak akan menceboki anak orang karena itulah antara lain pekerjaan guru TK yang tidak pernah merasa jijik mengurus anak orang lain," teriak Salmawati, guru honorer pada salah satu SD di kota anging mammiri ini.
"Kasihanilah kami Pak, satu bulan honor saja yang kami terima ini, tidak cukup untuk membiayai keluarga kami apalagi bila tunjangan itu mau dihapuskan. Jangankan kami sebagai guru honorer, anggota dewan pun akan melakukan unjuk rasa bila gaji yang diterimanya sebesar puluhan juta rupiah, masih dirasakan belum cukup. Di mana rasa malunya terhadap masyarakat, khususnya guru honorer yang selama ini termajinalkan," teriak ibu beranak tiga ini.
Saat pengunjuk rasa ini diterima tim penerimaan aspirasi DPRD Sulsel, Ketua Ikatan Guru Honor Indonesia (IGHI) Sulsel, Ali Kham mengatakan bahwa nasib guru honorer memang sungguh miris.
Mereka diberi pendapatan berdasarkan jumlah jam mengajar, tunjangan insentif bagi guru honorer TK akan dihapus, belum lagi ada di antara mereka yang masih menerima honor mulai dari Rp50.000 hingga Rp150.000 per bulan, padahal beberapa di antara mereka ada yang telah mengabdikan dirinya selama berpuluh-puluh tahun dalam mendidik generasi bangsa.
Harapan agar dapat terangkat menjadi PNS hanya tinggal harapan karena mereka merasa pemerintah tidak pernah memikirkan nasib para guru honorer ini.
"Ingat bapak-bapak, siapa yang pertama kali mendidik dan mengajarkan anda agar bisa membaca dan menulis kalau bukan guru-guru. Bapak-bapak tidak akan sukses dan menjadi anggota dewan kalau bukan peran serta para guru," ujar Ali Kham.
Dalam pernyataan sikapnya, IGHI Sulsel menyatakan bahwa keberadaan guru honorer sangatlah membantu kelancaran proses pembelajaran di seluruh sekolah tempat mereka mengabdi. Bukan hanya pada proses belajar mengajar saja tetapi guru honor ini juga aktif pada kegiatan ekstra kurikuler di sekolah bahkan sebagian dari mereka menduduki jabatan penting di sekolah masing-masing.
Namun amat disayangkan, pengabdian guru honorer yang luar biasa ini terkadang mengabaikan status mereka yang belum mendapat pengakuan resmi dari pemerintah sebagai pegawai negeri sipil bahkan juga mengabaikan bayaran honor mereka yang juga terkadang jauh dari cukup.
Berdasarkan data IGHI Sulsel, jumlah guru honorer di Makassar saat ini tercatat sekitar 4.500 orang. Mereka berasal dari guru Dinas Pendidikan dan Departemen Agama. Jumlah ini berbeda dengan data yang dimiliki Dinas Pendidikan Makassar yakni sebanyak 5.800 orang.
"Kami meminta agar Dinas Pendidikan dan Departemen Agama Sulsel melakukan evaluasi terhadap sejumlah guru honorer di wilayah ini," pintanya.
IGHI juga meminta agar pemerintah setempat menganggarkan insentif bagi guru-guru honorer dalam APBD dan memperjuangkan guru honorer menjadi PNS dan lebih memprioritaskan guru honorer dalam penerimaan CPNS serta tidak lagi membuka pendaftaran formasi umum dalam penerimaan CPNS yang akan dilakukan kelak.
"Kami juga sangat menginginkan agar mendapatkan perlakuan yang sama dengan PNS termasuk hak mendapatkan dana lauk-pauk, karena bila mengandalkan honor yang diperoleh selama mengajar dengan target jumlah jam mengajar yang ditentukan, belum memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami," kata Ketua IGHI Makassar, Agusman Mulbar.

Anggaran Pendidikan
Harapan agar tunjangan guru honorer ini dapat dialokasikan dalam APBD, sepertinya belum dapat terpenuhi.
Sebelumnya, salah seorang anggota Komisi D DPRD Makassar yang membidangi masalah kesejahteraan, Ilyas Ali Arief mengatakan bahwa kondisi keuangan Kota Makassar saat ini belum mampu merealisasikan tuntutan guru honorer yang menginginkan agar gajinya dimasukkan dalam APBD.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Drs Muh Asmin mengatakan bahwa dari jumlah anggaran untuk pendidikan, tidak memungkinkan untuk membayar gaji guru honorer yang mencapai ribuan orang.
Pasalnya, menurut Asmin, alokasi pendidikan yang akan dianggarkan dalam APBD 2007 yakni sebesar Rp16,9 miliar. Dari jumlah tersebut, Rp2 miliar untuk pendidikan gratis bagi 15 SD dan 3 SMP, biaya pengadaan buku paket sebesar Rp 2 miliar, biaya peningkatan kualitas guru sebesar Rp1 miliar, dan perbaikan sarana dan prasarana sekolah sebesar Rp5 miliar.
Dalam APBD itu memang tidak tercantum mata anggaran untuk tunjangan insentif gaji honorer.
"Dibayarkan pun tidak akan pernah mencukupi, apalagi kini akan dihapus. Itu sama saja artinya dengan membunuh guru honorer secara pelan-pelan dan berencana," kata sejumlah guru yang kini tengah dirundung duka itu.
(T.K-RS)
(T.K-RS/C/K002/K002) 10-04-2007 20:26:12
NNNN

Back


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Monday, April 2, 2007

PROFIL---INGIN JADI PELUKIS, ZAINAL "KUCING-KUCINGAN" DENGAN ORTUNYA

0200855 4/2/2007 23:22:08
SPEKTRUM


PROFIL---INGIN JADI PELUKIS, ZAINAL "KUCING-KUCINGAN" DENGAN ORTUNYA

Oleh Rahma Saiyed

Untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang pelukis terkenal di tanah air, Zainal Beta (47) yang dikenal sebagai pelukis tenar tanah liat, mengaku terpaksa bermain kucing-kucingan dengan kedua orang tuanya karena kedua orang tuanya (ortu) yakni Dg Beta (ayah) dan Dg. Saga (ibu) tidak merestuinya untuk menjadi seorang pelukis.
Kadangkala, Zainal terpaksa melukis di suatu tempat tersembunyi yang tidak diketahui oleh kedua orang tuanya bahkan tidak jarang, dia terpaksa melukis di bawah kolong tempat tidurnya agar tidak ketahuan.
Soalnya, selama tiga kali berpindah sekolah dari satu SMU ke SMU lainnya, yakni STM Pembangunan, SMK Pertanian dan SMA Cokroaminoto Makassar, anak ke-6 dari 12 bersaudara ini tidak juga berhasil menyelesaikan studinya sehingga membuat kedua orang tuanya marah besar.
"Hancur sudah masa depanmu kini," tutur Zainal mengutip kata-kata ibunya yang dilontarkan dengan nada tinggi itu.
Mendengar demikian, ayah emat anak ini mengaku hanya tersenyum saja sembari berjanji akan membuktikan kepada orang tuanya bahwa suatu saat anti, dirinya akan berhasil dan menjadi orang terkenal.
Kemarahan orang tuanya itu, ia jadikan cambuk untuk terus berkarya dalam bidang seni demi membuktikan bahwa dirinya dapat menjadi manusia berguna.
Alhasil, setelah beberapa puluh tahun lamanya menekuni seni lukis sejak 1980-an, ia akhirnya dikenal sebagai pelukis. Bahkan diakui, kedua orang tuanya merasa bangga saat pertama kali melihat Zainal tampil di televisi bersama dengan seorang pelukis terkenal, Afandi, yang namanya telah mendunia.
"Selama 15 tahun lamanya menekuni dunia ini, orang tua saya baru mengetahui bila saya adalah pelukis saat melihat penampilan perdana saya di TV," kata suami Andriani ini.
Setelah peristiwa itu, ujarnya, kedua orang tua Zainal pun menyerahkan sepenuhnya kepada pelopor pelukis tanah liat ini untuk menentukan sendiri jalan hidupnya.
Melalui kelincahan dan kepiawaian tangannya ini dalam menorehkan tanah liat pada kanvas, Zainal telah melanglang buana ke beberapa negara seperti Jerman dan Belanda. Bahkan lukisan-lukisannya laris terjual hingga ke mancanegara seperti Amerika Serikat, Ingris, Perancis, Belanda dan Jerman.
Lukisan termahal yang pernah dijualnya seharga Rp10 juta dan terendah Rp500 ribu/buah. Di sela-sela pameran lukisan yang digelar bersama rekan-rekan seprofesinya di Hotel Clarion Makassar pada Jumat (30/1), Zainal memperlihatkan kebolehannya melukis pada kanvas dengan menggunakan tanah liat dalam tempo dua menit.
Perlahan-lahan, Zainal memasukkan tanah liat dalam gelas plastik aqua kecil yang kemudian dicampur dengan air hingga encer. Masing-masing gelas berisi tanah liat encer dengan warna yang berbeda-beda.
Dia pun lalu mengoleskan tanah liat itu dengan menggunakan tangannya ke dalam kanvas berukuran selebar layar TV 16 inchi. Setelah itu, dia mulai membentuk gambar-gambar yang diinginkannya seperti rumah adat Bugis-Makassar, Toraja atau gambar kapal phinisi dan situasi suatu daerah dengan menggunakan sebilah bambu berukuran 3x4 centimeter.
Dalam waktu dua menit, ia telah berhasil menyelesaikan lukisanya itu. Pada umumnya, Zainal lebih banyak mengekspresikan masalah sosial dalam kanvasnya tersebut
Tanah-tanah liat yang diperolehnya itu, berasal dari beberapa daerah di Sulsel, seperti Makassar, Kabupaten Soppeng, Tana Toraja, Gowa dan Jeneponto serta Bulukumba.
Guna mencari tanah liat, tidak jarang dia harus mengeluarkan uang sebanyak Rp500 juta untuk sekali jalan ke luar daerah. "Saya yakin, setiap daerah itu memiliki tanah liat yang berbeda-beda warnanya," katanya dan menambahkan bahwa dengan tanah liat ini, ia bisa menyatukan nusantara melalui lukisannya.
Biasanya, kata ayah Mentari ini, Zainal membawa tanah liat dalam jumlah yang banyak (hingga enam karung) dari daerah tertentu sehingga tidak jarang dia ia dikatakan orang gila.
Namun cacian masyarakat tak dihiraukannya bahkan ia makin aktif melakukan pencarian tanah liat ke sejumlah wilayah di Sulselbar.
Sejumlah tanah liat yang telah diperolehnya berasal dari Makassar dengan warna ungu dan orange, Kabupaten Gowa dan Takalar (abu-abu), Jeneponto (hitam), Barru dan Soppeng (hijau), Tator (coklat tua dan krem) serta Mandar dengan tanah liat berwarna merah.
Zainal berharap, tanah liat-tanah liat yang berasal se-antero Nusantara hingga yang berasal dari Papua, dapat disatukan dalam sebuah kanvas. "Tanah merupakan salah satu sumber kehidupan manusia," ujarnya.
Namun sayang, Zainal mengakui bahwa pemerintah Sulsel kurang memberikan perhatian terhadap aktvitas yang dilakukannya dalam mengembangkan seni lukis dengan memanfaatkan sumber daya alam ini.
Dia berharap, kelak pemerintah setempat dapat menyediakan lahan khusus yang dipenuhi dengan berbagai tanah liat yang berasal dari beberapa daerah di Indonesia untuk dikelolanya sendiri.
(T.K-RS)
(T.K-RS/B/K002/K002) 02-04-2007 23:21:51
NNNN

Back


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Tuesday, March 27, 2007

MEMBANJIRNYA BERAS IMPOR KALA PETANI SULSEL PANEN RAYA

2700420 3/27/2007 15:03:44
PUMPUNAN


MEMBANJIRNYA BERAS IMPOR KALA PETANI SULSEL PANEN RAYA

Oleh Rahma Saiyed
Makassar, 27/3 (ANTARA) - Menteri Pertanian Anton Apriyantono awal pekan lalu berkunjung ke Kabupaten Sidrap, Bone, dan Wajo untuk mengawali panen raya padi di kantong-kantong utama produksi pangan di Provinsi Sulawesi Selatan.
Namun, bersamaan dengan panen raya yang dilakukan secara simbolis oleh Mentan dan Gubernur Sulsel HM Amin Syam, ribuan ton beras impor sedang dan akan dibongkar di pelabuhan Parepare, hanya sekira 60 km dari Sidrap.
Panen raya itu diharapkan dapat mencapai surplus lebih dari satu juta ton beras, sehingga program pengadaan pangan yang ditetapkan Bulog di Sulsel sebanyak 240.000 ton tahun ini bisa tercapai.
Tapi, masuknya beras impor di saat panen raya kali itu kini menimbulkan kekhawatiran baru di kalangan petani.
Sebanyak 66.000 ton beras impor telah dan sedang masuk ke Gudang Bulog Lapadde, Parepare, Sulsel secara bertahap untuk didistribusikan ke Kawasan Timur Indonesia seperti Papua, Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur.
Padahal, pemerintahtengah mengenjot upaya peningkatan produksi beras melalui program Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN).
P2BN itu mempunyai sejumlah aktivitas pokok seperti perbaikan sarana irigasi, pemberantasan hama dan pemberian benih unggul secara gratis kepada petani yang diproyeksi dapat ditanam pada areal seluas 1,6 juta hektare.
Bila setiap hektare dapat menghasilkan rata-rata lima ton gabah kering giling (GKG), maka benih gratis itu dapat menghasilkan delapan juta ton GKG.
Dengan upaya-upaya tersebut, Mentan optimis target produksi padi tahun 2007 sebesar 53 juta ton lebih akan tercapai.
"Di mana-mana sekarang kita lagi panen raya apalagi saat ini jumlah gagal panen sangat sedikit," kata Anton di Sidrap.
Kendati demikian, pemerintah tetap mengimpor beras dengan alasan untuk mengamankan stok pangan pemerintah, terutama dalam menghadapi kejadian-kejadian penting seperti bencana alam, bantuan untuk rakyat miskin, serta operasi pasar untuk mengendalikan harga beras yang cenderung naik.
"Impor beras ini bukan untuk menekan petani. Apa yang anda akan lakukan bila masyarakat menjerit karena membeli beras dengan harga tinggi?" ujar Anton.
Menurutnya, impor beras yang ditetapkan pemerintah ini bertujuan untuk membantu masyarakat yang saat ini kesulitan mendapatkan beras dengan harga murah.

Surplus
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel Lutfi Halide mengatakan bahwa Sulsel setiap tahun mencatat surplus sekitar 1,13 juta ton.
Tahun 2006 misalnya, daerah ini memproduksi 3.314.157 ton GKG atau 2.025.281 ton beras, sedangkan kebutuhan konsumsi untuk 7,6 juta jiwa penduduk Sulsel hanya 897.984 ton.
Untuk musim tanam periode Oktober 2006 sampai Maret 2007 ini, Sulsel menargetkan penanaman padi seluas 414.000 hektare dan hingga Maret 2007 target tanam ini sudah dapat terealisasi sekira 368.000 hektare.
Menurut Luthfi, memasuki Januari hingga Maret 2007, sekira 114.532 ha sudah melakukan panen di Kabupaten Sidrap, Wajo, Bone serta beberapa daerah lainnya.
Ia menyatakam yakin bahwa sepanjang tahun ini Sulsel tidak akan pernah putus dengan panen, sebab iklim di Sulsel terbagi atas dua sektor yang menjadikan panen padi di kawasan itu berjalan secar abegrilir, yakni sektor barat meliputi Kabupaten Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Parepare dan Selayar.
Sedangkan sektor timur meliputi Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Sidrap dan Pinrang dan daerah peralihan meliputi Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, Kota Palopo, Tana Toraja dan Enrekang.
Kalau di sektor barat mengalami musim kemarau, maka sektor timur akan hujan, begitu sebaliknya sedangkan daerah peralihan relatif normal sepanjang tahun.
"Kondisi agroklimat sedemikian memungkinkan Sulsel untuk melakukan penanaman padi dan panen secara terus menerus sepanjang tahun," ujarnya.
Hal senada dikemukakan Gubernur Sulsel HM Amin Syam bahwa Sulsel tidak akan pernah sepi dari panen karena diuntungkan dengan dua musim, yakni musim Barat dan Timur.
"Kalau pantai barat hujan, tentu bagian pantai timur mengalami kekeringan demikian pula sebaliknya, Sebab itu Sulsel tidak pernah putus panen," jelasnya.
Itu sebabnya, sejumlah kalangan mulai dari unsur aktivis LSM dan kalangan mahasiswa ramai-ramai melakukan aksi unjuk rasa menolak kehadiran beras impor di daerah tersebut.
Sejumlah pendemo menganggap bahwa masuknya beras impor tersebut justru akan merugikan para petani dan secara tidak langsung mengajarkan masyarakat untuk tidak mengkonsumsi produksi lokal.
Mereka menyatakan khawatir, harga beras langsung jatuh begitu panen raya akibat dibarengi masuknya beras impor.
Akibatnya, petani sangat dirugikan. Apalagi, sampai saat ini, pemerintah belum menetapkan Harga Pokok Pembelian (HPP)yang akan menjadi pedoman Bulog membeli beras petani.
Kalangan petani di Sidrap mendesak pemerintah melalui Mentan untuk segera menetapkan HPP beras serta mengingatkan agar beras impor yang kini sedang mengalir ke Sulsel tidak didistribusikan ke Sulsel.
Desakan itu dikemukakan sehubungan dengan pernyataan Kepala Bulog Divisi Regional Sulsel Abdul Karim yang menyebutkan bahwa stok beras yang dikuasai Bulog Sulsel saat ini cukup kritis, yaitu tinggal sekitar 20.000 ton, sementara operasi pasar beras masih terus berlangsung.
Alasan itu yang dipakai Bulog Sulsel untuk mengambil ancang-ancang menggunakan beras impor asal Vietnam itu untuk kegiatan operasi pasar guna menstabilkan harga beras yang kini masih cukup tinggi.
(T.R007/B/s018/s018) 27-03-2007 14:59:30
NNNN

Back


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Friday, March 23, 2007

SITI SANG PENCARI PENDERITA TUBERCOLOSIS

2300101 3/23/2007 09:32:10
SOSOK


SITI SANG PENCARI PENDERITA TUBERCOLOSIS

Makassar, 23/3 (ANTARA) - Memberi penyuluhan, membujuk dan mendampingi para penderita Tuberclosis untuk berobat ke Puskemas adalah pekerjaan yang dilakoni Siti Manuaji (42) saban hari.
Meski menyadari bahwa pekerjaan itu penuh resiko ketularan penyakit berbahaya ini, ibu empat anak ini mengaku tidak mengeluh apalagi takut terinveksi mycobactirum tubeclosis, bakteri penyebab penyakit TBC itu.
Padahal, dari aktivitas yang dijalaninya itu, ia hanya mendapat Rp5.000 perbulan. Nilai yang amat sangat tidak sebanding dengan resiko yang dialaminya jika kelak tertular.
"Saya tidak takut tertular TBC. Semuanya saya serahkan sama Tuhan saja. Kasihan kalau ada orang yang batuk-batuk apalagi sampai mengeluarkan darah, masa kita tidak tolong," kata Siti dengan logat khas Makassar.
Ia mengaku sangat sedih bila melihat orang batuk-batuk hingga mengeluarkan darah, apalagi mereka yang berumur senja.
Itu sebabnya, ia menekuni tugas ini tahun 2002. Sejak itu, sebanyak lima orang penderita Tubercolosis yang ditemukannya, kini telah sembuh berkat ketekunan dan kesabarannya mengajak mereka berobat ke Puskemas.
Menurut dia, tidak semua penderita mau diajak berobat ke Puskesmas, bahkan tidak jarang ia mendapatkan caci-maki bahkan dianggap tukang gosip dan gila urusan.
"Saya cuek saja dikatakan seperti itu karena toh nanti mereka akan sadar sendiri dan merasakan manfaatnya," kata warga Rappocini Makassar ini dengan tersenyum.
Meski penghasilan yang diterimanya terbilang sangat kecil, bahkan hampir-hampir tidak mencukupi kebutuhan keluarganya tetapi Siti merasa cukup senang menggeluti pekerjaan ini.
Sebab dari beberapa penyuluhan yang dilakukannya, ia bisa bertemu dengan banyak orang hingga orang-orang penting di Puskesmas.
"Ya... saya bisa ketemu dengan orang-orang penting dan punya banyak kenalan. Tapi sedihnya itu kalau dicaci maki sama orang," kenang Siti seraya berharap agar pemerintah dapat memperhatikan masa depan anak-anaknya.
Tiga anaknya yang telah lulus SMU hingga saat ini belum mendapatkan pekerjaan, padahal Siti berharap ketiga anaknya itu menjadi tulang punggung untuk membiayai sekolah adiknya dan kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari.
Sementara suami Siti, Udu' Daeng Lalang adalah buruh bangunan yang biasanya hanya mendapatkan upah Rp100 ribu hingga Rp250 ribu per bulan.
Siti yang jebolan SMP itu merupakan salah satu dari enam orang kader penyuluh Tb di kota Makassar.
"Saya dapat pengetahuan ini dari beberapa brosur soal Tb yang dibagikan Puskesmas-puskemas," katanya dan manambahkan bahwa pada akhirnya tidak sedikit orang datang kepadanya meminta bantuan sekedar diantar berobat ke Puskemas.
Siti mengakui, penyakit menular TBC ini sangat berbahaya. Setiap tahun, sebanyak dua juta penderita di Indonesia yang meninggal dunia akibat tertular kuman mycobacterium tuberclosis ini.
(T.K-RS/MKS1)
(T.R007/B/T010/T010) 23-03-2007 09:27:56
NNNN

Back


Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Saturday, March 10, 2007

TUNANETRA ITU BERTEKAD ANGGOTA KOMNAS HAM

10-03-2007 SPK UJP
PROFIL - TUNANETRA ITU BERTEKAD ANGGOTA KOMNAS HAM


Oleh Rahma Saiyed

Cita-citanya untuk memperjuangkan hak azasi penyandang cacat, yang selama ini kurang mendapat perhatian pemerintah, membuat Saharuddin Daming bertekad menjadi anggota Komnas HAM.
Kebutaan sejak lahir yang dialami Daming tidak menyurutkan niatnya menggapai keinginan itu.
Demi mewujudkan keinginannya agar tetap eksis memperjuangkan HAM, kandidat doktor di Universitas Hasanuddin ini, lantas mengajukan diri menjadi anggota Komnas HAM periode 2007-2012 dan siap bersaing dengan ratusan pelamar lainnya.
Saharuddin adalah satu-satunya pelamar tuna netra, namun ia tidak risih dan tidak ciut nyali untuk bersaing dengan mereka yang normal.
Bahkan, ia berhasil melewati beberapa tahap penyeleksian anggota Komnas HAM seperti penyeleksian pada administratif, uji publik dan dialog publik.
Tinggal beberapa langkah lagi untuk masuk tahap "fit and proper test" yang merupakan tahap penentuan dari perjuangannya itu.
Bagi kalangan aktivis lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa dan advokat di Sulawesi Selatan, lelaki tuna netra kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 39 tahun lalu ini dikenal sebagai pejuang, dan pengacara tangguh.
Disamping itu, Saharuddin juga aktif memberikan konsultasi hukum serta menjadi penasehat ahli Kepala Dinas Kesejahteraan Sosial dan Perlindungan Masyarakat Sulawesi Selatan.
Ketulusannhya mengabdian kepada masyarakat juga tak diragukan lagi. Saharuddin saat ini aktif mensupervisi beberapa lembaga antara lain, Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC) Sulsel, Forum Advokasi Penyadaran Hak Azasi Penyandang Cacat, Jaringan Kerja Advokasi Penyelenggaraan Pemilu Yang Adil dan Aksesibel bagi Penyandang Cacat (Jakapasca).
Baru-baru ini, ia juga suskes mengemban amanah dari pemerintah dan masyarakat Sulawesi Selatan sebagai Ketua Umum Panitia Pekan Olahraga Penyandang Cacat Tingkat Daerah (Porcada) Sulsel.
Buah pikirannya juga banyak dituangkan dalam beberapa artikel yang sering dimuat media lokal maupun nasional.
Ia juga rajin memberikan komentar terhadap isu-isu politik, hukum dan sosial budaya di beberapa stasiun radio di Makassar.
Saharuddin yang kini dikaruniai dua anak ini mengaku optimis dapat lolos dan menjadi anggota Komnas HAM.
"Saya optimis bisa lolos karena tidak ada saingan yang seperti saya, tuna netra," ujarnya dengan nada bercanda sambil tertawa.
Ketua DPD Penyandang Tuna Netra (Pertuni) Sulsel ini berharap dirinya bisa menjadi representasi penyandang cacat tuna netra pada Komnas HAM.
Menurut Saharuddin, berdasarkan UU Nomor 39/1999 tentang HAM, penyandag cacat berhak memperoleh perlakukan khusus bukan kesamaan dan kesempatan.
Sebab itu, katanya, pemerintah wajib menyiapkan fasilitas khusus bagi penyandang cacat seperti kemudahan bagi penyandang cacat, khususnya mereka yang tidak dapat mendengar seperti melengkapi sound pada tangga lift, dengan demikian setiap warga negara Indonesia dapat terpenuhi hak-haknya.
"Itu semua yang akan saya perjuangkan demi tegak dan tercapainya kemudahan bagi penyandang cacat," ujarnya. (K-RS/MKS1/T010)
(T.K-RS/B/T010/T010) 10-03-2007 23:04:49

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Monday, March 5, 2007

ADA APA DIBALIK PENGHENTIAN KASUS KORUPSI DPRD SULSEL?

ADA APA DIBALIK PENGHENTIAN KASUS KORUPSI DPRD SULSEL?


Oleh Rahma Saiyed

Setelah berjalan hampir tiga tahun, penyidikan kasus korupsi dana
APBD 2003 di DPRD Sulawesi Selatan yang merugikan negara Rp18,2
miliar akhirnya dihentikan tim penyidik Polda Sulawesi Selatan.

Satuan Direktorat Reskrim Polda Sulsel beberapa hari lalu secara
resmi menyatakan penyidikan kasus dihentikan dan membebaskan enam
orang tersangka, termasuk Ketua DPRD Sulsel, Agus Arifin Nu'mang.

Bahkan Drs H Eddy Baramuli, mantan Ketua DPRD Sulsel periode
1999-2004 dilaporkan telah menggelar acara syukuran atas
penghentian penyidikan kasus itu dan menyatakan kembali siap
berdinas di DPRD setempat, setelah hampir tiga tahun ini
'menonaktifkan' diri.

Penghentian penyidikan kasus tersebut ditembuskan kepada Kejati
Sulsel, Mashyudi Ridwan melalui surat No.Pol. 12/98/II/2007
tertanggal 26 Februari 2007.

Polda dan Kejati Sulsel telah menjalin kerjasama untuk menuntaskan
kasus itu, namun akhirnya bersama-sama sepakat bahwa tidak cukup
bukti untuk melanjutkan kasus itu ke penuntutan.

Kabid Humas Polda, Kombes Pol. Djoko Subroto menjelaskan bahwa
penghentian pemeriksaan itu dilakukan karena tim penyidik tidak
menemukan bukti-bukti penyalahgunaan kasus dugaan korupsi DPRD
Sulsel 2003, setelah pemerintah mencabut PP 110/2000 tentang
Kedudukan Keuangan DPRD.

Padahal, Kapolda Sulsel, Irjen Pol Aryanto Boedihardjo pernah
berjanji bahwa pihaknya akan tetap melanjutkan penyelidikan kasus
tersebut meski PP 110/2000 dihapus.

Tim penyidik Polda Sulsel akan menggunakan SK Gubernur Nomor 24
a/IV/2003 tentang pelaksanaan APBD yang didalamnya menjelaskan
tentang unsur peruntukan anggaran tersebut agar penyidikan kasus
tersebut tetap dilanjutkan.

"Salah satu upaya penyidikan yang dilakukan adalah dengan cara
mengambil unsur "peruntukan anggaran" dana APBD tersebut seperti
yang termaktub dalam SK 24 a itu." jelas Aryanto.

Mantan Kadiv Humas Mabes Polri ini lebih lanjut mengatakan,
kendati Mahkamah Agung menolak judicial review (uji materi) SK 24
a tersebut seperti yang diajukan LSM di Sulsel, pihaknya tetap
akan melanjutkan dan mendalami kasus ini untuk mencari tahu letak
penyimpangan dana APBD yang dilakukan sejumlah anggota DPRD Sulsel
periode 1999-2004.

Ia memang mengakui bahwa penanganan kasus ini terasa sulit setelah
PP 110/2000 dihapus karena harus menunggu ijin dari Mendagri untuk
memeriksa sejumlah anggota dewan yang menjadi tersangka.

Di samping itu, untuk meneruskan kasus itu harus menunggu
keputusan MA terkait judicial review SK-24-a yang diajukan LSM.

Pelimpahan berkas kasus tersebut telah lima kali bolak balik dari
Polda ke Kejati Sulsel karena dinyatakan belum lengkap (P19).

Terakhir, berkas kasus ini dikembalikan pihak Kejati Sulsel pada
tanggal 4 Desember 2006 sebelum kasus tersebut resmi dihentikan.
Reaksi masyarakat

Penghentian kasus ini kontan mendapat respon LSM yang sejak awal
memperkarakan kasus tersebut.

Koordinator Koalisi Masyarakat Anti Korupsi (KMAK), Djusman AR
mengatakan bahwa pihaknya akan memperkarakan Kapolda Sulsel
terkait dengan masalah tersebut.

"Seharusnya tim penyidik perlu melakukan eksaminasi kembali
sebelum menghentikan kasus tersebut," jelasnya dan menambahkan
bahwa penghentian kasus tersebut telah membuat masyarakat kecewa
dan bisa jadi kepercayaan terhadap aparat hukum dalam menangani
kasus korupsi luntur.

Djusman mengangap, sikap penyidik dalam penanganan kasus ini telah
mengebiri peran masyarakat dalam pemberantasan korupsi.

Sementara itu, pengamat hukum yang juga aktif di LSM tersebut,
Abraham Samad mengatakan, langkah itu bisa menjadi preseden buruk
bagi penegakan hukum, khususnya kasus korupsi di Sulsel.

"Polda harusnya mempertimbangkan matang-matang berdasarkan fakta
hukum yang ada," katanya Abrahan yang juga merupakan Koordinator
Anti Corruption Committee (ACC) ini.

Berbeda halnya dengan reaksi tersangka. Setelah mengetahui kasus
tersebut dihentikan, salah satu tersangka, Eddy Baramuli, yang
juga mantan ketua DPRD Sulsel, malah menggelar syukuran.

Syukuran dilakukan setelah mengetahui bahwa dirinya bebas dari
jeratan hukum itu.

Baramuli sempat tidak berkantor di gedung dewan setelah dinyatakan
sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Namun setelah bebas ia
berencana melanjutkan aktivitasnya sebagai angota dewan.

Lebih 100 persen

Kasus ini mencuat pada tahun 2004 saat auditor Badan Pemeriksa
Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sulsel Bastian Lubis membeberkan
kejanggalan dalam penyusunan anggaran DPRD Sulsel periode 2003.

Dalam anggaran iru tunjangan tambahan penghasilan untuk anggota
DPRD yang semula Rp 4,81 miliar dinaikkan menjadi Rp11,4 miliar
atau naik lebih dari 130 persen.

Padahal dalam PP 110/2000 tentang Kedudukan Keuangan DPRD, istilah
tunjangan tambahan penghasilan itu tidak ada.

Dalam PP tersebut hanya ada enam jenis penghasilan, yaitu uang
representasi, uang paket, tunjangan jabatan, komisi khusus, dan
tunjangan perbaikan penghasilan. Boleh jadi tunjangan tambahan
penghasilan itu lebih berdasar pada Surat Keputusan Gubernur Nomor
603/2003.

Meski perubahan ini didasarkan pada SK Gubernur Sulsel nomor
603/2003, Bastian menganggap, SK Gubernur tidak berhak untuk
menentukan penambahan anggaran.

Jumlah dana Rp11,4 miliar ini, kemudian ditambah dengan anggaran
biaya operasional komisi dan insentif kesejahteraan yang awalnya
ada pada Pos Sekretaris Dewan.

Pembengkakan anggaran berawal dari hasil pemeriksaan Itjen
Depdagri nomor 900/VIII/484/2003 tanggal 23 Juli 2003 yang
memerintahkan untuk menggeser anggaran tersebut ke anggaran dewan.

"Saat penggeseran itulah mungkin dimanfaatkan oleh DPRD untuk ikut
menambah nilai nominalnya. Bayangkan saja, biaya operasional
komisi yang seharusnya Rp150 juta membengkak menjadi Rp900 juta,"
tutur Bastian Lubis, seorang auditor senior dan tokoh LSM di
Makassar.

Ia menambahkan bahwa jumlah keseluruhan pembengkakan anggaran
tersebut mencapai Rp6,86 milyar. Jumlah pembangkakan anggaran ini
lalu ditambahkan dengan penyimpangan pos anggaran yang seharusnya
tidak ada yakni Rp11,4 miliar.

"Jadi keseluruhan penyimpangan dana sebesar Rp18,23 milyar,"
tambah Bastian.

Namun belakangan, selama proses penyidikan kasus tersebut
dilakukan Polda Sulsel mulai dari kepemimpinan Irjen Pol Saleh
Saaf sampai ke Irjen Pol Aryanto Boedihardjo, para tersangka yang
awalnya berjumlah 17 orang dengan jumlah kerugian Rp18,2 miliar
berubah menjadi enam orang dengan jumlah kerugian Rp5,1 miliar dan
keputusan paling akhirnya adalah menghentikan penyidikannya.

"Kalau nanti ditemukan bukti-bukti baru adanya unsur korupsi dalam
kasus ini, Polda siap untuk membuka kembali penyidikannya," kata
Direskrim Polda Sulsel baru-baru ini saat mengumumkan penghentian
penyidikan kasus itu. (T.K-RS/MKS1) (T.R007/B/T010/T010)
05-03-2007 15:08:15

Wednesday, January 31, 2007

PROFIL - MARSMA EDDY SUYANTO MASIH MENANTI MUJIZAT

D0310107001953 31-01-2007 SPK UJP
PROFIL - MARSMA EDDY SUYANTO MASIH MENANTI MUJIZAT


Oleh Rahma Saiyed

Amanah yang diembannya sebagai Koordinator Misi SAR (SAR Mission Coordinator) Pencarian Pesawat Adam Air bukanlah pekerjaan mudah bagi Eddy Suyanto.
Sehari setelah pesawat Boeing 737-400 milik maskapai Adam Air ini "loose contact" dengan menara kontrol (Air Traffic Control-ATC) Bandara Hasanuddin Senin petang, 1 Januari 2007, Eddy yang juga memangku jabatan Komandan Pangkalan TNI-AU Hasanuddin Makassar ini langsung menggelar rapat koordinasi dengan seluruh unsur terkait untuk mencari pesawat nahas itu.
Petunjuk yang digunakan untuk memulai pencarian adalah sinyal Elba (Emergency Locator Beacon) yang dipancarkan pesawat itu dan ditangkap radar SAR Singapura dan Pangkalan Udara TNI AU Hasanudin Makasar.
Sinyal Elba pertama berada pada posisi 3.135.25,7 Lintang Selatan dan 0.119.917 Bujur Timur atau diperkirakan berada di atas Kota Rantepao, Kabupaten Tana Toraja, sekitar 350 kilometer Utara Makassar, ibukota Sulawesi Selatan. Elba kedua berada pada 100 nautical mile - radial 330 derajat di Majene, Sulawesi Barat.
Saat mendapat laporan sinyal Elba di Kecamatan Nuangan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Eddy pun tak tinggal diam.
Tim SAR Gabungan yang dimotori TNI AU mengirim pesawat pengintai jenis Boeing 737 AI-7303 yang dikemudikan Letkol Penerbang Pujianto dengan mengangkut 14 kru untuk mendeteksi signal itu.
Pesawat pengintai tersebut langsung melakukan pengintaian di beberapa titik dugaan jatuhnya pesawat Adam Air di wilayah itu tetapi hasilnya nihil.
Berbagai upaya untuk melacak bekeradaan pesawat dengan 102 penumpang dan awaknya itu terus dilakukan. Bantuan dari beberapa negara seperti Singapore Air Force, Amerika Serikat dan Kanada juga bergabung, bahkan termasuk melibatkan kekuatan supranatural.
Alumni Sekolah Penerbang TNI AU angkatan 25 ini pun mengajak beberapa paranormal untuk mendukung tim SAR, apalagi Wapres HM Jusuf Kalla saat berkunjung ke Posko Induk Pencarian Adam Air Lanud Hasanuddin tanggal 6 Januari 2007 juga meminta agar unsur supranatural tidak diabaikan.
Tim SAR pun mengajak empat anggota jamaah zikir naik pesawat Cassa 616 milik TNI-AL untuk mencari jejak Adam Air. Mereka berangkat dari Lanud Hasanuddin. Ikut dalam rombongan tersebut Marsma Eddy Suyanto, Dandim 1408 Letkol Inf Marga Taufik, dan Danyon Marinir, Mayor Jayus.
Keempat orang yang diikutkan itu berasal dari Lembaga Adat Sulsel sekaligus kelompok zikir Wannurtika Rahmatullah Al Basir An Nur Al Islam. Mereka adalah Andi Muis (ketua), Sulaiman Dg Tata (wakil ketua), Aswar, dan Rahman (anggota).
Dari Lanud Hasanuddin, rombongan itu menuju Uentira, Kecamatan Tavaili, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Wilayah itu dikunjungi berdasarkan keterangan Andi Muis yang mengaku mendapatkan bisikan saat berdoa bahwa pesawat tersebut jatuh di daerah Kebun Kopi, sekitar 50 km dari Palu, Sulawesi Tengah. Namun lagi-lagi, hasilnya nihil.
Eddy yang pernah menjadi instruktur penerbang di Lanud Adi Sucipto ini pun mengaku cemas karena pencarian pesawat Adam Air hingga beberapa hari belum juga membuahkan hasil.
Perwira Penerbang Wing Operasi 300 Kohanudnas tahun 1980 ini pun tiba-tiba mengambil kebijakan mendadak, menggelar zikir pada apel pagi hari.
Sekitar 200 warga Lanud Hasanuddin dan keluarga penumpang Adam Air dikumpulkan di hanggar Skuadron Teknik 044 selama 1,5 jam untuk menggelar zikir dan do'a bersama yang dipimpin Ustad Alimuddin.
Kegiatan ini turut dihadiri pula Ketua Basarnas Bambang Karnoyudho.
"Kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya menemukan Adam Air. Kami sudah mengerahkan seluruh kekuatan dan teknologi, tapi hasilnya tetap nihil. Sembari berusaha, kami juga menyerahkan diri kepada Tuhan agar diberi kemudahan dalam tugas ini," jelas peraih Satya Lencana Dwidya Sistha ini.

Mulai lega

Perasaan yang senantiasa menghantui pun akhirnya bisa diatasi. Eddy cukup lega saat salah seorang nelayan, Bakrie menemukan serpihan pesawat berupa "elevator tail stabilizer" di Kabupaten Barru.
"Alhamdulillah saya merasa sedikit lega saat mengetahui bahwaelevator tersebut adalah milik maskapai Adam Air 737-400," jelas Komandan Wing Taruna AAU tahun 2000 seraya mengakui bahwa dirinya sempat tidak tidur semalaman saat mendapat kabar yang cukup menggembirakan itu.
Berawal dari temuan Bakrie inilah, penyisiran perairan selat Makassar antara Parepare sampai Majene dilakukan secara intensif. Sekitar 200 serpihan bagian-bagian pesawat itu yang dikemudikan Kapten Pilot Refri A Widodo itu ditemukan satu persatu.
"Sound navigation and ranging" (sonar) di atas KRI Fatahillah, KRI Nala dan KRI Pulo Rupat dan USNS Mary Sears dari Amerika Serikat juga berhasil mendeteksi adanya lempengan logam di dasar laut perairan Majene yang tersebar pada areal 8 x 14 mil dengan kedalaman antara 1.200 sampai 2000 meter.
Dengan dibantu peralatan "Towed Pinger Locator" (TPL) milik Amerika Serikat, ditemukanlah kotak hitam pesawat pada dua titik koordinat yang berbeda. "Cockpit Voice Recorder" (CVR) pada koordinat 03.40.22 LS - 118.09.16 BT dengan kedalaman 1900 meter, sedangkan "Flight Data Recorder" (FDR) pada koordinat 03.41.02 LS - 118.08.53 BT dengan kedalaman 2000 meter.
Dengan menggunakan peralatan side scan sonar, ditemukan pula banyak lempengan logam yang diduga serpihan badan pesawat Adam Air pada koordinat 03.40.12 LS - 118.04.12 BT, 03.40.30 LS dan 118.09.30 BT, 03.41.06 LS - 118.09.06 BT dan 03.40.42 LS - 118.08.42 BT.
Logam terbesar yang berhasil terdeteksi dengan ukuran 2,23 meter x 1,05 meter x 0,55 meter pada kedalaman 1.976 meter. Berdasarkan hasil temuan-temuan tersebut, Eddy pun menyatakan bahwa bahwa lokasi jatuhnya pesawat Adam Air ini telah ditemukan.
Seiring dengan hal tersebut, proses pencarian dihentikan untuk kemudian memasuki tahap atau fase kedua yang disebut fase "recovery", dimana tim SAR yang diwakili Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mencari teknologi untuk mengangkat kotak hitam dan badan pesawat itu.
KNKT kini sedang melobi sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Prancis dan Jepang untuk mencari teknologi untuk mengangkat badan pesawat dari dasar laut dengan kedalaman 2000 meter.
"Alhamdulillah, saya sudah bisa tersenyum karena lokasi jatuhnya pesawat Adam Air telah ditemukan," jelas Eddy yang kini tengah menanti kelahiran cucu pertamanya.
Kendati demikian, tugas bos Lanud Hasanuddin yang dikenal "low-profile" ini belumlah berakhir, karena ia masih dibebani tugas dan tanggungjawab untuk mengangkat badan pesawat itu bila teknologinya sudah ditemukan.
Ia masih berharap adanya mujizat agar proses SAR ini bisa tuntas sampai evakuasi badan pesawat dan kotak hitam, seperti diharapkan semua pihak, utamanya para keluarga korban.
Evakuasi ini juga amat penting untuk mengungkap misteri dibalik jatuhnya pesawat tersebut, karena hanya FDR dan CVR itulah yang dapat menyingkap peristiwa yang terjadi di atas pesawat itu.
"Kita berharap semoga Tuhan bisa menunjukkan kekuasaan dan kekuatan-Nya sehingga tim SAR Gabungan bisa menemukan jasad manusia. Saya hanya menunggu mujizat saja," ujarnya dengan mengakui bahwa untuk mengangkat benda-benda penting itu dari dasar laut amatlah sulit, kalau tidak bisa dikatakan mustahil.
Meski kini Eddy sudah mulai bisa tidur lelap, namun ayah dua orang putera dan puteri ini mengaku belum bisa memastikan kapan misi kemanusiaan yang telah diembanya selama 30 hari pertama tahun 2007 ini akan berakhir. (T.K-RS/MKS1/b/T010) (T.K-RS/B/R007/B/T010)
31-01-2007 13:31:07

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Friday, January 19, 2007

MAMPUKAH TPL MENGUNGKAP MISTERI RAIBNYA PESAWAT ADAM AIR?

19-01-2007 PUM UJP
MAMPUKAH TPL MENGUNGKAP MISTERI RAIBNYA PESAWAT ADAM AIR?

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 12.08 Wita pada hari Rabu tanggal 17 Januari 2007, Murray Air, sebuah pesawat kargo carteran milik Perusahaan Mary Aviation mendarat di landasan pacu Bandara Hasanuddin Makassar, tidak jauh dari lokasi Pangkalan TNI AU (Lanud) Hasanuddin.
Tidak lama setelah itu, sejumlah orang berkulit putih dengan pakaian seragam baju kaos bertuliskan 'Phoenix International Worldwide' turun dari atas pesawat itu.
Mereka kemudian menurunkan satu per satu dari sembilan paket alat yang bernama Towed Pinker Locator (TPL) seberat 6,9 ton, lalu diangkut dengan sebuah mobil khusus menuju Lanud Hasanuddin Makassar.
Itulah alat yang dipesan secara khusus oleh pemimpin kapal peneliti oceanologi Amerika Serikat, US Naval Ship Mary Sears, untuk membantu pencarian bangkai pesawat Boeing 737-400 nomor penerbangan KI-574 milik Adam Air yang diperkirakan jatuh ke dasar laut di perairan Selat Makassar sekitar wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Kapal berteknologi canggih yang diawaki 33 orang personil Angkatan Laut negara adidaya tersebut bergabung dengan tim SAR Gabungan pada 9 Januari 2007 untuk mendeteksi temuan logam di daerah laut yang tertangkap sonar KRI Fatahillah di perairan Mamuju.
Saat baru tiba, USNS Mary Sears ini diperlengkapi dengan berbagai alat canggih yang mampu mendeteksi lempengan-lempengan logam yang tertangkap sonar KRI Fatahillah milik TNI AL di perairan Mamuju.
Alat tersebut berupa Control Integrated Survey System (CISS) dan Ocean Data Equipment Operation yang terdiri atas dua multibeam ecosound yang dapat mendeteksi lempengan logam di dasar laut berdasarkan pantulan suara serta Acquisted Dopper Current yang berfungsi mengukur arah dan kecepatan arah arus air di bawah laut dan Conduct Activity and Depth yang bertugas mengukur kecepatan suara, temperatur dan tekanan dalam laut.
Namun setelah bekerja selama satu pekan, berbagai peralatan di atas kapal warna putih dengan panjang 329 kaki (hampir 100 meter) dan berbobot 4.700 ton itu gagal mengenali lempengan-lempegan logam dimaksud.
Pasalnya, daya tangkap sinyal alat ini hanya mampu mendeteksi Underwater Locator Beacon (ULB) yang melengket pada black-box pesawat dengan freqwensi sekitar 33 kilohertz sementara ULB yang melekat pada pesawat Adam Air itu freqwensinya mencapai 37,5 kilohertz.
Selain itu, kekuatan alat ini hanya mampu mendeteksi lempengan logam yang berada pada kedalaman 800 meter dari permukaan laut (dpl), sementara letak lempengan logam yang direkam sonar KRI Fatahillah itu diperkirakan berada pada kedalaman 1.700 meter dari permukaan laut.
Itulah sebabnya, kapal yang disebut-sebut sebagai kapal yang memiliki teknologi pemetaan bawah laut tercanggih di dunia itu kemudian memesan sebuah alat baru yang disebut Towed Pinker Locator (TPL).
Setelah dinaikkan ke USNS Mary Sears yang sandar di dermaga Soekarno-Hatta Makassar dalam pengawasan ekstra ketat aparat keamanan Indonesia, TPL itu kemudian dirakit oleh para awak, dan pada Jumat sekitar pukul 10.00 Wita, kapal Mary Sears itu kemudian kembali berlayar menuju perairan Majene, Sulawesi Barat untuk melanjutkan pencarian.
TPL diyakini mampu menangkap sonar berdasarkan pantulan suara hingga mencapai 50 kilohertz dan merekam gambar yang terdapat di dasar laut hingga kedalaman 6.000 meter.
Alat ini khusus didatangkan langsung dari Amerika Serikat setelah perlengkapan yang dibawa USNS Mary Sears tidak mampu mengidentifikasi lempengan logam yang berhasil ditangkap sonar (sound, navigation and ranging) KRI Fatahillah dan KRI Nala pada titik koordinat 02.35.18 LS dan 118.48.36 BT, koordinat 02.36.12 LS dan 118.46.42 BT serta pada koordinat 02.31.30 LS dan 118.33.40 BT di wilayah Perairan Mamuju serta koordinat 03.40.24,5 LS dan 113.10.58,2 BT di Perairan Majene.
"Mudah-mudahan alat ini bisa menemukan segera bodi pesawat dan kotak hitam pesawat Adam Air yang hilang sejak 1 januari 2007," ujar Koordinator SAR Gabungan (SAR Mission Coordinator/SMC), Marsekal Pertama Eddy Suyanto.
Peralatan canggih dari Amerika Serikat ini memiliki kemampuanmenangkap sinyal Underwater Locator Beacon (ULB) yang melekat pada kotak hitam pesawat mulai dari 0-50 kilohertz dan diperlengkapi dengan alat perekam/kamera bawah laut yang mampu memberikan gambar serta melihat benda yang berada dalam dasar laut hingga kedalaman 6.000 meter.
Eddy yang juga Komandan Pangkalan TNI AU Hasanuddin menuturkan, alat deteksi AS yang berfungsi menangkap sinyal frekuensi ULB pesawat akan diturunkan ke dasar laut tempat di mana lempengan logam yang ditangkap sonar KRI itu dengan menggunakan kabel Towed Pinker Locator (TPL) dalam frekuensi aktif dan pasif.
Bila TPL berhasil menangkap sinyal yang dipancarkan UBL kotak hitam pesawat, maka satelit yang berada di atas kapal akan menunjukkan letak koordinat sinyal tersebut. TPL ini juga akan merekam gambar lempengan logam yang dapat dilihat langsung dari layar monitor yang berada di atas kapal.
Belum menjamin

Kendati demikian, Eddy maupun Kepala Basarnas, Bambang Karnoyudho, belum bisa memberikan jaminan apa-apa bahwa peralatan canggih milik AS ini akan mampu menguak misteri hilangnya pesawat Adam Air yang mengangkut sekitar 102 penumpang termasuk awaknya.
"Alat ini masih terkendala dalam menemukan bodi dan kotak hitam pesawat bila badan pesawat tersebut ternyata masuk ke dalam lumpur di bawah laut," kata Eddy, seraya meminta dukungan serta doa masyarakat agar pesawat jenis Boeing 737-400 ini bisa segera ditemukan bersama dengan seluruh penumpangnya.
Alat ini juga masih bisa mendeteksi benda yang terbenam hingga 30 meter di dalam lumpur karena peralatan tersebut dilengkapi dengan Sub Button Profilling untuk mendeteksi ketebalan lumpur serta Acquited Dopper Current yang berfungsi untuk mengukur kecepatan dan arah arus air.
"Saya tidak tahu apakah masih ada alat lain yang akan didatangkan bila kelak TPL dan komponennya ini masih belum juga mampu menguak keberadaan pesawat yang telah tiga pekan dicari itu," kata Eddy.
Sementara itu, sejumlah serpihan pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 574 dengan rute Surabaya-Menado ini juga belum mampu menjadi petunjuk dalam menjawab teka-teki raibnya salah satu aset PT Sky Connection Adam Air ini.
Bahkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) pun belum bisa menganalisis penyebab insisden pesawat ini berdasarkan dari hasil investigas yang dilakukannya terhadap ratusan serpihan yang ditemukan tim SAR Gabungan di laut.
Salah seroang investigator senior dari KNKT, Joseph Tumenggung mengatakan bahwa hingga saat ini, pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan sementara mengenai insiden pesawat tersebut meski telah ditemukan ratusan serpihan.
Dari ratusan serpihan itu, KNKT hanya mengandalkan elevator bagian belakang dan spoiler sayap pesawat yang telah ditemukan untuk dianalisis secara cermat namun bukti-bukti itu belum juga menjawab teka-teki jatuhnya pesawat Adam Air.
Bahkan dalam kasus ini, KNKT telah meminta bantuan Singapura melalui Aircraft Accident Investigation Bureau of Singapore (AAIB) untuk bersama-sama menguak misteri pesawat Adam Air yang diperkirakan jatuh di sekitar perairan wilayah Sulawesi Selatan dan Barat.
"Kita bisa melakukan rekonstruksi bila dari serpihan-serpihan yang ditemukan itu mencapai sekitar 90 persen," katanya. (T.K-RS*MKS1)
(T.R007/B/K002/K002) 19-01-2007 20:12:52

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Wednesday, January 17, 2007

BERKAH BAGI KANTIN BU SURI DI BALIK RAIBNYA ADAM AIR

17-01-2007 SPK UJP
BERKAH BAGI KANTIN BU SURI DI BALIK RAIBNYA ADAM AIR


Oleh Rahma Saiyed

Tidak hanya Bakri (53), nelayan dari dusun Loji'E, Kecamatan Mallusetasi, Kabupaten Barru, Sulsel yang ketiban 'durian runtuh' karena mengantongi Rp50 juta atas temuannya berupa serpihan sayap belakang kanan pesawat Adam Air KI-574 yang hilang sejak 1 Januari 2007.
Tetapi, keberkahan serupa juga dinikmati Bu Suri (35), pemilik kantin yang sehari-hari beroperasi di dalam kawasan Pangkalan TNI Angkatan Udara Lanud) Hasanuddin Makassar.
Sejak pesawat Adam Air Boeing 737-400 ini dinyatakan hilang di wilayah udara Sulawesi Selatan dan Barat, Lanud Hasanuddin Makassar yang biasanya hanya didatangi oleh personil berseragam biru tua dan muda ini, tiba-tiba menjadi ramai dikunjungi para pemburu berita, baik dari luar maupun dalam Kota Makassar.
Para wartawan menggunakan kantin Bu Suri ini untuk melepas lelah usai mengirim laporannya ke redaksi masing-masing, atau untuk mengaso guna menunggu keterangan pers dari pihak SAR yang dipimpin Dan Lanud, Marsma Eddy Suyanto.
Kantin Bu Suri yang sederhana namun bersih ini rasanya menjadi tempat yang paling enak untuk bercanda dan berdialog di kalangan wartawan sambil mengganjal perut dengan hidangan-hidangan sederhana dan murah. Spontan kantin yang biasanya menjadi tempat makan para anggota TNI-AU ini, tiba-tiba berubah menjadi 'sekretariat' para wartawan pada waktu-waktu makan pagi dan siang.
Tidak heran, penghasilan yang diperoleh Bu Suri yang akrab ini meningkat menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan biasanya.
Dia mengaku biasanya hanya memperoleh sekitar Rp100 ribu per hari, tetapi setelah pesawat Adam Air ini hilang dan Lanud Hasanuddin jadi Posko SAR, pendapatannya kini rata-rata mencapai Rp300 ribu per hari.
Di dalam kawasan Lanud Hasanuddin Makassar ini, terdapat beberapa kantin, tetapi para wartawan lebih senang mendatangi kantin Bu Sur karena harganya lebih murah.
Bila memesan 'intel' atau indomie telur misalnya, cukup mengeluarkan Rp3.000, sedangkan untuk jenis makanan tradisional lainnya seperti satu porsi nasi lengkap dengan ikan dan sayur mayurnya, hanya sekitar Rp5.000 - Rp6.000/porsi.
Karena itu, tidak heran bila daftar harga dan menu yang ditawarkan kantin Bu Sur sesuai dengan selera sebagian wartawan termasuk para anggota TNI AU dan karyawan yang bertugas di Lanud Hasanuddin ini.
Meski tiba-tiba omzet dagangannya ini meningkat drastis, namun Bu Suri tidak ingin memanfaatkan peluang tersebut untuk menaikkan harga, kendati beberapa orang telah menyarankan kepadanya untuk 'mempermainkan' harga dan memanfaatkan situasi seperti ini.
"Saya kasihan lihat mereka, tidak tega menaikkan harga. Biarlah harganya tetap seperti ini, yang penting lakunya banyak, sehingga pendapatan tetap naik," ujar Bu Suri dengan menambahkan, kalau ia menaikkan harga, bisa-bisa pengunjung beralih ke tempat lain sehingga omzetnya bisa jatuh kembali.
Salah satu kekurangan dari kantin yang dikelola isteri Sersan Suryanto ini adalah tidak selalu tersedia makanan ringan yang sering dicari-cari pelanggan yakni pisang goreng.
Ibu yang tinggal di asrama TNI AU ini mengaku tidak bisa menjual pisang goreng setiap hari, karena Pasar Maros tempatnya berbelanja hanya buka pada hari Selasa dan Kamis, sehingga hanya pada hari itulah ia bisa berbelanja pisang untuk digoreng.
"Pisang goreng tidak ada karena hari ini bukan hari pasar," kata Sur dengan senyum yang menghiasi wajahnya, ketika salah seorang pengunjung memesan pisang goreng.
Saking seringnya para pelanggan meminta berbagai macam makanan dan minuman ringan seperti sprite, coca cola, fanta, fresh tea dan makanan ringan lainnya, Bu Suri kadang memaksakan diri untuk berbelanja ke Kota Makassar dalam jumlah yang banyak.
Meski demikian, para wartawan dan sejumlah pelanggannya tetap setia mengunjungi kantin tersebut. Tidak ada memang yang spesial dengan kantin Bu Suri yang telah mendapat kepercayaan dari istri Danlanud ini untuk melayani para tamu kehormatan TNI AU di Lanud Hasanuddin Makassar.
Bahkan salah seorang wartawan mengaku telat menemukan kantin ini. "Seandainya saya mengetahuinya lebih dahulu, mungkin uang saya tidak cepat habis hanya untuk membeli makanan dan minuman dalam kawasan Pangkalan TNI AU Hasanuddin ini," katanya.
Pasalnya, sebelum perutnya "tertambat" di kantin, wartawan dari media nasional, Kasim (nama samaran) ia terpaksa merogoh kantongnya Rp12 ribu sekali makan.
Ia mengaku merasa tertolong dengan kehadiran kantin yang dikenal murah meriah ini.
Salah seorang wartawan yang sengaja dikirim dari Jakarta untuk peliputan musibah Adam Air di Kota Makassar juga menuturkan hal yang sama bahwa dirinya lebih senang makan di kantin ini dibanding harus memesan makanan di hotel mengingat tarifnya pun jauh lebih mahal dan kurang mengeyangkan. Sebelum dan setelah jumpa pers digelar di Posko Adam Air Lanud Hasanuddin, biasanya Bambang menyempatkan mengunjungi kantin untuk makan atau sekedar minum kopi hangat. "Bila pagi-pagi tidak sempat sarapan di penginapan, biasanya makan di kantin ini sambil menunggu jumpa pers," ujarnya dengan tertawa.
Hal senada diakui salah seorang anggota TNI-AU, Prada Agus yang menjadikan kantin ini sebagaia tempat sarapan. Maklum, lelaki berusia 24 tahun ini belum berkeluarga dan nyaris tidak memiliki waktu untuk menyiapkan/membuat sarapan.
(T.K-RS/B/K002/K002) 17-01-2007 01:01:13

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Saturday, January 13, 2007

BAKRI AKAN BELI PERAHU DENGAN UANG DARI WAPRES

2007 SPK UJP
BAKRI AKAN BELI PERAHU DENGAN UANG DARI WAPRES


Oleh Rahma Saiyed

Seusai menemukan serpihan badan pesawat Boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adam Air, yang sempat hilang selama beberapa hari, Bakri, nelayan asal dusun LojiE, Desa Bojo, Kecamatan Malusetasi, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, mendapat rejeki yang tak terduga.
Lelaki berusia 53 tahun itu merupakan penemu pertama serpihan badan pesawat Boeing 737-400 milik maskapai penerbangan Adam Air nomor penerbangan KI 574 yang hilang bersama 102 penumpang dan awaknya dalam penerbangan dari Surabaya ke Manado, Senin 1 Januari 2007.
Mata Bakri berkaca-kaca saat menerima sebuah amplop berisi uang tunai Rp50 juta dari Komandan Pangkalan Udara Hasanuddin Marsma Eddy Suyanto di Posko SAR Gabungan, Hasanuddin, Makassar, Sabtu.
Uang itu merupakan hadiah Wakil Presiden atas jasanya melaporkan benda berupa ekor penyeimbang bagian belakang kanan (tail horizontal stabilizer) pesawat yang ditemukannya pada Rabu (10/1).
"Terima kasih Bapak Jusuf Kalla," ujarnya dengan mata berkaca-kaca dan memerah usai menerima amplop tersebut.
Bakri yang didampingi seorang tetangganya, Abdillah dan Marsma Eddy Suyanto di hadapan para wartawan usai menerima penghargaan tersebut, dengan polos mengatakan, ia akan menggunakan uang tersebut untuk membeli perahu yang dilengkapi dengan mesin agar ia tidak bersusah payah lagi mengayuh sampan untuk mencari ikan di laut.
"Saya mau beli perahu untuk dipakai cari ikan di laut," ujar ayah lima orang anak ini dan menambahkan bahwa ia tidak akan meninggalkan profesi sebagai nelayan yang telah digelutinya selama ini meski telah mendapatkan rezeki nomplok.
Perahu yang dilengkapi dengan mesin tersebut akan mampu meningkatkan pendapatannya yang selama ini sekitar Rp30.000/hari.
Mengenai sampan lama yang telah menghidupinya selama ini, Bakri mengaku belum tahu mau.
Suami Masulang (51) yang memiliki nama lengkap Bakri Bin Hafifah itu mengisahkan, sebelum dia menemukan sayap pesawat Adam Air, salah satu jaringnya raib terbawa arus laut saat menjala di sekitar Pantai Loji'E, Desa Bojo, tempat tinggalnya, Senin (1/1) sekitar pukul 14.00 Wita.
Hari itu bertepatan dengan ketika pesawat Adam Air nomor penerbangan KI 574 rute Surabaya-Manado kehilangan kontak dengan menara kontrol (Air Traffic Control-ATC) Bandara Hasanuddin.
Ia pun segera pulang setelah mengetahui jaringnya terbawa arus gelombang pantai Loji'E apalagi cuaca pada saat itu memang sangat buruk. Beruntung Bakri masih memiliki jaring penangkap ikan (bubu) yang terbuat dari bambu.
Pada tanggal 9 Januari sekitar pukul 15.00 Wita, Bakri kembali melaut karena kondisi cuaca cukup bersahabat. Seperti kebiasaannya, ketika Bakri hendak pulang ke rumahnya, ia terlebih dahulu memeriksa bubu tersebut, untuk mengetahui ada tidaknya ikan yang terjaring.
Namun tiba-tiba ia menemukan sebuah benda mirip papan tripleks tersangkut pada bubu tersebut. Ia pun megambilnya dan bergegas pulang ke rumahnya tanpa menghiraukan bubunya lagi.
Ia menyimpan benda itu di bawah kolong rumah panggung yang terbuat dari kayu, tempat tinggal mereka selama ini, tanpa menyangka sama sekali bahwa benda itu ternyata serpihan badan pesawat.
Bakri juga mengaku tidak tau bahwa dunia sedang digegerkan oleh hilangnya pesawat Adam Air di wilayah Sulawesi dan telah 10 hari dicari namun belum juga ada tanda-tanda akan ditemukan.
Untuk mengetahui benda apa gerangan yang ditemukannya itu, Bakri pun kemudian membangunkan istrinya untuk memberitahukan Abdillah, salah seorang tetangga mereka yang berprofesi sebagai guru SD di dusun tersebut.
Sang guru itu pun meneliti barang tersebut dan memberitahukan bahwa benda itu adalah bagian dari pesawat yang diyakini merupakan pesawat Adam Air yang hilang.
Pada 10 Januari, Bakri dan Abdillah kemudian memberitahukan penemuannya itu ke polisi.
Kepala Polisi Wilayah Sulsel Komber Genot Haryanto, setelah meyakini benda itu bagian dari pesawat, mengontak Komandan Lanud Hasanuddin Marsma Eddy Suyanto, untuk melaporkan ikhwal temuan Bakri tersebut.
Kombes Genot Haryanto mengaku langsung yakin bahwa barang ini sangat berharga karena akan menjadi petunjuk awal untuk membuka tabir hilangnya pesawat tersebut.
Sebuah tim dari Lanud Hasanuddin kemudian dikirim untuk menjemput benda itu guna diteliti, dan benda itu tiba di Lanud Kamis (11/1) sekitar pukul 03.00 Wita.
Setelah melalui penelitian dan konfirmasi dengan pihak Adam Air, Dan Lanud Marsma TNI Eddy Suyanto akhirnya mengumumkan kepada pers Kamis pagi bahwa benda itu adalah bagian dari pesawat Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan KI-574 yang dicari-cari selama 10 hari terakhir ini.
Serpihan itu kemudian terbukti menjadi awal dari menemuan bagian lain dari pesawat yang hilang tersebut. (T.K-RS/B/s018/s018)
13-01-2007 13:34:42

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA

Monday, January 8, 2007

ABU ALI BARU RAJIN SALAT DI ATAS SEKOCI PENYELAMAT

08-01-2007 PUM UJP
ABU ALI BARU RAJIN SALAT DI ATAS SEKOCI PENYELAMAT

Abu Ali (26) tak henti-hentinya mengucapkan kata 'Alhamdullillah' setelah berhasil diselamatkan KM Mandiri VI setelah terombang ambing di lautan selama 10 hari bersama 14 penumpang dan ABK KM Senopati yang tenggelam 30 Desember 2006 di perairan Mandalika, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengakui bahwa dirinya benar-benar takjub saat doa dan usaha mereka selama berada di lautan lepas untuk selalu melaksanakan salat berjamaah di atas perahu sekoci, akhirnya dikabulkan Sang Maha Kuasa.
"Padahal saya selama ini jarang sekali solat," kata Ali yang berjanji akan mencium kaki ibunya, Muntama (50), bila kembali ke daerah asalnya, Lamongan, Jawa Timur. Ia sungguh yakin bahwa doa ibunyalah yang membuat dirinya selamat dari bencana yang amat menakutkan itu.
Dalam perjalanan dari Pelabuhan Makassar menuju Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo menggunakan ambulans, Ali menuturkan bahwa saat KM Senopati oleng akibat diterjang badai angin dan ombak, beberapa penumpang menceburkan diri ke laut sebelum kapal itu tenggelam. Sebagai awak kapal, Ali langsung melepaskan perahu sekoci dan segera naik ke atasnya yang kemudian disusul sejumlah penumpang dan awak kapal lainnya.
Satu persatu, Ali bersama dengan mereka yang telah berada di atas perahu sekoci itu, menarik beberapa penumpang yang berada di sekitarnya hingga berjumlah 15 orang. Mereka pun tidak tahu harus berbuat apa lagi selain pasrah kepada Tuhan dan ikhlas mengikuti ke mana saja ombak dan angin membawa mereka. Selama 10 hari berada di lautan, Ali bersama dengan 14 teman seperjuangan hanya makan biskuit yang tersimpan dalam sekoci. "Kami makannya sedikit-sedikit, satu biskuit dibagi menjadi empat hingga enam potong," ujar ABK yang baru sembilan bulan hijrah ke PT Prima Vista, pemilik KM Senopati Nusantara yang tenggelam itu.
Untuk tetap menjaga kesehatan, korban selamat ini hanya mengandalkan air hujan. Pembagian air minumnya pun digilir satu per satu dengan menggunakan penutup senter atau dengan tutup botol aqua. Bila menjelang malam tiba, Ali mengaku sangat gembira melihat ada cahaya di tengah lautan dan berharap cahaya itu datang mendekat ke arah mereka dan segera memberi pertolongan.
Tetapi Ali bersama dengan rekan-rekannya yang lain tiba-tiba menjadi sedih saat cahaya itu hilang di kegelapan malam. Hingga suatu hari, tepat tanggal 7 Januari sekitar pukul 21.00 Wita, selepas mereka melaksanakan salat Isya secara berjamaah, tiba-tiba muncul sebuah cahaya lagi.
Cahaya itu semakin mendekat ke arah mereka hingga akhirnya tampak jelas terlihat sebuah kapal. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka segera meniupkan sempritan. Kapal itu kemudian semakin mendekat ke arah mereka hingga akhirnya datang memberikan pertolongan. Satu persatu, korban KM Senopati ini segera dievakuasi. "Perasaan lega dan rasa syukur yang tak terhingga sulit kami ungkapkan," ujar Ali seraya mengatakan bahwa perjuangan mereka mengarungi lautan dengan arah yang tidak jelas akhirnya membuahkan hasil.
Air mata Ali tiba-tiba menetes saat mengingat saudara seperjuangannya, Agus (18) asal Solo, meninggal dalam perjalanan setelah berhasil dievakuasi. "Dia memang punya penyakit asma," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Setidaknya, kata Ali, musibah ini memiliki hikmah tersendiri bagi dirinya. Selain mendapatkan hidayah, dia juga mendapat banyak saudara, saudara yang menemaninya dalam perjuangan mengarungi lautan yang luas ini.
Ali sempat berpikir mereka akan terdampar di Pulau Selayar dengan pertimbangan bahwa saat ini memasuki musim barat dengan arah angin ke timur. Dia mengakui, dua kali sekocil yang mereka tumpangi itu nyaris tiba di daratan, tetapi tiba-tiba datang angin dan ombak yang menghempaskan mereka hingga kemali ke lautan.
Yang jelas katanya, sebagai tanda syukurnya, Ali hanya akan bersimpuh di hadapan ibundanya tercinta yang kini telah menjanda. Berbeda halnya dengan Naslim (19) yang rencananya akan membuat syukuran bersama dengan seluruh anggota keluarga bila telah tiba di kampung halamannya.
Lelaki yang beralamat di Demak ini mengaku benar-benar tidak percaya bila dirinya bisa selamat bersama dengan ke-13 rekannya yang lain. Pasalnya, kata Naslim, saat KM Senopati itu tenggelam, dia tertidur lelap dan baru tersadar saat dirinya sudah berada di air. "Untung saya ditarik oleh seseorang yang telah berada di atas sekoci," ujarnya.
Tetapi yang jelas, katanya, keselamatan mereka itu tidak terlepas dari doa mereka dengan salat berjamaah. Hal ini diakui pula Abdul Wahid (24) asal Kudus. Dia mengakui bahwa keselamatan mereka itu tentunya tidak terlepas dari doa orang-orang yang mereka cintai. Wahid sendiri mengaku stres selama terombang-ambing di lautan 10 hari. Namun dia kembali bangkit dan terus berjuang, optimistis bisa selamat setelah mengingat istri dan anaknya yang baru berumur lima bulan. Seolah-olah jiwa-jiwa orang yang disayanginya itu datang memberikan spirit. Padahal, katanya, saat KM Senopati itu teggelam, ia terjebak di dalam kapal, tetapi beruntung dia berhasil menyelamtkan diri dengan cara berenang, mencari celah-celah jalan keluar dari kungkungan kapal nahas itu. Dijemput Gubernur Sulsel Abu Ali, Naslim dan Abdul Wahid adalah tiga dari 15 penumpang KM Senopati Nusantara yang diselamatkan KM Mandiri Enam pada Minggu malam pukul 21.05 Wita. Mereka dievakuasi ke Makassar, Sulawesi Selatan, dan tiba di Pelabuhan Soekarnno-Hatta Makassar, Senin petang, namun seorang di antaranya meninggal dunia di atas kapal tersebut sebelum merapat di pelabuhan. Gubernur Sulsel HM. Amin Syam, Kapolda Sulsel Irjen Pol Aryanto Boedihardjo dan Wakil Walikota Makassar Andi Hery Iskandar menjemput para korban di tangga kapal di dermaga Soekarno-Hatta pada pukul 17.30 Wita. Di dermaga, sebanyak 16 ambulans telah menanti. Para korban ditandu dari atas kapal oleh tim relawan dan langsung masuk ke dalam ambulans yang kemudian membawa mereka ke Rumah Sakit Wahidin Soedirohusodo untuk mendapat perawatan. Sementara itu, jenazah Agus DH (18) asal Solo dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk diotopsi. Nama-nama para korban tersebut seperti tercantum dalam daftar yang dibagikan Basarnas kepada wartawan masing-masing Sunaryo asal Semarang, Abu Ali (Lamongan), Adi Kurniawan (Brebes), Rachim (Kolaka, Sultra), keempatnya adalah ABK kapal nahas tersebut. Sementara ke-11 penumpangnya adalah M. Maslim (Demak), Fanik Gunawan (alamat tidak jelas), Baiman (Cilacap , Sigit Hariyanto (Pangkalan Bun/Kalteng), Abdul Wahid (Kudus), Roni (Demak), Sarito (Pekalongan), Sugiyono (Kudus), Suriani (Dinas Pertanian Kalteng), Agus DH (Solo-meninggal) dan Suryadi (Pekalongan). Mualim II KM. Mandiri Enam Eko Supriantono kepada wartawan menjelaskan, saat mereka melintas di sekitar pulau Talak dekat Selat Makassar pukul sekitar pukul 21.05 Wita, jurumudi jaga dan perwira jaga mendengar ada orang meniup pluit lalu berteriak-teriak minta tolong.
Kedua ABK itu kemudian melaporkan hal itu kepada nakhoda Amirullah Kamin yang kemudian memerintahkan jurumudi untuk melakukan manuver dan mencari sumber suara.
Para ABK kemudian menemukan sebuah sekoci penyelamat (life craft) terapung-apung berisi 15 orang yang terus berusaha mendayung untuk mendekati kapal. "Para korban itu kemudian kami angkat satu per satu termasuk 'life-craft' yang mereka tumpangi sejak musibah itu terjadi 29 Desember 2006," ujarnya dan menambahkan, upaya penyelamatan itu hanya berlangsung sekitar 30 menit, lalu mereka melanjutkan pelayanan ke Makassar. Kondisi para korban saat ditemukan, ujar Eko, semuanya dalam keadaan lemah karena kekurangan cairan dan kulit terkelupas akibat panas matahari, namun Agus (18) asal Solo memang dalam kondisi yang agak kritis.
"Sampai di atas kapal, mereka kami beri minum, makan dan mengganti pakaian-pakaian mereka, sehingga kondisi mereka berangsur pulih. Namun tiba-tiba, tadi pagi, Agus mengalami sesak napas dan akhirnya meninggal dunia," ujar Eko dan mengatakan, menurut korban ia memang menderita penyakit asma. Mengutip pengakuan para korban, Eko menyebutkan, beberapa hari setelah kapal yang memuat 600 penumpang lebih itu tenggelam di perairan Mandalika, Kabupaten Jepara hari Jumat (29/12), ada sebuah kapal asing melintas di dekat mereka, namun rupanya kapal itu tidak mendengarkan teriakan mereka sehingga kapal itu berlalu tanpa memberi pertologan. Sejak kapal itu tenggelam, ke-15 penumpang itu memang berada dalam satu life-craft itu, dan hingga KM Mandiri Enam milik PT. Gurita Lintas Samudera, mereka semua dalam keadaan selamat. KM. Mandiri VI bertonase 1.600 GRT dengan panjang 126 meter membawa 27 ABK itu berangkat dari Probolinggo, Jawa Timur hari Sabtu (6/1) dengan tujuan akhir Halmahera, Maluku, dan berniat singgah ke Makassar untuk mengisi air dan bahan bakar. (T.K-RS/B/K002/K002) 08-01-2007
23:49:43

Database Acuan Dan Perpustakaan LKBN ANTARA